Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2010

Bersyukur Yuk..

Alhamdulillah.. sebuah kata untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada Sang Pencipta. Sebuah kata yang berarti, “Segala puji hanya milik Allah”. Semua adalah milik-Nya dan kita tidak dapat meng-claim bahwa itu punya kita. Biasanya kita mengucapkan Alhamdulillah ini jika kita mendapatkan sesuatu yang menggembirakan kita. Mendapatkan rezeki, kita ucapkan syukur. Mendapatkan nilai yang baik, spontan mengucapkan Alhamdulillah. Mendapat jabatan atau kegembiaraan serta kesenangan yang lain, membuat kita mnegucapkan Alhamdulillah.

Alhamdulillah diucapkan sebagai rasa syukur kita kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sering kita mengucapkannya, tetapi benarkah kita sudah mensyukurinya ? Apakah kita sudah benar-benar berterimakasih kepada Yang Memberikan nikmat itu ? Apa yang kita lakukan dengan nikmat itu ? Setelah kita memperolehnya, apa yang selanjutnya kita lakukan?

Pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya merenung. Pertanyaan ini membuat saya berpikir dan melihat kembali atas nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya. Pertanyaan ini seolah-olah mempertanyakan ucapan syukur Alhamdulillah yang telah saya ucapkan selama ini. Dan pertanyaan ini memberikan ruang bagi saya untuk bertafakur kembali.

Ternyata, syukur Alhamdulillah tidak hanya sekedar diucap oleh lisan kita. Tidak hanya keluar dari mulut kita sebagai kata-kata. Tetapi lebih dari itu, lebih dari sekedar ucapan, syukur itu adalah sebuah tindakan. Syukur itu adalah menggunakan nikmat itu untuk sebuah kebaikan. Syukur itu merupakan pengoptimalan nikmat-nikmat itu sebagai jalan untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta.

Jika saya mendapat nilai IP baik, apakah saya menggunakan IP itu untuk sebuah niat yang baik ataukan malah saya bersikap yang tidak baik dengan IP itu? Jika saya mendapat harta lebih, apakah itu menjadi jalan kebaikan bagi saya dengan berbagi kepada sesame dan bershodaqah, atau justru saya menghabiskannya hanya untuk kepentingan pribadi saya ? Jika saya mendapat jabatan dan amanah, apakah itu sebagai sarana untuk memperbaiki lingkungan sekitar ? Jika saya mempunyai potensi dan kelebihan, apakah itu juga saya gunakan sebagai modal berharga untuk melakukan sebuah kebajikan ? Sekali lagi, jika saya mendapatkan nikmat dari-Nya, apakah dan apakah saya telah menggunakannya dengan bijak untuk menjadi sebuah kebaikan dan amal shaleh ?

Bukankah saya akan merasa berhutang budi kepada orang yang telah memberikan hadiah istimewa yang tulus kepada saya? Dari dalam hati, tentu saya pun akan berusaha untuk membalasnya dengan hal yang serupa juga. Jika yang memberikan nikmat itu adalah Sang Pencipta, bukankah saya seharusnya juga berterimakasih kepada-Nya? Bahkan Dia selalu memberikan nikmat itu kepada saya selama ini. Ada nikmat kesehatan, nikmat udara segar di pagi hari, nikmat bergerak, berucap, menulis, membaca, belajar, ilmu, dan nikmat yang tiada terhingga jumlahnya. Dan ini semua pun terkadang tidak saya sadari. Subhanallah, begitu banyak nikmat-Nya

Jadi, mengapa saya tidak mensyukurinya?

Saya ingin sekali menjadi orang yang senantiasa bersyukur kepada-Nya. Dengan apa? Ya dengan melakukan tindakan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan melakukan amal shaleh yang disukai-Nya. Saya harus berterima kasih kepada Allah dengan mengoptimalkan nikmat-nikmat itu sebagai jalan kebaikan baik bagi diri saya maupun orang lain.

Insya Allah dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah oleh Allah, seperti janji-Nya dalam surat Ibrahim, 14:7 :

dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”

Dan pada akhirnya nikmatilah setiap episode kehidupan kita dengan syukur. Bersyukurlah atas setiap nikmat yang ada, sehingga itu menjadi jalan untuk memperoleh nikmat-nikmat berikutnya yang telah Allah persiapkan bagi kita semua.

