Feeds:
Posts
Comments

Pembangunan pelabuhan dewasa ini sudah semakin banyak. Hampir seluruh wilayah pesisir di Indonesia mulai membangun pelabuhan, baik itu pelabuhan perintis ataupun pengembangan pelabuhan yang telah ada karena tidak mencukupi lagi kapasitasnya. Memang dengan dibangunnya sebuah pelabuhan akan memiliki dampak positif bagi daerah tersebut karena tentu akan menambah aktivitas ekonomi disana.

Nah, tentu dalam membangun sebuah pelabuhan ada langkah-langkah yang perlu dilakukan sehingga pelabuhan tersebut bisa dibangun. Saya akan sedikit berbagi mengenai proses membangun pelabuhan secara umum yang pada prinsipnya didasarkan pada PP No 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan.

Pertama, untuk membangun pelabuhan perlu ada yang namanya Studi Kelayakan (Feasibility Study). Orang-orang biasa menyebutnya FS. Nah dalam dokumen FS ini, dijelaskan mengenai kelayakan dari dibangunnya sebuah pelabuhan. Aspek yang ditinjau meliputi aspek ekonomi, finansial, kebijakan, dan operasional.

Aspek ekonomi dibahas bagaimana akan menimbulkan manfaat bagi daerah yg akan dibangun pelabuhannya. Sedangkan aspek finansial memaparkan bagaimana investor akan mendapatkan kembali manfaat dari hasil investasinya. Lalu aspek kebijakan, menjelaskan apakah pembangunan ini sejalan dengan kebijakan dari pemerintah pusat, sesuai dengan tata ruang wilayah nasional dan daerah. Dan aspek operasional adalah apakah secara teknis dan operasional, pelabuhan tersebut dapat dibangun. Dari aspek teknis ini pun akan mengeluarkan gambaran layout dari pelabuhan itu dan diperuntukkan untuk kapal seberapa besar. Beginilah garis besar isi dari dokumen FS. Apakah pelabuhan ini memang layak untuk dibangun atau tidak..

Kedua, Jika sudah selesai dokumen FS, maka perlu dibuat juga rencana induk pelabuhan atau biasa disebut masterplan. Di dalam masterplan inilah rencana pengembangan dan peruntukkan wilayah kerja pelabuhan disekitarnya akan seperti apa dalam 5, 10, 20 tahun mendatang… Begitu juga dalam dokumen ini, dijelaskan mengenai UKL-UPL/AMDAL dari pembangunan pelabuhan ini. Sehingga dalam masterplan ini akan terlihat rencana pengembangannya dan bagaimana tata guna tanahnya sehingga tidak mengganggu daerah-daerah lainnya. Oleh karena itu diperlukan juga DLKR (Daerah Lingkungan Kerja) dan DLKR (Daerah Lingkugnan Kepentingan) dari pelabuhan tersebut.

Bersamaan dengan rencana induk pelabuhan, maka dokumen desain pelabuhannya pun bisa dibuat atau biasa disebut Survey, Investigation, dan Design (SID). Dalam dokumen ini, desain secara teknis dibuat, mulai dari survey geotekniknya. Oya, untuk survey topografi dan batimetri, dilakukan ketika akan menyusun FS.. Survey geotek ini dilakukan ketika layout pelabuhan tersebut sudah fix. Selanjutnya desain strukturnya pun dilakukan sehingga, dokumen akhir dari SID ini adalah laporan final yang terdiri dari Laporan Survey, Laporan Detail Engineering Design (Perhitungan teknis), Album gambar, Spesifikasi teknis, serta RAB-nya.

Begitulah secara umum proses dalam membangun pelabuhan. Mudah-mudahan bermanfaat.

Kepelabuhanan…

Dunia kepelabuhanan memang mulai memberikan ketertarikan bagi diri saya. Selama beberapa bulan berkecimpung di

The Biggest Containership in The World

sebuah konsultan, saya mulai belajar bagaimana dunia pelabuhan ini, mulai dari aspek teknis membangunnya, hingga dengan sistem yang ada di dalamnya. Masih awal memang, tapi ini semua sangat menarik bagi saya.

