Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2009

Kepercayaan akan tumbuh apabila saya dapat membuktikannya bahwa saya memiliki integritas. Saya merasa ingin dapat membayar kepercayaan teman-teman saya terhadap apa pun itu dengan usaha dan perjuangan yang saya lakukan. Memang berat untuk membuktikannya. Begitu banyak godaan dan ajakan untuk bersantai-santai. Akan tetapi hal tersebut insya Allah akan dapat diatasi dengan baik..

Saya ingin mencoba menyelesaikan hal-hal kecil yang mungkin dikira sepele, tetapi itu sangat mempengaruhi yang namanya kepercayaan tadi. Sekali saja saya meremehkannya, maka akan cukup sulit untuk mengembalikannya. Mungkin hal ini tidak terlalu dirasa saat saya masih kuliah, walaupun saya mungkin mulai merasakannya. Apalagi jika hal tersebut terjadi di dunia luar sana, setelah kuliah. Bertemu dengan berbagai macam orang dengan latar belakang yang jauh lebih berbeda. Sedikit saja kita melakukan suatu hal yang merugikan orang lain, maka integritas kita akan turun.

Saat di kuliah ini, integritas kita mungkin tidak terlalu diuji, karena masih dipengaruhi oleh pertemanan. Sebuah keakraban atau pertemanan terkadang membuat saya menjadi tidak punya integritas. Muncul sebuah anggapan, “ Ah, santai saja, dia pasti ngerti kok. Dia kan teman saya. Gak apa apa klo saya tidak mengerjakannya. Pasti dia memaklumkannya. “

Tapi sebenarnya hal tersebut sangat mempengaruhi diri saya. Apa yang saya pikirkan, mungkin tidak dipikirkan oleh orang lain. Anggapan saya tentang itu, mungkin ditanggapi yang berbeda oleh teman saya. Mungkin dia tidak mengekspresikannya dalam tindakan dan sikapnya, tetapi hatinya mungkin tidak bisa dibohongi. Dia tidak mau memperlihatkannya kepada saya, karena pertemanan yang telah terjalin.

Jadi, saya berusaha untuk dapat melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Memang saya harus bisa menempatkan dengan baik dan bijak antara pertemanan dan pekerjaan yang harus diselesaikan. Hal ini melatih diri saya, agar jangan sekali-kali saya meremehkan hal-hal kecil. Karena hal-hal besar dibangun dari hal-hal yang kecil.

Read Full Post »

Perasaan ingin dihargai, perasaan ingin diakui oleh orang lain, dan perasaan bahwa kita telah melakukan sesuatu bagi orang lain adalah suatu perasaan yang mungkin pernah dirasakan oleh setiap manusia, termasuk diri saya ini.

Manusia, pada dasarnya memiliki egonya masing-masing yang menginginkan dirinya diakui oleh lingkungannya, termasuk saya. Segala usaha yang telah kita lakukan, rasanya ingin ada orang yang menghargainya. Segala pengorbanan yang telah kita keluarkan, rasanya ingin ada seseorang yang membicarakannya.

Tapi, untuk apa semua itu kawan ?

Setelah kita mendapatkannya itu semua, apa yang akan kita lakukan ? merasa senangkah ? merasa banggakah ? merasa diri ini melayang-layang ? Apakah dengan itu semua membuat kita semakin ingin diakui terus menerus ?

Rasanya tidak kawan. Saya seharusnya berpikir kembali, bahwa apa yang didapat pada diri saya ini, apa yang saya peroleh selama ini, segala kesuksesan, segala kebaikan, adalah dari Allah. Adalah nikmat yang Allah berikan kepada saya. Adalah anugrah yang sudah sepatutnya saya mensyukurinya. Bukan seolah-seolah itu milik saya. Bukan seolah-seolah hasil yang diperoleh itu hanya merupakan jeri payah diri saya. Tetapi ada yang memberinya. Allah lah, Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia lah yang memberikannya kepada saya.

