Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Renungan’ Category

Tidak bisa dipungkiri bahwa suatu keterampilan atau kesuksesan dalam suatu bidang tidak lepas dari sebuah kesabaran. Ya, dengan kita terus bersabar menikmati proses yang ada, terus mencoba berusaha mencintai apa yang kita lakukan, maka semua akan terasa indah. Pada saat kita tenggelam dalam asiknya suatu pekerjaan, maka secara tidak sadar, suasana hati kita akan turut terkondisikan dengan baik sesuai dengan perasaan kita.

Tentu untuk membuat kita menikmati apa yang sedang kita lakukan memang tidaklah mudah. Saya sendiri merasakan perjuangan untuk bisa menikmati apa yang sedang concern saya kerjakan saat ini. Secara alamiah saya tidak terlalu menikmatinya, tetapi saya perlu untuk mencoba menjadikannya sebagai suatu kenikmatan. Tidak mudah memang, bahkan dibutuhkan suatu paksaan supaya kita meraih kondisi yang baik itu.

Bukankah mesin solar baru akan panas setelah melewati kurun waktu tertentu. Bukankah para atlet angkat besi perlu mengeluarkan tenaga lebih saat mengangkat bebannya. Bukankah padi di sawah tumbuh setelah melewati tenggat waktu yang tidak cepat. Dan bukankah menuju pucak gunung, perlu melewati jalur yang berliku, berbatu, dan mendaki.

Semua butuh kesabaran dalam menjalaninya.  Pada saat memulai itulah dimana kesabaran perlu kita tanam dalam diri. Ketika kita dalam keadaan terpaksa, pada saat itulah kesabaran memegang perannya, hingga pada suatu waktu, secara tidak sadar kita telah tenggelam dalam pekerjaan kita. Secara tidak sadar, kita telah melewati beberapa waktu dalam pekerjaan itu dan mulai terasa mengalir mengikuti iramanya.

Mulailah dengan 5 menit pertama. Inilah tips yang dapat kita coba. Ya mulai saja dulu selama 5 menit apa yang akan kita lakukan. Tanpa terasa kita telah melewati 5 menit, 15 menit, 30 menit hingga 1 jam kita telah mengerjakan sesuatu yang pada mulanya kita agak malas. Tapi dengan suatu paksaan ini, maka insya Allah rasa keikhlasan akan muncul dengan sendirinya. Bukankah untuk melatih keikhlasan dalam bersedekah, kita perlu berlatih bersedekah terus menerus. Mungkin pada awalnya belum rela 100 %, tetapi setelah berulang kali, maka kita tidak keberatan untuk bersedekah di kemudian hari.

Tidak ada yang salah dengan keterpaksaan, karena kita tidak akan bisa memulainya jika tidak dipaksa. Akan sulit untuk memulai kalau kita harus menunggu dan menunggu hingga kita sudah merasa enak. Kita memaksa diri kita demi kebaikan diri kita, untuk perbaikan kualitas diri, serta untuk memberikan makna pada setiap apa yang kita lakukan. Memaksa di awal, untuk menuai kebermaknaan serta kesuksesan di masa depan. Insya Allah.

Read Full Post »

Saat itu seluruh pemenang perlombaan telah ditentukan, juara 1, 2, dan 3 dari lari marathon itu sudah jelas, dan tidak

John Stephen Akhwari

mungkin berubah lagi. Saat itu pun para penonton sudah mulai beranjak pulang dari stadion. Banyak bangku stadion yang sudah mulai kosong. Akan tetapi tak berapa lama, penonton yang belum pulang itu dikejutkan dengan adanya pengumuman bahwa akan ada pelari yang akan masuk stadion. Penonton kaget, mereka kira sudah selesai perlombaan, tetapi mereka melihat dengan jelas saat seorang pelari memasuki ke stadion dengan terpincang-pincang. Masih lengkap dengan pakaian larinya serta nomor di dadanya, dia masuk ke stadion dan berlari kecil-kecil sambil terpincang dengan balutan luka di kaki kanannya.

