Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah Pengalamanku’ Category

Di tengah perjalanan bersepeda menuju kampus pada hari sabtu ini, saya melihat seorang Bapak tua dengan gerobaknya, sedang duduk di trotoar. Bapak itu terlihat lelah, hingga saya sempat melihatnya tertidur dalam duduknya. Bapak itu memejamkan matanya sejenak, terlihat sedang melepas lelahnya.

Saya berada di depannya, sekitar 5 meter. Saya memperhatikan bapak itu dari sepeda.  Pasti ia telah berjualan sejak pagi dengan mendorong gerobaknya itu yang saya kira tidak ringan. Saat itu saya masih diam.

Tak lama kemudian, ada mobil yang berhenti dekat gerobak Bapak tadi. Lalu keluar dari bangku supir, seorang bapak yang menghampiri si Bapak penjual ini. Terdengar oleh saya, dia menanyakan tentang suatu tempat. Lalu dengan semangat si Bapak tua penjual tadi menjelaskan sambil menunjuk dengan tangannya. Padahal baru saja dia tertidur sebentar. Tapi ia menjelaskannya dengan semangat dan tidak terlihat malas.

Saya terharu melihatnya. Di tengah kelelahannya, dia tetap bersemangat untuk membantu sesama. Luar biasa. Bapak tadi mengucapkan terima kasih dan kembali mengendarai mobilnya. Lalu saya menghampirinya.

Tanpa bermaksud untuk menguji, tapi saya menanyakan arah juga. Saya bertanya tentang arah kampus saya – yang sebetulnya sudah saya ketahui. Saya sempat kebingungan untuk bersikap seperti apa. Tapi saya juga ingin membantunya. Lagi, dia pun dengan semangat menunjukkan arah itu kepada saya. Cukup jelas dia menerangkannya. Luar biasa.

Saya berterima kasih dan mulai mengajaknya mengobrol. Saya menanyakan apa yang sedang dijualnya. Saya bertanya berjualan dari jam berapa dan sudah berapa yang terjual. Yang membuat saya semakin terharu adalah saat ia mengucapkan “Alhamdulillah” dengan dagangannya yang baru terjual dua barang. Tapi dia tetap bersyukur tentang apa yang telah dicapainya hari ini. Di tengah kesulitannya, dia tetap bersyukur. Saya belajar darinya. Bersyukur itu ternyata tidak hanya saat senang, tapi juga pada saat susah.

Akhirnya saya membeli sebuah kemoceng darinya. Saya ingin membantunya. Dan saya memberikan pecahan terbesar dari dompet saya, tanpa mengharap kembalian darinya. Semoga bisa bermanfaat baginya. Saya bersyukur bisa bertemu dengan Bapak penjual yang sangat tegar ini dan masih terus mau membantu sesama walaupun badan sudah cukup lelah.

Alhamdulillah, doa mengalir dari mulut Bapak itu. Dan saya pun berdoa untuknya. Berdoa untuk keluarganya. Semoga beliau senantiasa diberkahi oleh Allah. Seorang Bapak yang senantiasa menghindari dari meminta-minta. Saya bahagia dengan pertemuan ini. Sebuah kebahagiaan yang sangat bermakna.

Sebuah pertanyaan terbesit dalam diri saya, sudahkah saya bersyukur dengan keadaan saya sekarang.walaupun sedang dalam tertekan, walaupun sedang dalam sulit, walaupun sedang dalam kedaan yang tidak saya harapkan ?

Advertisements

Read Full Post »

Naik angkot Panghegar-Dipatiukur memang memiliki pengalaman tersendiri.

Suatu siang naiklah seorang perempuan remaja di  perempatan BIP. Saat itu saya sedang sendirian di angkot dan seperti biasa duduk di pojok

jangan buang sampah di angkot

 belakang bagian kanan. Perempuan tadi duduk persis di belakang Pak Sopir dan terlihatlah sebuah komik “Detektif Conan” sedang ia pegang. Sepertinya baru ia beli karena masih terbungkus rapi. Lalu ia membuka plastiknya dan segera membacanya.