Apa yang membuat saya tertarik? Pertama, pelabuhan adalah suatu bentuk karya infrasturktur dalam dunia teknik sipil. Pelabuhan merupakan suatu infrastruktur yang cukup unik dengan keberadaannya. Kapal-kapal besar yang mengangkut container dan berlabuh pada sebuah struktur dermaga, lalu adanya alat-alat pengangkut container itu, seperti crane yang lebih menyerupai sebuah robot besar, menjadikan pelabuhan cukup menarik di pandang. Apalagi melihat pelabuhan-pelabuhan besar di dunia.

Kedua, Pelabuhan itu berhubungan dengan air. Jelas, karena pelabuhan merupakan sarana dan prasarana transportasi dan perdagangan di “dunia” air. Air adalah unsur terbanyak dari planet ini. Sekitar 70% unsur prnyusun bumi ini terdiri dari air. Begitu juga dengan tubuh manusia yang unsur penyusun mayoritasnya adalah air. Apa artinya ini? Bagi saya, bisa jadi dunia kepelabuhanan dapat memberikan manfaat cukup besar bagi bangsa ini. Aktivitas ekspor dan impor, serta sebagai jalur perdagangan laut, akan sangat berdampak positif bagi perekonomian negara.

Ketiga, dalam pembangunan suatu pelabuhan, dibutuhkan berbagai disiplin ilmu. Apalagi dalam skala yang cukup besar. Membangun pelabuhan membutuhkan ahli teknik sipil, baik dalam bidang struktur, geoteknik, transportasi, sumber daya air, dan manajemen konstruski. Selain itu bidang kelautan dan lingkungan juga memiliki peranan penting dalam merealisasikannya.

Saya memang masih perlu banyak belajar dalam menekuni dunia pelabuhan ini. Saya sangat berharap pembangunan sebuah pelabuhan itu memang untuk benar-benar memberikan manfaat bagi sesama dan berkontribusi terhadap perekonomian bangsa.

Di tengah perjalanan bersepeda menuju kampus pada hari sabtu ini, saya melihat seorang Bapak tua dengan gerobaknya, sedang duduk di trotoar. Bapak itu terlihat lelah, hingga saya sempat melihatnya tertidur dalam duduknya. Bapak itu memejamkan matanya sejenak, terlihat sedang melepas lelahnya.

Saya berada di depannya, sekitar 5 meter. Saya memperhatikan bapak itu dari sepeda.  Pasti ia telah berjualan sejak pagi dengan mendorong gerobaknya itu yang saya kira tidak ringan. Saat itu saya masih diam.

Tak lama kemudian, ada mobil yang berhenti dekat gerobak Bapak tadi. Lalu keluar dari bangku supir, seorang bapak yang menghampiri si Bapak penjual ini. Terdengar oleh saya, dia menanyakan tentang suatu tempat. Lalu dengan semangat si Bapak tua penjual tadi menjelaskan sambil menunjuk dengan tangannya. Padahal baru saja dia tertidur sebentar. Tapi ia menjelaskannya dengan semangat dan tidak terlihat malas.

Saya terharu melihatnya. Di tengah kelelahannya, dia tetap bersemangat untuk membantu sesama. Luar biasa. Bapak tadi mengucapkan terima kasih dan kembali mengendarai mobilnya. Lalu saya menghampirinya.

Tanpa bermaksud untuk menguji, tapi saya menanyakan arah juga. Saya bertanya tentang arah kampus saya – yang sebetulnya sudah saya ketahui. Saya sempat kebingungan untuk bersikap seperti apa. Tapi saya juga ingin membantunya. Lagi, dia pun dengan semangat menunjukkan arah itu kepada saya. Cukup jelas dia menerangkannya. Luar biasa.

Saya berterima kasih dan mulai mengajaknya mengobrol. Saya menanyakan apa yang sedang dijualnya. Saya bertanya berjualan dari jam berapa dan sudah berapa yang terjual. Yang membuat saya semakin terharu adalah saat ia mengucapkan “Alhamdulillah” dengan dagangannya yang baru terjual dua barang. Tapi dia tetap bersyukur tentang apa yang telah dicapainya hari ini. Di tengah kesulitannya, dia tetap bersyukur. Saya belajar darinya. Bersyukur itu ternyata tidak hanya saat senang, tapi juga pada saat susah.

Akhirnya saya membeli sebuah kemoceng darinya. Saya ingin membantunya. Dan saya memberikan pecahan terbesar dari dompet saya, tanpa mengharap kembalian darinya. Semoga bisa bermanfaat baginya. Saya bersyukur bisa bertemu dengan Bapak penjual yang sangat tegar ini dan masih terus mau membantu sesama walaupun badan sudah cukup lelah.