Sehingga, segala apresiasi ataupun pujian yang diberikan, sudah sepantasnya kita kembalikan kepada Yang Maha Terpuji, kepada Yang Maha Agung, kepada Sang Khaliq, yaitu Allah SWT. Seringkanlah diri ini untuk melantunkan bacaan hamdalah :

“ Alhamdulillaahi Rabbil Aa’lamiin ”

(segala puji baga Allah, Tuhan semesta alam)

Tak hanya hamdalah, tetapi mohon ampunlah kepada-Nya. Karena sebetulnya segala pujian itu mungkin hanya sebatas penutup aib diri kita yang dilumuri oleh dosa. Oleh karenanya, marilah kita ucapkan selalu istighfar  :

“Astagfirullahal adziim “

(Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung)

Tak usahlah diri saya ini memikirkan apa yang akan diberikan oleh orang lain, tak usahlah berharap sesuatu dari orang lain, tetapi pikirkanlah apa yang bisa saya berikan bagi orang lain, dan yang terpenting adalah saya harus membuat hari-hari saya penuh dengan makna, menjalaninya dengan ikhlas kepada-Nya serta, mengisinya dengan memberikan cinta kepada sesama.

“ Karena cinta adalah saat kita dapat memberikan kebaikan, kebahagiaan, dan senyuman dengan tulus kepada orang lain.”

Read Full Post »

Perjalanan saya dari rumah ke kampus ITB, dapat ditempuh hanya dengan satu angkot, pakai angkot yang warna pink. Saya lupa apa nama jurusannya, klo ga salah simpang dago-bumi panyileukan. Rutenya dari Sukamiskin-Cicaheum-Suci-Pasar suci-Gasibu-Dago. Ongkosnya sekitar 3000-3500 sekali jalan, ditempuh sekitar 30-40 menit klo tidak banyak ngetem. Biasanya saya pun pakai angkot itu klo ke kampus..

Akan tetapi jumat ini saya tidak menggunakan angkot pink, tapi angkot putih kuning yang nama jurusannya Panghegar-Dipatiukur. Warna-warna angkot yg saya sebutkan tadi tidak ada hubungannya dengan partai politik..hehe. Kenapa saya pakai angkot putih-kuning?

Di sekitar masjid pusdai klo hari jumat tuh biasanya ada pasar jumat yang bisa membuat macet jalan menuju ke pusdai itu. Gara-gara itu, saya jadinya make angkot yang rutenya agak muter dulu. Memang cukup sekali saja dari Cicaheum-ahmad yani-sukabumi-riau-masjid istiqamah-belakang gedung sate-diponegoro-taman sari-sampai ke jalan ganesha. Lumayan agak jauh dan lebih lama. Tapi klo jumat, akan lebih cepat jika pake angkot putih-kuning, sekitar 45 menit.

Tapi jumat ini, ada yang beda. Saya naik angkot putih-kuning ini 3 kali. Saya ganti dua kali angkot ini di jalan jakarta, dan deket masjid istiqamah. Padahal angkotnya sama. Pada pergantian yang pertama, saya diturunkan oleh sopir angkotnya karena tidak ada penumpang lagi kecuali saya. Saya pun membayar Rp 2000. Sepertinya dia mau langsung muter kembali ke ahmad yani dan tidak melanjutkan seperti rute sebenarnya.

Pas pergantian yang kedua, sopirnya kembali menurunkan saya dan satu penumpang lagi karena akan di-charter oleh anak-anak SMP yang butuh dua angkot ke Cimbeuluit (terdengar dari percakapan sopir dan anak2 SMP itu). Akhirnya saya harus rela turun untuk mengalah kepada anak-anak SMP itu. Tapi yang menarik saya tidak perlu bayar alias gratis. Terima kasih Pak sopir ya…

Akhirnya saya naik angkot putih-kuning untuk yang ketiga kalinya. Alhamdulillah untungnya saya tidak diturunkan lagi di suatu tempat lagi sampai akhirnya saya samapi di kampus.

Apa yang menarik dari pergantian angkot tadi ?