Serentak, seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan. Stadion kembali bergemuruh dengan standing ovation. Mereka menyemangati pelari ini untuk terus berlari hingga finish. Suara dukungan disampaikan kepadanya. Dan ini membuat pelari itu terus bersemangat hingga kemudian dia menyentuh garis finish. Dia berhasil sampai pada garis finis, di saat tidak pelari lain lagi. Dia adalah pelari terakhir dalam perlombaan itu. Dia datang saat hari telah malam.

Itulah John Stephen Akhwari, pelari dari Tanzania, yang mengikuti perlombaan lari marathon pada olimpiade di Mexico tahun 1968. Dia menjadi pelari terakhir yang berhasil menyentuh garis finis. Dia menyelesaikan larinya dengan keadaan kakinya yang terluka. Dia cedera karena ternyata saat tengah perlombaan dia terjatuh sehingga betis dan lututnya terluka. Akan tetapi, dia melanjutkannya dengan keadaan lutut dan betis kanan yang dibalut. Sepanjang 5000 mil dia menyelesaikannya.

Luar biasa seorang John Stephen Akwari, inilah namanya. Pemenang sudah ditentukan, penonton sudah mulai beranjak pulang, acara di stadion sudah selesai, tetapi dia tidak peduli. Dia terus bertekad untuk menyelesaikannya. Walaupun sesekali dia berjalan karena kakinya yang kesakitan, dia tetap menuju ke garis finis. Dia tetap mengarah ke tujuannya. Dan benar, dia sampai ke sana.

Ketika setelah perlombaan, dia ditanya oleh wartawan mengapa dia tidak mengundurkan diri saja karena kakinya yang cedera dan sudah tidak mungkin untuk menang, dia menjawab dengan sangat sederhana, tetapi bagi saya luar biasa sangat bermakna. Dia mengatakan seperti ini,

My country didn’t sent me 5000 miles to start the finish, but they sent me 5000 miles to finish the race.”

Boleh saja John Stephen Akwari tidak menjadi juara satu, dua, atau tiga yang mendapatkan piala, tetapi dia juga adalah pemenang. Bahkan pemenang yang luar biasa. Dia telah membuktikan kepada dunia apa yang dinamakan kehormatan itu. Dia adalah contoh bagaimana menyelesaikan sesuatu yang telah dimulainya. Dia adalah teladan dalam memperjuangkan kehormatannya.

Negaranya tidak mengirim dirinya hanya untuk memulai perlombaan, tetapi mereka mengirimnya sejauh 5000 mil untuk menyelesaikannya. Bagaimanapun kondisinya, dia punya amanah untuk memperjuangkan harkat dan martabat bangsanya. Dia memberikan keharuman bagi negaranya dan membuktikan bahwa negaranya bukanlah negara yang lemah.

Subhanallah, begitu tidak menyerahnya dia, bagaimana kekuatan keyakinannya dapat memberikan tambahan tenaga serta motivasi bagi dirinya untuk menyelesaikan lomba itu. Inilai pemenang sejati. Dialah yang berhak mendapatkan medali emas sesungguhnya. Sebuah medali kehormatan.

Saya jadi merasa malu dengannya. Terkadang apa yang telah saya mulai, hanya dengan sedikit hambatan membuat saya gentar. Apa yang telah direncanakan, begitu memulainya membuat saya takut untuk melakukannya, hingga rencana itu hanya menjadi sebuah rencana.

John Stephen Akwari memberikan inspirasi serta motivasi bagi saya agar terus berusaha dan memperjuangkan apa yang telah saya mulai. Apa yang telah saya lakukan sejauh ini, janganlah berhenti. Perjuangkan dengan sekuat-kuatnya. Sukseskan apa yang telah saya perjuangkan hingga tuntas dengan mengeluarkan seluruh kemampuan saya. Karena ikhtiar haruslah diperjuangkan. Barulah jika telah berikhtiar maksimal maka kita menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.

John Stephen Akwari menyelesaikannya dengan perjuangannya yang luar biasa, sebuah akhir yang baik. Sudah tentu, Allah juga menakdirkan kita semua lahir di dunia ini bukanlah hanya untuk memulainya, tetapi kita harus memperjuangkan untuk mendapatkan akhir yang baik pula, untuk mendapatkan kehormatan dari Sang Pencipta. Kita berjuang untuk mendapatkan ridho-Nya.

