Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2010

Menjiwai…

Kuingin rasa ini tetap menjiwai

Setiap langkahku

Kuingin rasa ini tetap menjadi penggerakku

Dalam mengarungi hari yang indah

Hari-hari ku menatap impian

Mengejarnya dan meraihnya

Kuingin rasa ini tetap menjiwai

Dalam setiap detik nafasku

Untuk kuraih cita-citaku

Takkan kubiarkan rasa ini memudar

Rasa semangat untuk terus berjuang

Berjuang demi menggapai Ridho-Nya

Read Full Post »

Kemacetan Bisa Dikurangi jika Memiliki Kemauan

ditulis oleh :

Yuamar Imarrazan Basarah

(Teknik Sipil ITB 2006)

Salah satu pendukung bagi peningkatan daya saing bangsa adalah dalam sector infrastruktur. Dengan adanya infrastruktur yang baik, maka seluruh aktivitas masyarakat dan negara dapat berjalan dengan baik dan optimal. Berbagai infrastruktur suatu negara harus dapat melayani masyarakat dalam melakukan kegiatannya, termasuk infrastruktur transportasi. Hampir seluruh masyarakat melakukan kegiatan transportasi untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. Oleh karena itu perlu suatu infrastruktur transportasi yang baik yang dapat mendukung kegiatan masyarakat.

Akan tetapi pada saat ini, Indonesia belum mempunyai infrastruktur transportasi yang baik, terutama pada kota-kota besar. Bahkan sebagai ibukota Negara, Jakarta masih memliki permasalahan transportasi yang cukup rumit. Jakarta sebagai representasi dari Negara Indonesia memiliki masalah besar yang juga terjadi pada kota-kota besar lainnya, yaitu kemacetan. Masalah kemacetan ini menimbulkan dampak negative yang besar bagi seluruh elemen masyarakat, baik bagi para pejabat pemerintahan, pelajar, mahasiswa, karyawan, pengusaha, guru, dan berbagai elemen masayarakat lainnya yang menggunakan sarana transportasi.

Penyebab kemacetan

Kemacetan pada prinsipnya terjadi akibat tidak seimbangnya antara jumlah kendaraan yang melintas dengan tersedianya jaringan jalan. Peningkatan jumlah kendaraan  tidak sebanding dengan pertumbuhan jaringan jalan di Indonesia. Sebagai contoh, kemacetan yang terjadi di Jakarta.  Pada saat ini jumlah kendaraan yang melintasi di jalan-jalan sekitar Jakarta ada sekitar 9,9 juta unit kendaraan Nilai ini meningkat jauh, jika dibandingkan pada tahun 2007 yang masih sekitar 5,2 juta unit kendaraan . Perbandingan jumlah kendaraan pribadi dengan kendaraan umum juga berbeda jauh, yaitu 98 % berbanding 2 %. Padahal kapasitas orang yang dapat  diangkut 2% angkutan umum lebih banyak dari 98 % kendaraan pribadi .

Sedangkan pertumbuhan kapasitas jalan hanya 0.01 % per tahun. Akibatnya adalah volume kendaraan yang semakin meningkat tidak diikuti secara berbanding lurus dengan kapasitas jalan sebagai penyedianya. Pelebaran jalan atau pembangunan jaringan baru tidak dapat mengimbangi peningkatan jumlah kendaraan yang sangat drastis. Jika dibiarkan, maka diprediksikan pada tahun 2014, Jakarta dapat mengalami kemacetan total.

Kapasitas jalan yang ada pun, tidak dapat sepenuhnya digunakan untuk berkendara, karena ada faktor hambatan samping, yaitu kendaraan yang parkir di pinggir jalan dan beberapa pedagang kaki lima yang juga turut mengambil tempat di jalan. Hal ini membuat ruas jalan semakin sempit bagi kendaraan yang melintas. Sebagai contoh di daerah Cicadas-Kiaracondong, Bandung, terdapat pasar yang masih melakukan aktivitasnya pada pagi hari, sekitar jam 6-7 yang mengambil tempat pada sebagian jalan. Padahal saat itu, merupakan waktu pergi sekolah atau bekerja, dimana volume pegerakan sangat meningkat. Dengan semakin berkurangnya ruang bagi kendaraan, maka daerah itu sering terjadi kemacetan.