Alhamdulillah, doa mengalir dari mulut Bapak itu. Dan saya pun berdoa untuknya. Berdoa untuk keluarganya. Semoga beliau senantiasa diberkahi oleh Allah. Seorang Bapak yang senantiasa menghindari dari meminta-minta. Saya bahagia dengan pertemuan ini. Sebuah kebahagiaan yang sangat bermakna.

Sebuah pertanyaan terbesit dalam diri saya, sudahkah saya bersyukur dengan keadaan saya sekarang.walaupun sedang dalam tertekan, walaupun sedang dalam sulit, walaupun sedang dalam kedaan yang tidak saya harapkan ?

Naik angkot Panghegar-Dipatiukur memang memiliki pengalaman tersendiri.

Suatu siang naiklah seorang perempuan remaja di  perempatan BIP. Saat itu saya sedang sendirian di angkot dan seperti biasa duduk di pojok

jangan buang sampah di angkot

 belakang bagian kanan. Perempuan tadi duduk persis di belakang Pak Sopir dan terlihatlah sebuah komik “Detektif Conan” sedang ia pegang. Sepertinya baru ia beli karena masih terbungkus rapi. Lalu ia membuka plastiknya dan segera membacanya.

Tapi ternyata yang menjadi perhatian saya bukan tentang isi komik itu, bukan tentang bagaimana si Conan bisa membongkar kasus-kasus kelas dunia, tetapi mata saya tertuju pada plastik bungkus komik itu. Perempuan itu membuang sembarangan plastiknya di angkot itu. Dia melakukannya seakan telah biasa.

Saat itu, saya merasa gundah, seperti ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk hati saya. Ini sesuatu yang tidak benar. Saya ingin menegurnya, tapi saya belum berani. Saya takut respon dia yang mungkin bisa saja memarahi saya. Mungkin berlebihan juga, tapi saya sudah terlanjur takut. Padahal ini mungkin kesempatan emas saya untuk mengingatkannya. Selama kurang lebih 5 menit saya memikirkannya.

Lalu saya teringat cerita ibu saya yang pernah menegur seorang pemuda yang membuang sampah sembarangan dari mobilnya persis di sebelah mobil ibu saya. Dan ibu saya berani menegur dan pemuda tadi kembali memungut sampah yang telah sempat dibuangnya itu. Saat itu saya kembali sadar dan mencoba mengumpulkan keberanian. Sedikit menarik nafas..

Lalu saya mengambil keputusan untuk mau menegurnya, padahal dia sudah buang sampah beberapa waktu yang lalu. Takutnya juga dia sudah lupa kalau dia pernah buang sembarangan. Saya segera memantapkan hati bahwa saya akan menegurnya, siapapun yang turun duluan. Jika dia duluan, maka sebelum dia turun saya akan menegurnya. Kalau saya duluan, sebelum turun,  saya juga yang akan menegurnya.

Ternyata dia hendak turun di TBI di jalan Riau. Deg-degan. Ya, tiba-tiba perasaan takut kembali muncul. Tapi tetap saya redam. “Kiri Pak!”, akhirnya dia turun. Saya sedikit mendekat. Persis sebelum dia turun, “Mba!” sekali lagi,”Mba!”. Dia menengok ke arah saya, karena dia pikir tidak ada lagi perempuan di angkot selain dirinya. Tanpa basa-basi, “Mba, sampahnya bisa tolong diambil! Jangan buang sembarangan ya!”

Segera dengan senyum yang agak dipaksakan, dia mengambil plastik tadi dan membawanya. “Makasih ya Mba”, segera saya berterimakasih atas kesediannya.

Perasaan lega tiba-tiba menghampiri saya.

Dua hari kemudian, hari senin, setelah saya ujian Pendidikan Anti Korupsi. Saya menaiki angkot Panghegar lagi. Lagi-lagi saya duduk di pojok belakang kanan. Kali ini telah ada tiga penumpang bersama saya. Tiba-tiba naik seorang anak SMA. Perempuan. Ya, perempuan. Dengan bungkusan gorengan beserta air mineral gelas berada ditangannya, dia duduk di pojok belakang juga yang berarti persis di depan saya.

