Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2009

Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan bacaan novel “Negeri 5 Menara” yang ditulis oleh Ahmad Fuadi. Bersyukur

Buku Negeri 5 Menara2

saya bisa membaca novel ini. Begitu membawa suasana hati agar terus semangat. Membangkitkan gairah untuk bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh.

Saya benar-benar merasakannya. Saat saya harus menyelesaikan beberapa tugas, dan kondisi saat itu sedang down. Lalu, saya sejenak melanjutkan membaca novel itu dan menemukan suatu fragmen cerita yang mengisahkan sang tokoh utama dalam novel itu, Alif, sedang semangat untuk menyelesaikan sekolahnya di pondok Madani (Gontor). Alif termotivasi setelah bertemu dengan ayahnya yang jauh datang dari Sumatera Barat hanya untuk meyakinkan anaknya agar tetap berjuang di Pondok Madani. Di novel itu dikisahkan bagaimana Alif segera termotivasi untuk terus belajar, membaca buku-buku yang akan diujiankan, hingga larut malam.

Suasana yang ada dalam novel itu langsung membangkitkan semangat saya untuk melanjutkan tugas saya yang saya tunda itu. Saya segera meletakkan novel itu dan menghidupkan kembali laptop saya yang sebelumnya telah dimatikan karena berpikir akan mengerjakan esok paginya. Saat itu pukul 22.30. Tak terasa saya melanjutkan kerjaan saya hingga hampir jam 24.00. Tak terasa, semangat yang ditebarkan dari novel itu begitu terasa.

Ahmad Fuadi, Penulis Negeri 5 Menara

Satu hal yang menjadi inti dari novel ini adalah sebuah peribahasa arab yang sangat terkenal. “Man jadda wa jadda” (Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil). Ya, peribahasa ini jelas dideskripsikan dengan baik melalui kisah-kisah dalam novel ini.

Tidak rugi membaca novel ini, karena membuat diri saya menjadi semangat kembali. Saya sudah merasakan manfaat dari membaca novel ini. Saya yakin para pembaca lainnya juga bisa merasakannya. Saya menyelesaikannya dalam 5 hari novel setebal sekitar 410-an halaman itu.

Saya juga sempat mencatat kalimat-kalimat yang memotivasi saya saat sedang membaca novel itu. Saya tidak ingin dari apa yang say abaca itu tidak menghasilkan apa-apa, sehingga saya berusaha untuk menulis apa yang berharga bagi diri saya

Di sini saya juga akan kembali menuliskannya :

Man jadda wa jadda

(Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil)

Man shabara zhafira

(Siapa yang bersabar, akan beruntung)

Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah, pelajaran, yang bisa kita tarik ke masa sekarang untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.” Hal 112

Bacalah Al-Quran dan hadits dengan mata hati kaliah. Resapilah dan lihatlah mereka secara menyeluruh, saling berkait menjadi pelita bagi kehidupan kita.” Hal 113

Pasang niat kuat, berusaha keras, dan berdoa khusyuk. Lambat laun, apa yang kalian perjuangkan akan berhasil. Ini Sunnatullah (hukum Tuhan).” Hal 136

Innallahu jami’il wahuwa yuhibbul jamal

(Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan). Hal 35

Uthlubul ilma walau bisshin

(Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina). Hal 17

Uthlubul ilma minal mahdi ila lahdi

(Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat) Hal 190

Man thalabal ‘ula sahiral layali

(Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, maka bekerjalah sampai jauh malam). Hal 196

Ballighul anni walau aayah

(Sampaikanlah sesuatu dariku, walau hanya sepotong ayat).” Hal 219

Proses mencatat itulah yang mematri kosa kata baru di kepala kita.” Hal 265

I’malu fauqa wa amilu

(Berbuat lebih dari apa yang diperbuat orang lain). Hal 267

Kullukum ra’in wa kullukum masulun an raiyatihi

(Setiap orang itu pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya itu). Hal 297.

Advertisements

Read Full Post »

Benarkah orang-orang seperti ini sudah sangat LANGKA di Indonesia saat ini ? Sulitkah menemukan orang-orang yang melakukan tugasnya dengan sebenar-benarnya ? Apakah benar Indonesia sulit untuk menghasilkan orang-orang yang memiliki integritas ketika sudah menjadi PEJABAT ?

Pertanyaan-pertanyaan ini sedang memenuhi pikiran saya saat ini. Topik ini muncul ketika saya sedang melakukan percakapan dengan ayah saya di mobil saat perjalanan ke rumah. Bermula saat saya mendengar kata LANGKA dari ayah saya yang ditujukan kepada beberapa orang pejabat dan mantan pejabat. Ayah saya mengatakan bahwa orang-orang ini adalah manusia langka di Indonesia. Orang-orang ini punya kejujuran dan kesederhanaan yang luar biasa saat menjadi pejabat pemerintahan.