Tapi ternyata yang menjadi perhatian saya bukan tentang isi komik itu, bukan tentang bagaimana si Conan bisa membongkar kasus-kasus kelas dunia, tetapi mata saya tertuju pada plastik bungkus komik itu. Perempuan itu membuang sembarangan plastiknya di angkot itu. Dia melakukannya seakan telah biasa.

Saat itu, saya merasa gundah, seperti ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk hati saya. Ini sesuatu yang tidak benar. Saya ingin menegurnya, tapi saya belum berani. Saya takut respon dia yang mungkin bisa saja memarahi saya. Mungkin berlebihan juga, tapi saya sudah terlanjur takut. Padahal ini mungkin kesempatan emas saya untuk mengingatkannya. Selama kurang lebih 5 menit saya memikirkannya.

Lalu saya teringat cerita ibu saya yang pernah menegur seorang pemuda yang membuang sampah sembarangan dari mobilnya persis di sebelah mobil ibu saya. Dan ibu saya berani menegur dan pemuda tadi kembali memungut sampah yang telah sempat dibuangnya itu. Saat itu saya kembali sadar dan mencoba mengumpulkan keberanian. Sedikit menarik nafas..

Lalu saya mengambil keputusan untuk mau menegurnya, padahal dia sudah buang sampah beberapa waktu yang lalu. Takutnya juga dia sudah lupa kalau dia pernah buang sembarangan. Saya segera memantapkan hati bahwa saya akan menegurnya, siapapun yang turun duluan. Jika dia duluan, maka sebelum dia turun saya akan menegurnya. Kalau saya duluan, sebelum turun,  saya juga yang akan menegurnya.

Ternyata dia hendak turun di TBI di jalan Riau. Deg-degan. Ya, tiba-tiba perasaan takut kembali muncul. Tapi tetap saya redam. “Kiri Pak!”, akhirnya dia turun. Saya sedikit mendekat. Persis sebelum dia turun, “Mba!” sekali lagi,”Mba!”. Dia menengok ke arah saya, karena dia pikir tidak ada lagi perempuan di angkot selain dirinya. Tanpa basa-basi, “Mba, sampahnya bisa tolong diambil! Jangan buang sembarangan ya!”

Segera dengan senyum yang agak dipaksakan, dia mengambil plastik tadi dan membawanya. “Makasih ya Mba”, segera saya berterimakasih atas kesediannya.

Perasaan lega tiba-tiba menghampiri saya.

Dua hari kemudian, hari senin, setelah saya ujian Pendidikan Anti Korupsi. Saya menaiki angkot Panghegar lagi. Lagi-lagi saya duduk di pojok belakang kanan. Kali ini telah ada tiga penumpang bersama saya. Tiba-tiba naik seorang anak SMA. Perempuan. Ya, perempuan. Dengan bungkusan gorengan beserta air mineral gelas berada ditangannya, dia duduk di pojok belakang juga yang berarti persis di depan saya.

Terlihat dia menyantap gorengannya. Kemudian karena haus dia segera membuka plastik sedotan dan segera minimum air mineral itu. Lagi-lagi yang menjadi perhatian saya bukan bagaimana ia minum dan berapa banyak yang diminum, tetapi dia membuang sampah plastik kecil itu ke bawah jok. Ya,sangat kecil, hanya sebuah plastik sedotan.

Persis di depan saya. Langsung perasaan saya ga enak lagi. Tapi tanpa berpikir panjang seperti waktu itu, karena sudah latihan dua hari sebelumnya, sekitar satu menit kemudian, saya menegurnya. Kali ini karena jelas memakai seragam SMA, maka saya memanggilnya dengan Dik. “Dik, sampahnya jangan dibuang sembarangan ya”. Segera ia mengambil plastik kecil tadi dan mengantunginya di saku seragamnya. Tentu saya kembali berterimakasih, “Makasih ya Dik.”

Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, yang jelas dia tetap memakan gorengannya. Kemudian karena mungkin telah habis gorengannya dan tinggal bungkusnya,  dia segera memasukkan bungkusnya ke dalam tas-nya. Alhamdulillah, dalam hati saya. Ia tidak membuang sembarangan lagi. Begitu juga dengan gelas air mineral dan tisunya, dia pegang dulu walaupun telah habis.

Hingga kemudian, “Kiri-kiri!”. Perempuan itu turun di jalan Riau depan salah satu FO yang cukup besar itu. Sebelum dia turun. “Makasih ya.” ia tersenyum. Saya pun tersenyum,” Makasih juga ya!”. Hal ini sudah tentu cukup mengejutkan saya.

Dua perempuan dalam rentang dua hari, turun di jalan yang sama, dengan jurusan angkot yang sama, dan kejadian yang sama, membuat saya tersenyum sekaligus bahagia. Kejadian ini benar-benar menguji idealis saya. Apakah saya punya keberanian untuk mengajak orang menjaga kebersihan bersama-sama. Saya bahagia karena saya punya kepedulian dan keberanian itu. Terlebih ternyata hasilnya pun , Alhamdulillah positif.

Read Full Post »

Waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali. Tidak terasa ternyata diri kita telah berdiri hari ini dengan keadaan yang ada saat ini. Inilah diri kita yang sekarang. Tidak terasa ternyata selama ini semua yang terjadi telah membentuk diri kita menjadi seperti saat ini. Apakah saat ini kita bahagia dengan kondisi kita saat ini ? Ataukah kita merasa menderita?

Banyak sekali episode-episode kehidupan yang telah kita jalani. Begitu banyak pilihan dalam hidup ini yang telah kita ambil. Begitu banyak tindakan yang telah kita lakukan. Begitu banyak hal-hal yang telah kita lihat, dengar, rasakan, dan kita ucapkan dalam hidup ini. Dan kesemuanya telah membentuk diri kita saat ini. Diri kita yang sekarang ini adalah hasil dari proses yang telah kita jalani di masa lalu.

Secara sadar atau tidak, kita telah banyak bertemu dengan orang-orang. Kita telah berkomunikasi dengan beragam tipe orang. Kita telah sering berinteraksi dengan mereka dalam berbagai macam lingkungan. Orang-orang tersebut dan lingkungannya pun turut memberikan kontribusinya dalam membentuk diri kita.

Dari semuanya itu, bagaimanakah sebenarnya diri kita sekarang ini? Bagaimanakah segala macam kejadian itu telah membentuk kepribadian kita? Bagaimanakah setiap tindakan yang kita lakukan telah mewujudkan cita-cita kita? Bagaimanakah keputusan-keputusan yang kita ambil itu, berpengaruh terhadap kehidupan kita masa kini?

Apakah kita bahagia dan merasa diri kita telah berkembang dengan baik selama ini? Ataukah perjalanan yang telah kita tempuh justru membuat diri kita belum berkembang, bahkan seakan jalan di tempat? Adakah sifat atau karakter kita yang muncul dan tenggelam selama pengarungan hidup ini? Bagaimanakah kebermanfaatan diri ini dalam lingkungan kita?

Dari mulai kita kecil, saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar kita belajar dan bermain bersama teman-teman kecil kita dan itu membentuk diri kita. Kemudian beranjak ke SMP dan kita semakin senang bergaul dan berinteraksi dengan kawan-kawan kita. Kita telah mengenal berbagai macam hal-hal baru saat itu. Tak terasa tiga tahun kemudian, kita memasuki dunia SMA yang penuh dengan warna-warni dunia remaja. Semakin banyak pengetahuan serta pengalaman yang kita peroleh. Dan perjalanan ini pun membentuk diri kita.