Terlihat dia menyantap gorengannya. Kemudian karena haus dia segera membuka plastik sedotan dan segera minimum air mineral itu. Lagi-lagi yang menjadi perhatian saya bukan bagaimana ia minum dan berapa banyak yang diminum, tetapi dia membuang sampah plastik kecil itu ke bawah jok. Ya,sangat kecil, hanya sebuah plastik sedotan.

Persis di depan saya. Langsung perasaan saya ga enak lagi. Tapi tanpa berpikir panjang seperti waktu itu, karena sudah latihan dua hari sebelumnya, sekitar satu menit kemudian, saya menegurnya. Kali ini karena jelas memakai seragam SMA, maka saya memanggilnya dengan Dik. “Dik, sampahnya jangan dibuang sembarangan ya”. Segera ia mengambil plastik kecil tadi dan mengantunginya di saku seragamnya. Tentu saya kembali berterimakasih, “Makasih ya Dik.”

Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, yang jelas dia tetap memakan gorengannya. Kemudian karena mungkin telah habis gorengannya dan tinggal bungkusnya,  dia segera memasukkan bungkusnya ke dalam tas-nya. Alhamdulillah, dalam hati saya. Ia tidak membuang sembarangan lagi. Begitu juga dengan gelas air mineral dan tisunya, dia pegang dulu walaupun telah habis.

Hingga kemudian, “Kiri-kiri!”. Perempuan itu turun di jalan Riau depan salah satu FO yang cukup besar itu. Sebelum dia turun. “Makasih ya.” ia tersenyum. Saya pun tersenyum,” Makasih juga ya!”. Hal ini sudah tentu cukup mengejutkan saya.

Dua perempuan dalam rentang dua hari, turun di jalan yang sama, dengan jurusan angkot yang sama, dan kejadian yang sama, membuat saya tersenyum sekaligus bahagia. Kejadian ini benar-benar menguji idealis saya. Apakah saya punya keberanian untuk mengajak orang menjaga kebersihan bersama-sama. Saya bahagia karena saya punya kepedulian dan keberanian itu. Terlebih ternyata hasilnya pun , Alhamdulillah positif.

Waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali. Tidak terasa ternyata diri kita telah berdiri hari ini dengan keadaan yang ada saat ini. Inilah diri kita yang sekarang. Tidak terasa ternyata selama ini semua yang terjadi telah membentuk diri kita menjadi seperti saat ini. Apakah saat ini kita bahagia dengan kondisi kita saat ini ? Ataukah kita merasa menderita?

Banyak sekali episode-episode kehidupan yang telah kita jalani. Begitu banyak pilihan dalam hidup ini yang telah kita ambil. Begitu banyak tindakan yang telah kita lakukan. Begitu banyak hal-hal yang telah kita lihat, dengar, rasakan, dan kita ucapkan dalam hidup ini. Dan kesemuanya telah membentuk diri kita saat ini. Diri kita yang sekarang ini adalah hasil dari proses yang telah kita jalani di masa lalu.

Secara sadar atau tidak, kita telah banyak bertemu dengan orang-orang. Kita telah berkomunikasi dengan beragam tipe orang. Kita telah sering berinteraksi dengan mereka dalam berbagai macam lingkungan. Orang-orang tersebut dan lingkungannya pun turut memberikan kontribusinya dalam membentuk diri kita.

Dari semuanya itu, bagaimanakah sebenarnya diri kita sekarang ini? Bagaimanakah segala macam kejadian itu telah membentuk kepribadian kita? Bagaimanakah setiap tindakan yang kita lakukan telah mewujudkan cita-cita kita? Bagaimanakah keputusan-keputusan yang kita ambil itu, berpengaruh terhadap kehidupan kita masa kini?

Apakah kita bahagia dan merasa diri kita telah berkembang dengan baik selama ini? Ataukah perjalanan yang telah kita tempuh justru membuat diri kita belum berkembang, bahkan seakan jalan di tempat? Adakah sifat atau karakter kita yang muncul dan tenggelam selama pengarungan hidup ini? Bagaimanakah kebermanfaatan diri ini dalam lingkungan kita?

Dari mulai kita kecil, saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar kita belajar dan bermain bersama teman-teman kecil kita dan itu membentuk diri kita. Kemudian beranjak ke SMP dan kita semakin senang bergaul dan berinteraksi dengan kawan-kawan kita. Kita telah mengenal berbagai macam hal-hal baru saat itu. Tak terasa tiga tahun kemudian, kita memasuki dunia SMA yang penuh dengan warna-warni dunia remaja. Semakin banyak pengetahuan serta pengalaman yang kita peroleh. Dan perjalanan ini pun membentuk diri kita.