Pertama, dia adalah Mar’i Muhammad. Orang yang dikenal cukup tegas dengan Amerika ini, pernah menjabat menjadi Dirjen Pajak. Saat menjadi Dirjen ini beliau mendapat rumah dinas yang tidak cukup besar, hanya memiliki tiga kamar saja. Satu digunakan oleh beliau dan istrinya, dan dua lagi digunakan oleh anaknya. Beliau tidak memiliki ruang kerja, dimana ia bisa berfokus dengan tugas-tugasnya sebagai Dirjen. Suatu saat Menteri Keuangan saat itu, hendak datang ke kediaman Mar’i Muhammad. Ketika menteri datang, Mar’i sedang mengerjakan tugas sebagai Dirjen di meja makannya. Dan pada saat itu menteri keuangan cukup kaget melihat seorang Dirjen melakukan tugasnya di meja makan.

Dirjen Pajak adalah sebuah jabatan yang dikelilingi oleh “uang”. Bagaimana tidak? Setiap harinya berurusan dengan pajak yang merupakan suatu iuran yang wajib dikeluarkan oleh warga negara Indonesia. Bila Mar’i, sedikit saja “terbawa arus”, maka dia bisa memiliki rumah yang besar. Bayangkan, selama lima tahun menjabat dia tidak punya rumah sendiri. Rumahnya hanya dari rumah dinas dengan tiga kamar itu. Coba kita lihat rumah-rumah dinas beserta fasilitas para pejabat saat ini ?

Kedua, dia adalah dewan penasehat KPK saat ini, namanya Abdullah Hehamahua.. Ayah saya saat bercerita

Abdullah Hehamahua

tentangnya, menyebut Abdullah sebagai orang yang spartan dan memiliki idealisme yang luar biasa. Dia adalah mantan aktivis di HMI dulu. Ayah saya mengisahkan suatu saat, Abdullah ini hendak mendatangi seorang yang akan diperiksa olehnya. Orang yang akan diperiksa ini, menawarkan jemputan kepada Abdullah untuk datang ke tempatnya. Akan tetapi beliau menolak. Dia datang dengan menggunakan taksi. Kemudian ketika selesai diperiksa, beliau pun ditawari “oleh-oleh” sebelum pulang. Lagi-lagi Abdullah menolak. Tapi orang ini memaksanya, hingga kemudian Abdullah berkata, “Jika Saudara masih memaksa-maksa saya, maka saya akan melaporkan Saudara atas perkara penyuapan kepada KPK!” Seketika pun orang yang diperiksa itu surut dan takut.

Lalu orang langka yang ketiga adalah, Pak Hoegeng. Beliau adalah mantan Kapolri yang terkenal dengan kejujurannya. Untuk menggambarkan kujujuran beliau, sebuah anekdot berkembang, “Hanya ada tiga polisi yang jujur. Pertama, Pak Hoegeng, kedua adalah polisi tidur, dan ketiga, patung polisi”. Profil Hoegeng pernah dihadirkan dalam program Kick Andy di Metro TV yang membahas bagaimana integritas seorang Hoegeng. Beliau pun tidak memiliki rumah sendiri, hanya rumah dinas. Lalu, dia pun menolak berbagai barang-barang yang tiba-tiba ada di rumahnya. Bahkan dia menyuruh ajudannya untuk mengeluarkan barang-barang itu dan ditaruh di pinggir jalan.

Hoegeng

Hoegeng

Pernah juga suatu saat ada sepeda motor baru yang datang di rumahnya. Saat itu beliau sedang tidak ada, tetapi anaknya yang menerimanya. Ketika Hoegeng pulang dan melihat sepeda motor itu, dia segera meminta untuk dikembalikan. Padahal anaknya sangat menginginkan sepeda motor itu. Luar biasa kehidupan dari seorang Hoegeng ini. Kisah yang paling membuat saya terkesan adalah, saat beliau berangkat pagi untuk hendak ke kantor sekalian mengantarkan putrinya ke sekolah. Ketika di jalan menemukan kondisi jalan yang macet, maka Pak Hoegeng, seorang Kapolri, sebuah jabatan tertinggi dalam sebuah lembaga kepolisian, turun dari kendarannya dan segera mengatur lalu lintas jalan itu. Sekali lagi, seorang Kapolri turun ke jalan sambil mengatur kondisi lalu lintas yang sedang macet itu. Kejadian ini membuat putrinya sering terlambat masuk sekolah. Cerita ini dikisahkan sendiri oleh putrinya saat diwawancarai oleh Andy F. Noya dalam Kick Andy.