Selain itu tidak meratanya pusat kegiatan perekonomian di suatu  daerah menjadi salah satu penyebab kemacetan. Tenaga kerja dari berbagai daerah bergerak bersama-sama menuju daerah pusat kegiatan tersebut, sehingga pergerakan transportasi semakin banyak dan menumpuk pada daerah itu karena semua pergerakan menuju ke arah yang sama. Sebagai contoh di Bandung, pusat kegiatan perekonomian terpusat di bandung tengah,yaitu di daerah jalan Dago dan Riau dimana berbagai pusat perbelanjaan, seperti mall dan factory outlet (FO) berada, sedangkan tenaga kerja dan para konsumen berasal dari berbagai wilayah di kota Bandung, bahkan dari luar kota, seperti Jakarta. Dengan demikian, kendaraan-kendaraan bermotor baik mobil maupun motor banyak mengumpul di daerah tersebut, sehingga menimbulkan kemacetan. Hal ini disebabkan terlalu terkonsentrasinya pusat kegiatan, khususnya aktivitas ekonomi. Masalah ini disebakan oleh rencana tata ruang kota yang belum berjalan dengan baik.

Ditambah lagi oleh faktor manusia itu sendiri, yaitu para pengguna kendaraan tersebut. Ketidakdisiplinan para pengguna jalan juga menjadi faktor lain yang menyebabkan terjadinya kemacetan di jalan. Sebagai contoh, kendaraan umum, seperti angkot, mikrolet, ataupun bis yang menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat. Tidak hanya dari pihak angkutan umum, tetapi penumpangnya juga kurang sadar dimana sebaiknya tempat menunggu dan menghentikan kendaraan umum. Selain itu mobil dan motor juga  tidak disiplin dalam mematuhi rambu-rambu yang berlaku. Seringkali kendaraan diparkir secara sembarangan dan para pengemudi mengendarai kendaraannya dengan kurang sopan.

Dampak akibat kemacetan

Dampak berupa kerugian yang diakibatkan oleh kemacetan pun sangat besar. Bagi penduduk kota yang sering merasakannya, kemacetan sudah bukan menjadi suatu hal yang asing. Mereka sudah cukup merasakan dampak dari kemacetan, seperti capek, kesal, dan stress saat berkendara di jalan yang macet. Kerugian akibat kemacetan dirasakan oleh berbagai pihak, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, dosen, karyawan, pengusaha, pegawai negeri sipil, pejabat, seniman, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.

Disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, kerugian bagi penduduk kota Jakarta sekitar Rp 43 triliun per tahun. Data ini diperoleh dari Edo Rudyanto’s Traffic Motorcycle, Community, and Safety Riding (2007). Nilai ini mencakup kerugian akibat pemborosan bahan bakar, polusi udara yang diakibatkan oleh asap kendaraan bermotor, timbulnya penyakit fisik, psikis, dan penyakit lain seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Hal ini disebabkan para pengendara motor atau sepeda, bahkan pejalan kaki yang menghisap asap baik dari bis, mobil, dan motor. Selain itu kerugian juga mencakup waktu yang terbuang oleh setiap pengendara terhadap kegiatan ekonominya. Banyak waktu yang menjadi tidak produktif akibat kemacetan ini.