Jam pun terus berdetak, menandakan waktu itu sangat dinamis. Sifatnya absolut dan mutlak. Bergerak dan terus bergerak. Perlahan tapi pasti. Bisa juga cepat dan sangat pasti. Kita pun masuk ke dunia perkuliahan. Kita memasuki sebuah dunia dimana pembentukan jati diri seseorang semakin jelas. Kita membuka pintu dimana di dalamnya terdapat berbagai macam pilihan. Di sini kita semakin menelusuri mau kemana diri ktia. Sangat banyak hal baru di sini. Dan sekali lagi itu semua membentuk diri kita saat ini. Persis diri kita yang ada pada detik ini.

Apakah kita telah menjadi orang yang lebih baik ? Apakah kita sedang berkembang untuk terus maju? Ataukah justru kualitas diri kita semakin menurun?  Apakah kita menjadi orang semakin bernilai, bermakna, dan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain? Ataukah diri kita masih menjadi orang yang biasa-biasa saja?

Hari ini, saat ini,,kita telah melihat “lukisan” kehidupan kita sendiri. Warna-warni telah kita berikan pada kanvas kehidupan ini. Banyak goresan lurus dan melengkung yang telah kita buat. Banyak bentuk lainnya yang juga telah kita selipkan dalam ruang-ruang kanvas itu.  Kita telah melihat gambaran semuanya tentang diri kita. Dan inilah karya kita.

Pertanyaannya sekarang adalah…

Indahkah gambar lukisan kita ?

Indahkah karya kita ini yang telah kita buat selama ini?

Seindah Inikah Lukisan kita?

Tidak bisa dipungkiri bahwa suatu keterampilan atau kesuksesan dalam suatu bidang tidak lepas dari sebuah kesabaran. Ya, dengan kita terus bersabar menikmati proses yang ada, terus mencoba berusaha mencintai apa yang kita lakukan, maka semua akan terasa indah. Pada saat kita tenggelam dalam asiknya suatu pekerjaan, maka secara tidak sadar, suasana hati kita akan turut terkondisikan dengan baik sesuai dengan perasaan kita.

Tentu untuk membuat kita menikmati apa yang sedang kita lakukan memang tidaklah mudah. Saya sendiri merasakan perjuangan untuk bisa menikmati apa yang sedang concern saya kerjakan saat ini. Secara alamiah saya tidak terlalu menikmatinya, tetapi saya perlu untuk mencoba menjadikannya sebagai suatu kenikmatan. Tidak mudah memang, bahkan dibutuhkan suatu paksaan supaya kita meraih kondisi yang baik itu.

Bukankah mesin solar baru akan panas setelah melewati kurun waktu tertentu. Bukankah para atlet angkat besi perlu mengeluarkan tenaga lebih saat mengangkat bebannya. Bukankah padi di sawah tumbuh setelah melewati tenggat waktu yang tidak cepat. Dan bukankah menuju pucak gunung, perlu melewati jalur yang berliku, berbatu, dan mendaki.

Semua butuh kesabaran dalam menjalaninya.  Pada saat memulai itulah dimana kesabaran perlu kita tanam dalam diri. Ketika kita dalam keadaan terpaksa, pada saat itulah kesabaran memegang perannya, hingga pada suatu waktu, secara tidak sadar kita telah tenggelam dalam pekerjaan kita. Secara tidak sadar, kita telah melewati beberapa waktu dalam pekerjaan itu dan mulai terasa mengalir mengikuti iramanya.

Mulailah dengan 5 menit pertama. Inilah tips yang dapat kita coba. Ya mulai saja dulu selama 5 menit apa yang akan kita lakukan. Tanpa terasa kita telah melewati 5 menit, 15 menit, 30 menit hingga 1 jam kita telah mengerjakan sesuatu yang pada mulanya kita agak malas. Tapi dengan suatu paksaan ini, maka insya Allah rasa keikhlasan akan muncul dengan sendirinya. Bukankah untuk melatih keikhlasan dalam bersedekah, kita perlu berlatih bersedekah terus menerus. Mungkin pada awalnya belum rela 100 %, tetapi setelah berulang kali, maka kita tidak keberatan untuk bersedekah di kemudian hari.