Terakhir, Ayah saya melengkapi keempat orang langka ini dengan seorang mantan jaksa agung tinggi yang terkenal

Baharuddin Lopa

berani dan jujur ini, yaitu Baharuddin Lopa. Berbagai kasus korupsi atau penyelundupan berhasil ia buka dan membuat orang yang kebal hukum pun dapat dijadikan terdakwa. Ketika diangkat menjadi Kajaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, gebrakan pertama yang dilakukannya adalah dengan membuat pengumuman di surat kabar: Ia meminta agar masyarakat atau siapa pun, tidak memberikan sogokan kepada anak buah Baharuddin Lopa. Ia juga pernah mendapat anugerah Government Watch Award (GOWA award) atas jasanya dalam memberantas korupsi.

Sekali lagi luar biasa bagi diri saya saat mendengar kisah orang-orang LANGKA ini. Begitu menyentuh hati karena saya merasa orang-orang ini seharusnya berda dalam pemerintahan saat ini. Dengan begitu banyaknya kasus yang membuat telinga masyarakat panas, orang-orang seperti ini seharusnya dijadikan teladan oleh para pejabat saat ini. Saya melihat karakter-karakter seperti jujur, berani, dan tidak terbuai oleh uang dan kekuasaan , seharusnya menjadi karakter yang melekat pada diri setiap orang Indonesia, khususnya para pejabat pemerintahan. Bahkan, seorang presiden harus terdepan dalam memberikan teladan akan karakter-karakter ini.

Kalau kita melihat kedaan para pejabat kita saat ini, bagaimana ya ? Masyarakat Indonesia pun mungkin sudah bisa menilai mana yang benar-benar BENAR, dan mana yang benar-benar PURA-PURA BENAR. Masyarakat pun bisa menilai apakah saat ini orang-orang seperti Hoegeng, sudah begitu langka ?

Bagi saya, Indonesia masih punya harapan. Indonesia masih menyimpan orang-orang yang punya integritas tinggi. Dan orang-orang itu masih banyak, hanya mungkin kita belum tahu dan mungkin orang-orang langka itu juga tidak ingin diketahui oleh orang lain. Saya pun yakin, semua masyarakat Indonesia berharap orang –orang langka ini bisa mermunculan di negeri kita ini, sehingga keadilan dan kebenaran dapat ditegakkan.

Read Full Post »

Ya Allah,

Jadikanlah cahaya dalam hatiku

Cahaya dalam kuburanku

Cahaya dalam pendengaranku

Cahaya dalam penglihatanku

Cahaya dalam rambutku

Cahaya dalam kulitku

Cahaya dalam dagingku

Cahaya dalam darahku

Cahaya dalam tulang-tulangku

Cahaya di hadapanku

Cahaya di samping kananku

Cahaya di samping kiriku, dan

Cahaya di atasku dan di bawahku

Ya Allah,

Tambahkanlah cahaya bagiku

Limpahkan cahaya untukku

Dan jadikanlah aku cahaya

Ini adalah doa yang dapat disebut sebagai “doa Cahaya”. Saya menemukannya di bukunya Pa Hernowo (penggagas Mengikat Makna) yang berjudul “Terapi Hati di Tanah Suci”. Doa ini adalah salah satu doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah setelah melakukan shalat Fajar sebelum matahari terbit. Doa ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra.

Bagi saya doa ini begitu indah. Doa ini begitu membuat hati saya merasakan sesuatu yang luar biasa. Ada perasaan tenang dan terharu saat membaca doa ini. Saat saya mengucapkannya, saya merasa kata-kata itu seeprti cahaya yang sedang menyelimuti diri saya.

Siapa, manusia yang tidak ingin menjadi cahaya bagi lingkungannya ? Siapa, orang yang ada di dunia ini yang tidak ingin dapat bermanfaat bagi sesamanya ? Saya rasa tidak ada. Pada dasarnya semua orang adalah baik dan ingin berlaku baik, tetapi mungkin keadaan yang membuatnya terkadang lepas dari kendalinya.

Dan saya yakin kita semua ingin bisa menjadi seorang yang dapat menerangi sekitar kita  dengan keberadaan diri kita. Kita semua ingin bisa jadi cahaya itu yang akan membawa kebaikan bagi lingkungan kita. Saya ingin menjadi cahaya itu, seperti Rasulullah yang telah benar-benar menjadi cahaya dan telah meneranginya dengan membawa kebaikan dan kebenaran bagi dunia ini.