Jika kita sekarang adalah seorang mahasiswa, maka perjuangkanlah hingga kita bisa lulus dengan baik pula. Jika kita adalah seorang pebisnis, maka sukseskanlah bisnis yang telah dimulai hingga dapat menjadi manfaat bagi sesama. Jika kita adalah sesorang yang telah punya rencana mulia, maka teruslah berjuang untuk mewujudkannya. Janganlah menyerah.

Teman-teman marilah kita bersama-sama mesukseskan apa yang telah kita perjuangkan. Apa pun itu selama itu adalah kebaikan, bahkan sekecil apapun, maka kita perjuangkan.

Read Full Post »

Bahagia Itu Jauh Lebih Bermakna

Apakah ada beda antara kebahagiaan dengan kesenangan ? Saya melihat ada bedanya dan dapat saya rasakan. Kalau

Begitu Bermakna

bahagia itu jauh lebih dalam ketimbang kesenangan. Bahagia itu lebih bermakna bagi diri kita dari pada sekedar mendapat kesenangan. Kebahagiaan itu jauh lebih berharga dan sangat mahal dari pada harga sebuah kesenangan.

Saya senang jalan-jalan, tapi saya bahagia dengan menjadi penulis. Saya senang makan pisang keju, tapi saya lebih bahagia saat mengajar. Saya senang nonton film, tetapi saya merasakan bahagia saat bisa memberikan sesuatu kepada orang lain. Saya senang dengan udara sejuk, tapi saya bahagia dengan bersepeda.

Bahagia itu lebih menyentuh ke dalam diri seseorang dan dia akan merasakan sesuatu yang jauh lebih nyaman. Saat seseorang telah dapat menemukan potensi dirinya dan jati dirinya yang terdalam lalu kemudian dia mengaktualisasikannya dalam kehidupannya, maka dia akan bisa merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan adalah anugrah yang Allah berikan kepada kita melalui potensi-potensi yang kita miliki.

Kebahagiaan adalah menyangkut sesuatu yang dapat membuatnya semakin bermakna. Tidak hanya bermakna bagi dirinya tapi juga bagi orang lain. Kebahagiaan identik dengan manfaat yang berjangka panjang. Tidak semu dan dapat benar-benar kita rasakan. Kebahagiaan adalah milik semua orang. Dan saya yakin setiap orang pernah merasakan kebahagiaan itu dan perasaan ini beda dari hanya sekedar kesenangan.

Mungkin ada yang bahagia dengan memberi permen kepada anak kecil. Ada yang bahagia dengan menjadi kakak asuh. Ada yang bahagia dengan memberikan manfaat dengan tulisannya. Mungkin ada yang bahagia menjadi pemimpin yang amanah. Bisa juga  dia merasa bahagia saat melihat orang lain bahagia. Dan dia bahagia menjadi orang yang memberikan kenyamanan bagi orang lain. Dia pun bahagia saat tersenyum  kepada orang lain dan membuatnya tersenyum juga. Ataupun dia akan bahagia jika bisnisnya dapat juga bermanfaat bagi masyarakat. Tidak hanya untuk kepentingan dirinya, tetapi kepentingan sesama.

Dia bahagia dengan apa yang dilakukannya karena dia merasa hal itu adalah sesuatu yang bermakna bagi dirinya maupun bagi sesamanya.

Read Full Post »

Menatap 2010…

Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah, pelajaran, yang bisa kita tarik ke masa sekarang untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.”

Masih dalam suasana tahun baru 1431 H dan 2010 M, tepat pada bulan Januari 2010, kita telah beranjak dari tahun lalu, 2009, menuju ke tahun berikutnya yang saya yakin, semua orang ingin menjadikannya sebagai tahun yang lebih baik. Tahun baru adalah momen yang sangat pas, bahkan bisa dikatakan luar biasa tepat untuk melakukan start ulang. Kenapa start ulang ? Ya, seolah-olah bahwa kita sedang melalui suatu episode baru dari kehidupan kita yang dimulai dari 1 Januari ini.