Saya melihat para sopir angkot itu telah memikirkan peluang untuk mendapatkan pendapatan lebih dengan tidak harus selalu patuh dengan rute dari ujung ke ujung.

Pada pergantian pertama, sopir tadi telah memilih untuk memutar balik angkotnya daripada harus melanjutkannya. Dengan kembali ke daerah Cicaheum, dia akan bisa mendapatkan penumpang lebih banyak ketimbang lewat jalan Riau. Karena memang masih cukup pagi saat itu sekitar jam 8.30. Jam segitu masih cukup banyak orang yang belanja ke pasar baik di Cicaheum maupun di ahmad yani.

Beda lagi pada pergantian yang kedua, dia melihat peluang emas bahwa mobilnya di-charter. Jelas ini sangat menguntungkan dan akan sangat rugi jika peluang ini dibuang percuma. Saya sempat mendengar sopir ini menawar Rp 75000 sampai ke Cimbuleuit. Jika dibagi 14 orang, berarti sekitar Rp5300-an per orang. Waw…bagi saya agak cukup mahal dari Masjid Istiqamah ke Cimbuleuit seharga itu. Tapi saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

Saya melihat dari dua pergantian tadi, para sopir angkot benar-benar berusaha untuk mendapatkan pemasukan yang banyak dan mencari strategi bagaimana pengeluaran untuk bensi dapat benar-benar dimanfaatkan untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya. Hal ini juga menandakan bahwa sebetulnya pemasukan mereka pas-pas an per harinya untuk membayar bensin dan setoran per harinya.

Oleh karena itu insya Allah saya rela jika jumat itu saya diturunkan dua kali. Saya menganggapnya sebuah hal yang wajar. Hal ini seharusnya juga dapat mengetuk hati saya bahwa saya harus berusaha mengerti keadaan mereka. Para sopir angkot harus terus berjuang untuk mendapat pemasukan. Memang agak membuat kita kesel dan menjadi tidak sabaran klo angkot yang kita naikin ini ngetem.

Ya,memang seperti itu keadannya. Saya harus dapat lebih mengerti dan bersabar..

Read Full Post »

Hari ini, siang ini, terasa begitu panas. Jam 11-an menuju matahari berada persis di atas kepala, terik mataharinya sangat menyengat, sehingga keringat keluar dari leher saya. Panasnya akan semakin panas karena adanya debu-debu yang bertebaran di udara disertai asap-asap kendaraan bermotor yang kurang sehat. Beginilah keadaan Bandung pada hari ini. Sepertinya efek pemanasan global benar-benar terasa di Bandung ini. Global warming in Bandung. Udara di kota ini sudah tidak lagi sesejuk dahulu.

Selain panas, ternyata perjalanan saya menuju ke rumah diwarnai kemacetan di jalanan. Penuh dengan mobil dan motor yang ingin menikmati hari sabtu ini. Macet yang membuat saya begitu lelah dan tidak nyaman, karena memang saya agak cukup letih hari ini, karena malamnya ada acara training yang membuat saya hanya tidur 2 jam.

Dua kondisi yang saya rasakan siang itu, panas dan macet.

Akan tetapi saya berharap, semoga keadaan hati saya saat ini tidak sedang panas, melainkan tetap menyejukkan baik bagi diri saya sendiri maupun bagi orang lain. Biarlah udara kota ini begitu panas, akan tetapi hati tetap sejuk. Biarlah sinar mentari begitu teriknya , tetapi hati tetap memberikan kenyamanan bagi diri saya.

Semoga juga jalan pikiran saya tidak macet, melainkan tetap lancar dan dapat berpikir dengan jernih. Biarlah kondisi jalanan macet, tetapi pikiran saya tetap lancar. Biarlah mobil dan motor memenuhi jalanan, akan tetapi saya tidak akan biarkan pikiran-pikiran negatif memenuhi pikiran saya.

Jadikanlah hidup ini penuh dengan kemuliaan dengan memiliki hati yang sejuk dan pikiran yang jernih..

Read Full Post »