Tidak ada yang salah dengan keterpaksaan, karena kita tidak akan bisa memulainya jika tidak dipaksa. Akan sulit untuk memulai kalau kita harus menunggu dan menunggu hingga kita sudah merasa enak. Kita memaksa diri kita demi kebaikan diri kita, untuk perbaikan kualitas diri, serta untuk memberikan makna pada setiap apa yang kita lakukan. Memaksa di awal, untuk menuai kebermaknaan serta kesuksesan di masa depan. Insya Allah.

Saya terkejut ketika membaca berita ada seorang siswa yang tewas karena bunuh diri setelah membaca isi dari sebuah surat yang diperolehnya. Dia meninggal setelah meminum racun dan tidak sempat tertolong. Begitu juga dengan seorang siswa lainnya yang membaca surat yang serupa. Dia pun meminum racun, akan tetapi dia sempat diselamatkan.

Apa yang terjadi dengan kedua siswa tersebut ? Surat apa yang mereka baca sehingga mereka nekat untuk bunuh diri ?

Ternyata itu adalah salah satu dari berbagai respon yang mungkin ada dari seluruh siswa SMA dan SMK kelas 3 setelah mengetahui pengumuman tentang kelulusan mereka dalam Ujian Nasional (UN) tahun 2010 ini. Variasi respon muncul dari masing-masing siswa setelah mereka membaca surat yang diterima itu.

Bagi mereka yang lulus, rasa kegembiraan jelas tergambar dari diri mereka. Mereka tersenyum lepas, berteriak senang. Mereka berpelukan, saling mengucapkan selamat. Ada yang segera mendapat pelukan dari ibunya. Ada yang menangis terharu karena bahagia. Tapi ada juga yang segera mencorat-coret bajunya dengan spidol maupun piloks. Sebagian yang lain konvoi di jalanan dengan sepeda motor.

Ya, itulah perasaan gembira bagi mereka yang lulus. Gembiranya mereka pun diungkapkan dengan berbagai cara tersebut. Bisa positif bisa juga negatif.

Tapi, bagaimana dengan mereka yang belum lulus ?

Kejadian yang menimpa dua siswa yang saya sebutkan di awal tadi, adalah salah satunya. Sangat tragis dan memilukan. Respon lain yang saya lihat di berita adalah mereka marah dan diungkapkan dengan berteriak dan memprotes. Bahkan ada yang melempar sekolahnya dengan batu-batu sehingga merusak sekolah mereka sendiri. Bagi yang perempuan, menangis adalah respon yang sangat wajar.  Mereka kecewa dengan hasil yang diperoleh dan diungkapkan dengan menangis. Selain itu ada juga yang duduk termenung dengan terus menunduk.

Begitulah respon bagi mereka yang mendapat pengumuman bahwa mereka belum lulus ujian nasional.

Saya sendiri pun pernah merasakan Ujian Nasional seperti yang mereka semua lakukan pada tahun ini. Alhamdulillah saya lulus pada saat itu. Tapi saya juga melihat bagaimana teman saya yang belum lulus saat itu. Saya tidak melihatnya secara langsung saat itu, tetapi pada saat perpisahan SMA, dia datang dengan wajah yang ceria.

Berbagai respon itu lahir dari dua kalimat yang berbeda. Lulus atau belum lulus. Dua kalimat itu bisa melahirkan berbagai respon yang sangat bertolak belakang. Gembira atau sedih. Senang atau kecewa. Bersyukur atau mencerca. Bersabar atau marah. Senyum atau cemberut. Positif atau negatif. Kita sendiri yang memilih untuk bersikap seperti apa dan ingin mengekspresikannya dalam bentuk apa. Kita lah yang memberikan perintah kepada anggota tubuh kita untuk bersikap. Kitalah yang menberi makna terhadap apa yang terjadi pada diri kita.

Ya, terlepas dari pro kontra tentang ujian nasional ini, saya ingin memberikan semangat kepada adik-adik yang belum mendapat kelulusan saat ini. Masih ada ujian ulangan untuk mata pelajaran yang belum lulus dan  masih berkesempatan masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN). Tetaplah untuk optimis dan berharap yang terbaik. Berikan yang terbaik dari usaha adik-adik dalam ujian susulan nanti dan buktikan bahwa adik-adik bisa lulus. Berusahalah dengan sungguh-sungguh. Berlatihlah soal sebanyak mungkin. Dan jangan lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Insya Allah adik-adik akan mendapatkan hasil yang terbaik berupa kelulusan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.