Besarnya nilai kerugian akibat kemacetan ini juga pernah dijabarkan dengan lebih rinci oleh Kompas (06/11/07) yang bersumber dari Yayasan Pelangi, Organda DKI, ADB, Dinas Perhubungan DKI dan BPS DKI. Berikut adalah penjabarannya :

  1. Kerugian Waktu

Rp. 4.329 (UMP DKI 2007) x 2 jam x 7.500.000 org

= Rp 64.935.000.000 / hari x 333 har kerja

= Rp 20.324.217.232.125

  1. Kerugian BBM
    1. Motor

0,35 ltr x Rp 4.500 / bensin / ltr x 3.325.790 motor = 5.283.119.250 / hari x 313 (enam hari kerja) = Rp 1.639.531.325.250

  1. Mobil

1,75 ltr x Rp 4.500 / bensin / ltr x 2.677.303 mobil = 21.083.761.125 / hari x 313 (enam hari kerja) = Rp 6.599.217.232.125

  1. Kerugian Angkutan Penumpang (perhitungan Organda DKI Jakarta 2007)

= Rp 2,364 triliun

  1. Kerugian Kesehatan

= Rp 5,39 triliun

  1. Kerugian Lingkungan

= Rp 5 triliun

Jika dijumlahkan, maka total kerugiannya adalah sebesar Rp 41.316.965.789.500 / tahun atau sekitar 3,44 triliun per bulan.

Potensi kecelakaan pun semakin meningkat di Jakarta akibat semakin banyaknya jumlah kendaraan di jalan. Sepanjang bulan Januari hingga Mei 2009, terjadi peningkatan jumlah penggunan motor (bikers) sebesar 21,4 % dibanding periode yang sama pada tahun 2008. Ini juga merupakan kerugian secara tidak langsung yang diakibatkan dari kemacetan di kota Jakarta.

Akar Permasalahan

Kita semua sepakat, bahwa tidak ada yang menginginkan kemacetan. Para pengguna jalan yang sering mengalami kemacetan sudah merasakan dampaknya yang tidak baik bagi mereka. Oleh karena itu kemacetan ini harus segera menjadi salah satu prioitas utama dalam penyelesaian permasalahan sautu kota. Seluruh pihak yang terlibat perlu berupaya agar dapat mengurangi kemacetan yang terjadi.

Setidaknya dari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa masalah utama yang menyebabkan terjadinya kemacetan, yaitu :

  1. Tidak sebanding antara meningkatnya jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan, termasuk tidak sebandingnya jumlah kendaraan pribadi dan kendaraan umum
  2. Tidak meratanya pusat-pusat kegiatan di perkotaan (tata ruang kota yang belum baik)
  3. Ketidakdisiplinan para pengguna jalan

Solusi

Untuk itu diperlukan solusi yang dapat menanggulangi masalah-masalah tersebut. Untuk masalah pertama terkait peningkatan jumlah kendaraan, maka dapat dilakukan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dengan mengupayakan peningkatan pajak kendaraan pribadi dan penambahan pajak bagi penduduk yang memiliki kendaraan pribadi lebih dari satu. Ini adalah kebijakan secara struktural yang dapat dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Dengan demikian, masyarakat akan memikir ulang untuk membeli kendaraan baru, sehingga dapat menekan peningkatan jumlah kendaraan.

Pada saat yang bersamaan, pemerintah juga perlu melakukan usaha penambahan jaringan jalan dengan melakukan pelebaran jalan, membuat jalan layang (fly over) ataupun underpass. Dengan demikian kapasitas jalan pun semakin bertambah. Akan tetapi penambahan kapasitas jalan ini akan menimbulkan masalah baru dalam pelaksanaannya karena terkait minimnya lahan kosong dan sulitnya melakukan pembebasan lahan.

Solusi ketiga adalah dengan membuat sistem transportasi masal (mass rapid transportation) yang nyaman, seperti yang telah ada saat ini, yaitu busway di Jakarta. Busway telah memberikan dampak yang cukup positif bagi masyarakat Jakarta. Dengan harga yang cukup murah, masyarakat dapat sampai di tujuan dengan terhindar dari macet. Dengan adanya busway, orang mulai beralih dari penggunaan kendaraan pribadi menuju penggunaan mass rapid transportation (MRT).