Jam pun terus berdetak, menandakan waktu itu sangat dinamis. Sifatnya absolut dan mutlak. Bergerak dan terus bergerak. Perlahan tapi pasti. Bisa juga cepat dan sangat pasti. Kita pun masuk ke dunia perkuliahan. Kita memasuki sebuah dunia dimana pembentukan jati diri seseorang semakin jelas. Kita membuka pintu dimana di dalamnya terdapat berbagai macam pilihan. Di sini kita semakin menelusuri mau kemana diri ktia. Sangat banyak hal baru di sini. Dan sekali lagi itu semua membentuk diri kita saat ini. Persis diri kita yang ada pada detik ini.

Apakah kita telah menjadi orang yang lebih baik ? Apakah kita sedang berkembang untuk terus maju? Ataukah justru kualitas diri kita semakin menurun?  Apakah kita menjadi orang semakin bernilai, bermakna, dan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain? Ataukah diri kita masih menjadi orang yang biasa-biasa saja?

Hari ini, saat ini,,kita telah melihat “lukisan” kehidupan kita sendiri. Warna-warni telah kita berikan pada kanvas kehidupan ini. Banyak goresan lurus dan melengkung yang telah kita buat. Banyak bentuk lainnya yang juga telah kita selipkan dalam ruang-ruang kanvas itu.  Kita telah melihat gambaran semuanya tentang diri kita. Dan inilah karya kita.

Pertanyaannya sekarang adalah…

Indahkah gambar lukisan kita ?

Indahkah karya kita ini yang telah kita buat selama ini?

Seindah Inikah Lukisan kita?

Read Full Post »

Tidak bisa dipungkiri bahwa suatu keterampilan atau kesuksesan dalam suatu bidang tidak lepas dari sebuah kesabaran. Ya, dengan kita terus bersabar menikmati proses yang ada, terus mencoba berusaha mencintai apa yang kita lakukan, maka semua akan terasa indah. Pada saat kita tenggelam dalam asiknya suatu pekerjaan, maka secara tidak sadar, suasana hati kita akan turut terkondisikan dengan baik sesuai dengan perasaan kita.

Tentu untuk membuat kita menikmati apa yang sedang kita lakukan memang tidaklah mudah. Saya sendiri merasakan perjuangan untuk bisa menikmati apa yang sedang concern saya kerjakan saat ini. Secara alamiah saya tidak terlalu menikmatinya, tetapi saya perlu untuk mencoba menjadikannya sebagai suatu kenikmatan. Tidak mudah memang, bahkan dibutuhkan suatu paksaan supaya kita meraih kondisi yang baik itu.

Bukankah mesin solar baru akan panas setelah melewati kurun waktu tertentu. Bukankah para atlet angkat besi perlu mengeluarkan tenaga lebih saat mengangkat bebannya. Bukankah padi di sawah tumbuh setelah melewati tenggat waktu yang tidak cepat. Dan bukankah menuju pucak gunung, perlu melewati jalur yang berliku, berbatu, dan mendaki.

Semua butuh kesabaran dalam menjalaninya.  Pada saat memulai itulah dimana kesabaran perlu kita tanam dalam diri. Ketika kita dalam keadaan terpaksa, pada saat itulah kesabaran memegang perannya, hingga pada suatu waktu, secara tidak sadar kita telah tenggelam dalam pekerjaan kita. Secara tidak sadar, kita telah melewati beberapa waktu dalam pekerjaan itu dan mulai terasa mengalir mengikuti iramanya.

Mulailah dengan 5 menit pertama. Inilah tips yang dapat kita coba. Ya mulai saja dulu selama 5 menit apa yang akan kita lakukan. Tanpa terasa kita telah melewati 5 menit, 15 menit, 30 menit hingga 1 jam kita telah mengerjakan sesuatu yang pada mulanya kita agak malas. Tapi dengan suatu paksaan ini, maka insya Allah rasa keikhlasan akan muncul dengan sendirinya. Bukankah untuk melatih keikhlasan dalam bersedekah, kita perlu berlatih bersedekah terus menerus. Mungkin pada awalnya belum rela 100 %, tetapi setelah berulang kali, maka kita tidak keberatan untuk bersedekah di kemudian hari.