Menatap 2010

Bersamaan dengan berulangnya tahun dan mulai lagi dari bulan yang pertama, Januari, maka kita sangat pas untuk merasakan dan mengatakan bahwa “Inilah lembaran baru diri saya yang akan menjadikan saya menjadi lebih baik dari tahun kemarin”.

Akan tetapi akankah kita biarkan tahun 2009 itu berlalu saja seperti kertas yang melayang ditiup oleh angin ? Apakah kita tidak mau untuk mengintip apa saja isi lembaran tahun 2009 itu dan membiarkannya tertutup rapat, seiring dibukanya lembaran baru ?

Kalimat pembuka tulisan di atas bisa menjadi pijakan kita untuk sejenak melihat (flashback) apa saja yang telah kita lakukan selama tahun kemarin. Kalimat itu saya temukan di novel “Negeri 5 Menara” hal 112, yang ditulis oleh Ahmad Fuadi.  Ternyata sejarah harus dijadikan suatu pelajaran yang sangat berharga bagi diri kita untuk dijadikan sebagai suatu acuan dan refleksi untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Hal-hal yang telah kita lakukan selama tahun 2009 dapat kita lihat kembali, apakah perlu kita lakukan kembali di tahun 2010 sehingga itu membuat diri kita menjadi lebih baik? Segala sifat atau karakter yang melekat pada diri kita di tahun yang lalu, apakah masih pas dan layak untuk dipertahankan pada tahun 2010, sehingga menjadikan kita sebagai manusia yang semakin berkualitas? Adakah karakter yang perlu diubah dan kita ganti dengan karakter yang lebih mulia ? Adakah kekurangan pada diri kita yang perlu dibenahi ?

Pertanyaan-pertanyaan itu perlu kita cari jawabnya ? Dan diri kita yang pantas untuk menjawabnya. Itu semua dapat kita cari jawabnya dengan melihat lembaran tahun lalu. Kesemuanya akan menjadi ibrah / hikmah / pelajaran yang sangat berarti bagi diri dalam merencanakan tahun 2010 yang lebih baik.

Segeralah untuk refleksi diri. Lihatlah diri kita yang terdalam, apakah masih ada yang mengganjal pada diri kita yang dapat menghambat laju kendaraan kehidupan kita ? Jika ada, maka saatnya untuk mengeluarkannya dan membiarkan diri kita menjadi bersih kembali. Lalu, masukkanlah dengan hal-hal yang baik, positif, dan bermakna bagi diri kita. Isilah pikiran kita dengan pikiran yang positif, penuhilah jiwa kita dengan cahaya Ilahi. Tumbuhkan spiritualitas dalam diri kita.

Di saat inilah, momen dimana segala impian, mimpi, atau cita-cita dapat mulai diwujudkan di tahun 2010 ini. Wujudkan menjadi target-target yang insya Allah dapat kita penuhi. Saya yakin kita semua punya target masing-masing yang sudah terbayang dalam pikiran kita. Target yang akan meningkatkan semangat kita dalam menatap tahun 2010. Akan lebih baik lagi, jika target-target kita itu dituliskan ke dalam sebuah kertas atau buku kecil kita yang akan senantiasa mengingatkan diri kita.

Untuk kita semua, para pencari kemuliaan, mari kita berjuang mewujudkannya, semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya dalam meraih target-target mulia yang telah kita rencanakan.

Dan di akhir catatan ini, sebuah kalimat Ilahi menjadi peneguh hati kita dalam berjuang..

“..Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” –Ali Imran, 3 : 159

Read Full Post »

Ya Allah,

Jadikanlah cahaya dalam hatiku

Cahaya dalam kuburanku

Cahaya dalam pendengaranku

Cahaya dalam penglihatanku

Cahaya dalam rambutku

Cahaya dalam kulitku

Cahaya dalam dagingku

Cahaya dalam darahku

Cahaya dalam tulang-tulangku

Cahaya di hadapanku

Cahaya di samping kananku

Cahaya di samping kiriku, dan

Cahaya di atasku dan di bawahku

Ya Allah,

Tambahkanlah cahaya bagiku

Limpahkan cahaya untukku

Dan jadikanlah aku cahaya

Ini adalah doa yang dapat disebut sebagai “doa Cahaya”. Saya menemukannya di bukunya Pa Hernowo (penggagas Mengikat Makna) yang berjudul “Terapi Hati di Tanah Suci”. Doa ini adalah salah satu doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah setelah melakukan shalat Fajar sebelum matahari terbit. Doa ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra.