Sistem transportasi seperti busway ini perlu digalakkan lagi di kota-kota lain. Bahkan untuk rencana jangka panjang, pengadaan sistem monorail, waterway, bahkan hingga subway, juga harus dijadikan prioritas utama. Akan tetapi dengan adanya sistem MRT ini harus dapat saling menyelaraskan antar kepentingan masing-masing dari pihak penyedia dan pengguna, dimana kedua-duanya mempunyai kepentingan untuk membangun kota agar lebih baik. Selain itu jaringan MRT ini harus sudah saling terintegrasi dengan menjangkau berbagai wilayah di kota tersebut yang menjadikan akses angkutan umum tersebut semakin mudah. Dengan demikian, paradigma orang dapat berubah menjadi sadar akan penting dan nyamannya menggunakan sistem transportasi masal tersebut.

Penyelesaian untuk masalah yang kedua -tata ruang kota yang belum baik- adalah pemerintah daerah harus mempunyai rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang menjelaskan bagaimana sebaiknya pembangunan kota ini dilakukan untuk keseluruhan wilayah. Perlu adanya suatu pemerataan pusat kegiatan, sehingga tidak terjadi penumpukan pergerakan di suatu wilayah. Hal ini akan terkait kepada kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah terhadap segala pembangunan yang ada. Pemerintah harus selalu mendasarkan seluruh pembangunannya kepada RTRW yang telah dibuat oleh Pemda. Pemerintah pun harus tegas terhadap kesewenangan pihak tertentu apabila melanggar RTRW.

Dan untuk solusi dari masalah ketidakdisiplinan para pengguna jalan, dapat dilakukan dengan dua metoda, pertama melalui  pendidikan dan kedua adalah dengan memberlakukan aturan yang tegas bagi setiap pelanggar lalu lintas. Kedua metode ini saling mengisi dan memperkuat demi terwujudnya kedisiplinan dalam berkendara. Dengan pendidikan, diharapkan masyarakat dapat sadar akan pentingnya kedisiplinan. Sedangkan dengan peraturan, masyarakat dapat lebih berhati-hati dalam berkendara.

Untuk solusi mengenai pendidikan, sudah mulai dilakukan. Penandatanganan perjanjian telah dilakukan pada tanggal 20 Desember 2009 antara Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dengan Dinas Pendidikan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta tentang integrasi pengembangan kurikulum pendidikan lalu lintas dan angkutan jalan bagi siswa TK, SD, SMP, SMA dan SMK di wilayah DKI Jakarta.

Undang-Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pun yang telah berlaku juga dapat menjadi salah satu solusi dalam upaya penegakan disiplin bagi para pengguna dan penyelenggara transportasi. Akan tetapi peraturan ini pun harus didukung oleh sistem dan infrastruktur yang baik pula.

Kesimpulan

Masalah kemacetan ini harus menjadi kesadaran bagi seluruh elemen masyarakat bahwa jika hal ini terus dibiarkan, maka berbagai kerugian yang diakibatkan akan menjadi masalah-masalah baru bagi masyarakat di kemudian hari. Oleh karena itu, untuk dapat menanggulangi masalah kemacetan ini, maka semua pihak yang ada di masyarakat, mulai dari pengguna transportasi, pihak penyedia, serta pihak pemerintah harus bahu-membahu menyelesaikan masalah ini dengan kesadaran penuh. Tidak cukup hanya dari satu pihak saja, tetapi semuanya yang memiliki tujuan bersama yaitu mewujudkan sistem transportasi yang baik. Semua harus mulai sadar bahwa seluruh solusi tadi akan dapat berwujud, bila semua lapisan masyarakat melakukannya  mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari saat ini. Dengan demikian, sistem transportasi yang baik itu akan menjadi suatu daya dukung bagi bangsa ini agar dapat bersaing dalam percaturan dunia.

Sumber :

  1. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/pelayanan-publik/penanggulangan-kemacetan
  2. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=243107
  3. http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/12/20/dikembangkan-kurikulum-disiplin-berlalu-lintas-di-sekolah-jakarta

Read Full Post »

Menatap 2010…

Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah, pelajaran, yang bisa kita tarik ke masa sekarang untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.”

