Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2011

Di tengah perjalanan bersepeda menuju kampus pada hari sabtu ini, saya melihat seorang Bapak tua dengan gerobaknya, sedang duduk di trotoar. Bapak itu terlihat lelah, hingga saya sempat melihatnya tertidur dalam duduknya. Bapak itu memejamkan matanya sejenak, terlihat sedang melepas lelahnya.

Saya berada di depannya, sekitar 5 meter. Saya memperhatikan bapak itu dari sepeda.  Pasti ia telah berjualan sejak pagi dengan mendorong gerobaknya itu yang saya kira tidak ringan. Saat itu saya masih diam.

Tak lama kemudian, ada mobil yang berhenti dekat gerobak Bapak tadi. Lalu keluar dari bangku supir, seorang bapak yang menghampiri si Bapak penjual ini. Terdengar oleh saya, dia menanyakan tentang suatu tempat. Lalu dengan semangat si Bapak tua penjual tadi menjelaskan sambil menunjuk dengan tangannya. Padahal baru saja dia tertidur sebentar. Tapi ia menjelaskannya dengan semangat dan tidak terlihat malas.

Saya terharu melihatnya. Di tengah kelelahannya, dia tetap bersemangat untuk membantu sesama. Luar biasa. Bapak tadi mengucapkan terima kasih dan kembali mengendarai mobilnya. Lalu saya menghampirinya.

Tanpa bermaksud untuk menguji, tapi saya menanyakan arah juga. Saya bertanya tentang arah kampus saya – yang sebetulnya sudah saya ketahui. Saya sempat kebingungan untuk bersikap seperti apa. Tapi saya juga ingin membantunya. Lagi, dia pun dengan semangat menunjukkan arah itu kepada saya. Cukup jelas dia menerangkannya. Luar biasa.

Saya berterima kasih dan mulai mengajaknya mengobrol. Saya menanyakan apa yang sedang dijualnya. Saya bertanya berjualan dari jam berapa dan sudah berapa yang terjual. Yang membuat saya semakin terharu adalah saat ia mengucapkan “Alhamdulillah” dengan dagangannya yang baru terjual dua barang. Tapi dia tetap bersyukur tentang apa yang telah dicapainya hari ini. Di tengah kesulitannya, dia tetap bersyukur. Saya belajar darinya. Bersyukur itu ternyata tidak hanya saat senang, tapi juga pada saat susah.

Akhirnya saya membeli sebuah kemoceng darinya. Saya ingin membantunya. Dan saya memberikan pecahan terbesar dari dompet saya, tanpa mengharap kembalian darinya. Semoga bisa bermanfaat baginya. Saya bersyukur bisa bertemu dengan Bapak penjual yang sangat tegar ini dan masih terus mau membantu sesama walaupun badan sudah cukup lelah.

Alhamdulillah, doa mengalir dari mulut Bapak itu. Dan saya pun berdoa untuknya. Berdoa untuk keluarganya. Semoga beliau senantiasa diberkahi oleh Allah. Seorang Bapak yang senantiasa menghindari dari meminta-minta. Saya bahagia dengan pertemuan ini. Sebuah kebahagiaan yang sangat bermakna.

Sebuah pertanyaan terbesit dalam diri saya, sudahkah saya bersyukur dengan keadaan saya sekarang.walaupun sedang dalam tertekan, walaupun sedang dalam sulit, walaupun sedang dalam kedaan yang tidak saya harapkan ?

Advertisements

Read Full Post »