Bagi saya doa ini begitu indah. Doa ini begitu membuat hati saya merasakan sesuatu yang luar biasa. Ada perasaan tenang dan terharu saat membaca doa ini. Saat saya mengucapkannya, saya merasa kata-kata itu seeprti cahaya yang sedang menyelimuti diri saya.

Siapa, manusia yang tidak ingin menjadi cahaya bagi lingkungannya ? Siapa, orang yang ada di dunia ini yang tidak ingin dapat bermanfaat bagi sesamanya ? Saya rasa tidak ada. Pada dasarnya semua orang adalah baik dan ingin berlaku baik, tetapi mungkin keadaan yang membuatnya terkadang lepas dari kendalinya.

Dan saya yakin kita semua ingin bisa menjadi seorang yang dapat menerangi sekitar kita  dengan keberadaan diri kita. Kita semua ingin bisa jadi cahaya itu yang akan membawa kebaikan bagi lingkungan kita. Saya ingin menjadi cahaya itu, seperti Rasulullah yang telah benar-benar menjadi cahaya dan telah meneranginya dengan membawa kebaikan dan kebenaran bagi dunia ini.

Ya Allah, jadkikanlah kami cahaya

Read Full Post »

Kepercayaan akan tumbuh apabila saya dapat membuktikannya bahwa saya memiliki integritas. Saya merasa ingin dapat membayar kepercayaan teman-teman saya terhadap apa pun itu dengan usaha dan perjuangan yang saya lakukan. Memang berat untuk membuktikannya. Begitu banyak godaan dan ajakan untuk bersantai-santai. Akan tetapi hal tersebut insya Allah akan dapat diatasi dengan baik..

Saya ingin mencoba menyelesaikan hal-hal kecil yang mungkin dikira sepele, tetapi itu sangat mempengaruhi yang namanya kepercayaan tadi. Sekali saja saya meremehkannya, maka akan cukup sulit untuk mengembalikannya. Mungkin hal ini tidak terlalu dirasa saat saya masih kuliah, walaupun saya mungkin mulai merasakannya. Apalagi jika hal tersebut terjadi di dunia luar sana, setelah kuliah. Bertemu dengan berbagai macam orang dengan latar belakang yang jauh lebih berbeda. Sedikit saja kita melakukan suatu hal yang merugikan orang lain, maka integritas kita akan turun.

Saat di kuliah ini, integritas kita mungkin tidak terlalu diuji, karena masih dipengaruhi oleh pertemanan. Sebuah keakraban atau pertemanan terkadang membuat saya menjadi tidak punya integritas. Muncul sebuah anggapan, “ Ah, santai saja, dia pasti ngerti kok. Dia kan teman saya. Gak apa apa klo saya tidak mengerjakannya. Pasti dia memaklumkannya. “

Tapi sebenarnya hal tersebut sangat mempengaruhi diri saya. Apa yang saya pikirkan, mungkin tidak dipikirkan oleh orang lain. Anggapan saya tentang itu, mungkin ditanggapi yang berbeda oleh teman saya. Mungkin dia tidak mengekspresikannya dalam tindakan dan sikapnya, tetapi hatinya mungkin tidak bisa dibohongi. Dia tidak mau memperlihatkannya kepada saya, karena pertemanan yang telah terjalin.

Jadi, saya berusaha untuk dapat melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Memang saya harus bisa menempatkan dengan baik dan bijak antara pertemanan dan pekerjaan yang harus diselesaikan. Hal ini melatih diri saya, agar jangan sekali-kali saya meremehkan hal-hal kecil. Karena hal-hal besar dibangun dari hal-hal yang kecil.

Read Full Post »

Waktu akan bermakna, bernilai, dan menjadi suatu yang sangat berharga, saat kita isi dengan amal shaleh dan karya..Di luar itu tidak akan bernilai apa-apa.

Read Full Post »

Older Posts »