Masih dalam suasana tahun baru 1431 H dan 2010 M, tepat pada bulan Januari 2010, kita telah beranjak dari tahun lalu, 2009, menuju ke tahun berikutnya yang saya yakin, semua orang ingin menjadikannya sebagai tahun yang lebih baik. Tahun baru adalah momen yang sangat pas, bahkan bisa dikatakan luar biasa tepat untuk melakukan start ulang. Kenapa start ulang ? Ya, seolah-olah bahwa kita sedang melalui suatu episode baru dari kehidupan kita yang dimulai dari 1 Januari ini.

Menatap 2010

Bersamaan dengan berulangnya tahun dan mulai lagi dari bulan yang pertama, Januari, maka kita sangat pas untuk merasakan dan mengatakan bahwa “Inilah lembaran baru diri saya yang akan menjadikan saya menjadi lebih baik dari tahun kemarin”.

Akan tetapi akankah kita biarkan tahun 2009 itu berlalu saja seperti kertas yang melayang ditiup oleh angin ? Apakah kita tidak mau untuk mengintip apa saja isi lembaran tahun 2009 itu dan membiarkannya tertutup rapat, seiring dibukanya lembaran baru ?

Kalimat pembuka tulisan di atas bisa menjadi pijakan kita untuk sejenak melihat (flashback) apa saja yang telah kita lakukan selama tahun kemarin. Kalimat itu saya temukan di novel “Negeri 5 Menara” hal 112, yang ditulis oleh Ahmad Fuadi.  Ternyata sejarah harus dijadikan suatu pelajaran yang sangat berharga bagi diri kita untuk dijadikan sebagai suatu acuan dan refleksi untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Hal-hal yang telah kita lakukan selama tahun 2009 dapat kita lihat kembali, apakah perlu kita lakukan kembali di tahun 2010 sehingga itu membuat diri kita menjadi lebih baik? Segala sifat atau karakter yang melekat pada diri kita di tahun yang lalu, apakah masih pas dan layak untuk dipertahankan pada tahun 2010, sehingga menjadikan kita sebagai manusia yang semakin berkualitas? Adakah karakter yang perlu diubah dan kita ganti dengan karakter yang lebih mulia ? Adakah kekurangan pada diri kita yang perlu dibenahi ?

Pertanyaan-pertanyaan itu perlu kita cari jawabnya ? Dan diri kita yang pantas untuk menjawabnya. Itu semua dapat kita cari jawabnya dengan melihat lembaran tahun lalu. Kesemuanya akan menjadi ibrah / hikmah / pelajaran yang sangat berarti bagi diri dalam merencanakan tahun 2010 yang lebih baik.

Segeralah untuk refleksi diri. Lihatlah diri kita yang terdalam, apakah masih ada yang mengganjal pada diri kita yang dapat menghambat laju kendaraan kehidupan kita ? Jika ada, maka saatnya untuk mengeluarkannya dan membiarkan diri kita menjadi bersih kembali. Lalu, masukkanlah dengan hal-hal yang baik, positif, dan bermakna bagi diri kita. Isilah pikiran kita dengan pikiran yang positif, penuhilah jiwa kita dengan cahaya Ilahi. Tumbuhkan spiritualitas dalam diri kita.

Di saat inilah, momen dimana segala impian, mimpi, atau cita-cita dapat mulai diwujudkan di tahun 2010 ini. Wujudkan menjadi target-target yang insya Allah dapat kita penuhi. Saya yakin kita semua punya target masing-masing yang sudah terbayang dalam pikiran kita. Target yang akan meningkatkan semangat kita dalam menatap tahun 2010. Akan lebih baik lagi, jika target-target kita itu dituliskan ke dalam sebuah kertas atau buku kecil kita yang akan senantiasa mengingatkan diri kita.

Untuk kita semua, para pencari kemuliaan, mari kita berjuang mewujudkannya, semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya dalam meraih target-target mulia yang telah kita rencanakan.

Dan di akhir catatan ini, sebuah kalimat Ilahi menjadi peneguh hati kita dalam berjuang..

“..Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” –Ali Imran, 3 : 159

Read Full Post »