Ya Allah, jadkikanlah kami cahaya

Read Full Post »

Saya rasa setiap orang ingin dapat melakukan sesuatu yang luar biasa dan mendapatkan hasil yang luar biasa pula, termasuk diri saya. Saya ingin bisa meraih cita-cita saya dan merasakan kenikmatannya saat saya sudah berhasil mewujudkan cita-cita tersebut. Dan salah satu cita-cita saya adalah menjadi penulis best-seller yang memberikan inspirasi serta manfaat yang dahsyat baik bagi diri saya maupun orang lain.

Saya sadar bahwa untuk menuju cita-cita saya itu, tidak dapat dilalui dengan perjalanan yang mudah dan singkat. Saya sadar bahwa perjuangan untuk mewujudkannya tidaklah seperti membalikkan telapak tangan. Saya sadar harus ada perjuangan yang luar biasa, disiplin, serta kerja keras dalam mewujudkannya. Dibutuhkan suatu motivasi yang dahsyat untuk bisa menemani diri saya menjadi penulis hebat.

Saya sangat sepakat dengan apa yang dituliskan dalam buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat” bahwa penulis hebat itu tidak dinilai dari prestasi-prestasi atau penghargaan yang diterimanya, akan tetapi dia dikatakan hebat, karena perjuangan yang telah dilaluinya. Hebat dalam arti sebuah proses yang telah dijalaninya selama menulis. Bagaimana mereka telah berhasil menumbuhkan motivasi dan semangat dalam menulis, mengalahkan berbagai rintangan dalam menulis, serta tetap konsisten untuk menulis demi tujuan yang mulia. (hal 13)

Cover Buku "Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat"

Saya ingin sekali bisa seperti mereka, para penulis hebat itu. Saya sangat ingin bisa memberikan manfaat kepada orang lain, sebagaimana saya bisa merasakan manfaat saat membaca buku-buku mereka. Begitu tergeraknya perasaan, serta tersentuhnya hati ini saat membaca tulisan-tulisan orang hebat itu, membuat saya ingin dapat menulis sesuatu yang dapat menggerakkan orang lain. Tentu untuk dapat seperti itu-tergeraknya hati seseorang, bahkan sampai merubah hidup orang lain- tidaklah hanya dalam waktu yang sebentar, tidaklah hanya dalam sekali menulis langsung membuat tulisan yang inspiratif dan menggugah orang. Tidak. Semua itu butuh perjuangan dan latihan terus-menerus secara konsisten dan disiplin. Dan tentu saja saya juga harus banyak membaca karena dengan membiasakan membaca buku-buku yang bagus,maka saya pun akan dapat mengetahui bagaimana buku yang bagus itu. Ini akan sangat bermanfaat saat saya menulis.

Sebuah kesuksesan di masa depan akan didapat manakala kita telah berjuang dengan segala pengorbanannya untuk mewujudkan kesuksesan itu. Begitu pun juga dengan kekurangsuksesan, akan dirasakan manakala kita tidak melakukan apa-apa untuk mendapatkannya. Yang menjadi pembeda adalah usaha yang telah dilakukan. Yang menjadi penentu-tentu disamping kehendak Tuhan- adalah perjuangan dan pengorbanan yang telah kita keluarkan untuk merealisasikannya.   Pas sekali dan sangat tepat apa yang dituliskan oleh Jonru, “Masa depan kita sangat begantung dari apapun yang kita lakukan dan alami saat ini.”(hal 69)

Saya jadi terpacu dan semangat saat membaca kalimat ini. Saya merasakan untuk menjadi penulis hebat itu akan sangat bergantung dari apa yang saya lakukan dan saya alami saat ini. Ya, saat ini, sekarang ini. Untuk menjadi penulis hebat, saya harus memulai untuk berlatih dan terus mengasah kemampuan menulis saya secara berkelanjutan. Saya harus konsisten dalam melatihnya. Dan untuk itu, diperlukan mental yang sangat kuat, dibutuhkan karakter (soft skill) yang baik, disiplin dan dibutuhkan jiwa pantang menyerah.

Semangat saya pun saat ini masih berfluktuatif dalam menulis. Saya belum konsisten untuk dapat menulis setiap hari. Akan tetapi sekali lagi saya ingin bisa berlatih tulis menulis. Selama bulan Ramadhan 1430 H kemarin, Alhamdulillah saya berhasil menulis sebanyak sekitar 30 tulisan yang saya tulis setiap hari terkait hikmah yang saya alami selama berpuasa satu bulan penuh.