Tidak usahlah kita risau dengan nikmat yang belum kita dapatkan, tapi risaukanlah jika nikmat yang ada tidak kita syukuri.”- Aa Gym

Advertisements

Read Full Post »

Saat itu seluruh pemenang perlombaan telah ditentukan, juara 1, 2, dan 3 dari lari marathon itu sudah jelas, dan tidak

John Stephen Akhwari

mungkin berubah lagi. Saat itu pun para penonton sudah mulai beranjak pulang dari stadion. Banyak bangku stadion yang sudah mulai kosong. Akan tetapi tak berapa lama, penonton yang belum pulang itu dikejutkan dengan adanya pengumuman bahwa akan ada pelari yang akan masuk stadion. Penonton kaget, mereka kira sudah selesai perlombaan, tetapi mereka melihat dengan jelas saat seorang pelari memasuki ke stadion dengan terpincang-pincang. Masih lengkap dengan pakaian larinya serta nomor di dadanya, dia masuk ke stadion dan berlari kecil-kecil sambil terpincang dengan balutan luka di kaki kanannya.

Serentak, seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan. Stadion kembali bergemuruh dengan standing ovation. Mereka menyemangati pelari ini untuk terus berlari hingga finish. Suara dukungan disampaikan kepadanya. Dan ini membuat pelari itu terus bersemangat hingga kemudian dia menyentuh garis finish. Dia berhasil sampai pada garis finis, di saat tidak pelari lain lagi. Dia adalah pelari terakhir dalam perlombaan itu. Dia datang saat hari telah malam.

Itulah John Stephen Akhwari, pelari dari Tanzania, yang mengikuti perlombaan lari marathon pada olimpiade di Mexico tahun 1968. Dia menjadi pelari terakhir yang berhasil menyentuh garis finis. Dia menyelesaikan larinya dengan keadaan kakinya yang terluka. Dia cedera karena ternyata saat tengah perlombaan dia terjatuh sehingga betis dan lututnya terluka. Akan tetapi, dia melanjutkannya dengan keadaan lutut dan betis kanan yang dibalut. Sepanjang 5000 mil dia menyelesaikannya.

Luar biasa seorang John Stephen Akwari, inilah namanya. Pemenang sudah ditentukan, penonton sudah mulai beranjak pulang, acara di stadion sudah selesai, tetapi dia tidak peduli. Dia terus bertekad untuk menyelesaikannya. Walaupun sesekali dia berjalan karena kakinya yang kesakitan, dia tetap menuju ke garis finis. Dia tetap mengarah ke tujuannya. Dan benar, dia sampai ke sana.

Ketika setelah perlombaan, dia ditanya oleh wartawan mengapa dia tidak mengundurkan diri saja karena kakinya yang cedera dan sudah tidak mungkin untuk menang, dia menjawab dengan sangat sederhana, tetapi bagi saya luar biasa sangat bermakna. Dia mengatakan seperti ini,

My country didn’t sent me 5000 miles to start the finish, but they sent me 5000 miles to finish the race.”

Boleh saja John Stephen Akwari tidak menjadi juara satu, dua, atau tiga yang mendapatkan piala, tetapi dia juga adalah pemenang. Bahkan pemenang yang luar biasa. Dia telah membuktikan kepada dunia apa yang dinamakan kehormatan itu. Dia adalah contoh bagaimana menyelesaikan sesuatu yang telah dimulainya. Dia adalah teladan dalam memperjuangkan kehormatannya.

Negaranya tidak mengirim dirinya hanya untuk memulai perlombaan, tetapi mereka mengirimnya sejauh 5000 mil untuk menyelesaikannya. Bagaimanapun kondisinya, dia punya amanah untuk memperjuangkan harkat dan martabat bangsanya. Dia memberikan keharuman bagi negaranya dan membuktikan bahwa negaranya bukanlah negara yang lemah.

Subhanallah, begitu tidak menyerahnya dia, bagaimana kekuatan keyakinannya dapat memberikan tambahan tenaga serta motivasi bagi dirinya untuk menyelesaikan lomba itu. Inilai pemenang sejati. Dialah yang berhak mendapatkan medali emas sesungguhnya. Sebuah medali kehormatan.

Saya jadi merasa malu dengannya. Terkadang apa yang telah saya mulai, hanya dengan sedikit hambatan membuat saya gentar. Apa yang telah direncanakan, begitu memulainya membuat saya takut untuk melakukannya, hingga rencana itu hanya menjadi sebuah rencana.

John Stephen Akwari memberikan inspirasi serta motivasi bagi saya agar terus berusaha dan memperjuangkan apa yang telah saya mulai. Apa yang telah saya lakukan sejauh ini, janganlah berhenti. Perjuangkan dengan sekuat-kuatnya. Sukseskan apa yang telah saya perjuangkan hingga tuntas dengan mengeluarkan seluruh kemampuan saya. Karena ikhtiar haruslah diperjuangkan. Barulah jika telah berikhtiar maksimal maka kita menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.

John Stephen Akwari menyelesaikannya dengan perjuangannya yang luar biasa, sebuah akhir yang baik. Sudah tentu, Allah juga menakdirkan kita semua lahir di dunia ini bukanlah hanya untuk memulainya, tetapi kita harus memperjuangkan untuk mendapatkan akhir yang baik pula, untuk mendapatkan kehormatan dari Sang Pencipta. Kita berjuang untuk mendapatkan ridho-Nya.

Jika kita sekarang adalah seorang mahasiswa, maka perjuangkanlah hingga kita bisa lulus dengan baik pula. Jika kita adalah seorang pebisnis, maka sukseskanlah bisnis yang telah dimulai hingga dapat menjadi manfaat bagi sesama. Jika kita adalah sesorang yang telah punya rencana mulia, maka teruslah berjuang untuk mewujudkannya. Janganlah menyerah.

Teman-teman marilah kita bersama-sama mesukseskan apa yang telah kita perjuangkan. Apa pun itu selama itu adalah kebaikan, bahkan sekecil apapun, maka kita perjuangkan.

Read Full Post »

Bahagia Itu Jauh Lebih Bermakna

Apakah ada beda antara kebahagiaan dengan kesenangan ? Saya melihat ada bedanya dan dapat saya rasakan. Kalau

Begitu Bermakna

bahagia itu jauh lebih dalam ketimbang kesenangan. Bahagia itu lebih bermakna bagi diri kita dari pada sekedar mendapat kesenangan. Kebahagiaan itu jauh lebih berharga dan sangat mahal dari pada harga sebuah kesenangan.

Saya senang jalan-jalan, tapi saya bahagia dengan menjadi penulis. Saya senang makan pisang keju, tapi saya lebih bahagia saat mengajar. Saya senang nonton film, tetapi saya merasakan bahagia saat bisa memberikan sesuatu kepada orang lain. Saya senang dengan udara sejuk, tapi saya bahagia dengan bersepeda.

Bahagia itu lebih menyentuh ke dalam diri seseorang dan dia akan merasakan sesuatu yang jauh lebih nyaman. Saat seseorang telah dapat menemukan potensi dirinya dan jati dirinya yang terdalam lalu kemudian dia mengaktualisasikannya dalam kehidupannya, maka dia akan bisa merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan adalah anugrah yang Allah berikan kepada kita melalui potensi-potensi yang kita miliki.

Kebahagiaan adalah menyangkut sesuatu yang dapat membuatnya semakin bermakna. Tidak hanya bermakna bagi dirinya tapi juga bagi orang lain. Kebahagiaan identik dengan manfaat yang berjangka panjang. Tidak semu dan dapat benar-benar kita rasakan. Kebahagiaan adalah milik semua orang. Dan saya yakin setiap orang pernah merasakan kebahagiaan itu dan perasaan ini beda dari hanya sekedar kesenangan.

Mungkin ada yang bahagia dengan memberi permen kepada anak kecil. Ada yang bahagia dengan menjadi kakak asuh. Ada yang bahagia dengan memberikan manfaat dengan tulisannya. Mungkin ada yang bahagia menjadi pemimpin yang amanah. Bisa juga  dia merasa bahagia saat melihat orang lain bahagia. Dan dia bahagia menjadi orang yang memberikan kenyamanan bagi orang lain. Dia pun bahagia saat tersenyum  kepada orang lain dan membuatnya tersenyum juga. Ataupun dia akan bahagia jika bisnisnya dapat juga bermanfaat bagi masyarakat. Tidak hanya untuk kepentingan dirinya, tetapi kepentingan sesama.

Dia bahagia dengan apa yang dilakukannya karena dia merasa hal itu adalah sesuatu yang bermakna bagi dirinya maupun bagi sesamanya.

Read Full Post »

Apa manfaat yang telah saya peroleh dari kegiatan membaca buku? Sejak SMA kelas 3 sampai saat ini, kurang lebih 4

Marilah Membaca Buku

tahun menggeluti kegiatan membaca buku, saya merasakan manfaat yang luar biasa. Apa itu ?

1. Ilmu dan wawasan saya semakin bertambah ibarat air di lautan.

2. Saya dapat melihat segala sesuatu dengan bijaksana karena saya tahu bahwa dengan membaca buku, saya sedang menyelami pikiran orang lain

3. Saya merasa lebih termotivasi dan terinspirasi, terlebih lagi jika saya membaca buku-buku motivasi atau novel penuh dengan inspirasi

4. Saya dipenuhi oleh kata-kata. Saya merasa dengan membaca, perbendaharaan kata-kata saya semakin kaya. Dengan demikian saya lebih lancar saat menulis.

5. Dengan semakin membaca, maka saya semakin lancar menulis. Dengan semakin lancar menulis, maka saya pun semakin lancar berbicara.

Alhamdulillah ini manfaat yang telah saya rasakan saat membaca buku. Karena sekarang saya senang membaca buku, maka saya sering ke toko buku atau pameran buku untuk memburu buku-buku bergizi lainnya.

Oleh karena itu marilah kita membaca buku. IQRO ! Bacalah buku itu ! Karena insya Allah tidak rugi jika kita membaca buku.

Read Full Post »