Luar biasa perjuangan melawan rasa malas, rasa jenuh, kebuntuan ide, ataupun dirasakan tidak adanya waktu untuk menulis. Sampai-sampai dalam satu waktu, saya mengerjakan dua tulisan sekaligus, karena mengejar ketinggalan di hari kemarin. Perasaan  malas itu sering muncul, tetapi saya ingat kembali bahwa saya harus memaksanya untuk bisa menulis selama satu bulan penuh di bulan yang penuh hikmah itu. Dan sekali lagi, Alhamdulillah saya dapat melaluinya.

Akan tetapi, setelah Ramadhan semangat saya seperti menurun. Rasa malas itu kembali menyelimuti diri saya dan membuat saya tidak produktif lagi dalam menulis. Seolah-olah saya tidak lagi mempunyai energi yang besar untuk kembali menulis. Ini menunjukkan saya masih belum konsisten dalam menulis. Belum memiliki semangat yang menggebu-gebu dalam menulis. Dan saat saya membaca tulisan Jonru tadi, “Masa depan kita sangat begantung dari apapun yang kita lakukan dan alami saat ini.”, saya kembali sadar dan seperti di-charge kembali motivasi saya bahwa masa depan saya, tergantung dari apa yang saya lakukan sehari-hari saat ini dan apa yang saya alami. Jika ingin menjadi penulis hebat, maka saya harus bisa terus berlatih menulis setiap hari. Walaupun sedikit, tetapi tetap konsisten adalah lebih baik daripada menulis panjang-panjang, tetapi hanya satu hari.

Oleh karena itu saya harus kembali melihat semangat saya. Saya harus merenungi kembali apa motivasi serta tujuan saya menulis. Dan yang terpenting saya harus mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan selama ini kepada saya. Mulai dari lahir hingga saat ini, sudah banyak sekali-tak hingga jumlahnya-nikmat yang telah dianugrahkannya kepada saya termasuk potensi-potensi yang ada dalam diri saya. Salah satunya adalah potensi untuk menjadi penulis hebat. Potensi ini harus saya syukuri dengan berusaha sekuat tenaga mewujudkannya untuk menjadi seorang penulis yang hebat.

Saya juga harus menyadari bahwa karakter saya harus dapat mendukung untuk menjadi penulis hebat itu. Mental saya harus ditata kembali dan dibina terus menerus sehingga membuat diri saya kuat untuk meraih tujuan saya tersebut. Motivasi saya harus terus ditumbuhkan untuk senantiasa berjuang meraih cita-cita itu. Usaha yang kuat dan selalu diselimuti oleh doa, insya Allah akan mengantarkan saya mewujudkan impian saya itu. Alhamdulillah, saat ini telah terbit buku yang insya Allah akan dapat membakar semangat dan motivasi saya untuk terus dapat menulis dan menjadikan saya penulis hebat. Buku itu berjudul, “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat”. Ingin melihat testimoni orang-orang yang telah membaca buku ini, silahkan klik websitenya di http://www.penulishebat.com

Buku ini sudah tersedia hanya masih dalam bentuk ebook. Sedangkan versi cetaknya belum tersedia di toko-toko buku. Akan tetapi, untuk versi ebook ini, terdapat berbagai keuntungan yang dapat diperoleh apabila kita membelinya. Pertama, setiap pembelian ebook ini yang seharga Rp 49.500, pembeli akan mendapat voucher diskon sebesar Rp 200.000 dari Sekolah Menulis Online. Sekolah ini didirikan oleh Jonru yang semua kegiatannya dilakukan secara online. Diskon ini adalah diskon terbesar yang pernah diberikan oleh SMO.

Kedua, pembeli ebook ini akan mendapat modul eksklusif dari SMO secara gratis. Lalu keuntungan ketiga, pembeli akan didaftarkan ke kelas SMO Free Trial. Keempat, akan mendapatkan bimbingan karir di bidang penulisan dan berlaku seumur hidup. Penawaran ini hanya berlaku untuk versi ebook dan akan ditutup sewaktu-waktu apabila buku versi cetaknya sudah terbit di pasaran.  Oleh karena itu, akan sangat sayang jika kesempatan ini kita lewatkan begitu saja. Teman-teman dapat lebih mengenal penulis buku ini, dengan menjadi temannya di facebook “Jonru Ginting Dua” dan kita juga dapat bergabung dengan grup penulis hebat ini di http://www.facebook.com/penulishebat atau lewat akun twitternya di http://www.twitter.com/penulishebat.

Read Full Post »