Tidak ada yang salah dengan keterpaksaan, karena kita tidak akan bisa memulainya jika tidak dipaksa. Akan sulit untuk memulai kalau kita harus menunggu dan menunggu hingga kita sudah merasa enak. Kita memaksa diri kita demi kebaikan diri kita, untuk perbaikan kualitas diri, serta untuk memberikan makna pada setiap apa yang kita lakukan. Memaksa di awal, untuk menuai kebermaknaan serta kesuksesan di masa depan. Insya Allah.

Read Full Post »

Di dalam Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, No. 22 Tahun 2009, berbagai aturan berlalu lintas bagi para

Mobil ini Melewati Garis Batas

pengguna jalan mulai diterapkan. Beberapa sosialisasi pun sudah mulai terlihat. Saya pernah membaca koran yang berita utamanya tentang UU ini. Kemudian di perempatan dan beberapa ruas jalan, semacam spanduk atau banner dari kepolisian terkait sosialisasi undang-undang pun sudah mulai terlihat.

Aturan yang berlaku saat ini pun sebetulnya memiliki sanksi yang cukup tegas bagi pelanggarnya. Sanksi tersebut bisa berupa kurungan penjara ataupun denda yang jumlahnya tidak kecil. Dapat dikatakan aturan ini baik. Akan tetapi bagaimana penerapannya di lapangan ?

Ternyata aturan ini masih sulit untuk diterapkan dengan baik.

Pernah saya mengendarai mobil di perempatan Jembatan Cikapayang dari arah Jalan Surapati. Saat itu lampu lalu lintas menunjukkan warna merah yang berarti berhenti. Aturan yang berlaku adalah, bahwa setiap kendaraan mesti berhenti di belakang garis putih. Jika melewati garis tersebut, maka hal ini adalah pelanggaran dan dapat dikenaik sanksi.

Tetapi yang terjadi adalah bahwa masih banyak kendaraan, khususnya motor yang melewati batas itu. Sebetulnya banner tentang aturan ini pernah dipasang di persimpangan ini, akan tetapi sekarang sudah tidak ada lagi di ruas jalan ini. Motor-motor itu jelas melaju saja tanpa mengindahkan garis yang jelas ada di jalan tersebut. Mungkin mereka memang tidak tahu aturan yang baru ini dan  hal in iadalah wajar.

Akan tetapi ternyata, pada saat itu ada kendaraan berupa mobil, mirip mobil tahanan  yang juga melebihi garis itu, bahkan kalau boleh saya bilang, agak keterlaluan lebihnya. Hal ini dilakukan bersama kendaraan lainnya. Dan ternyata, dalam plat mobil itu terdapat sebuah lambang yang bagi saya sudah tidak asing lagi. Tahukan teman-teman lambang apa itu? Ternyata lambang itu milik kepolisian. Ya benar sekali, lambang itu milik institusi yang membuat aturan ini dan juga yang menindak terhadap pelanggaran lalu lintas itu sendiri.

Lalu, yang saya lakukan adalah segera mengambil hp dan mendokumentasikan momen itu. Gambar ini menunjukkan bahwa mobil itu telah melewati garis batas, akan tetapi lambang institusi itu tidak terlihat karena terhalang motor.

Entah apakah sang pengendara ini memang tidak mengetahui aturan ini atau memang tidak sadar? Tetapi bagi saya adalah bahwa hal ini telah membenarkan bahwa bagaimana masyarakat dapat disiplin mematuhi aturan, tetapi kalau yang berwenang membuat aturan dan menindak setiap pelanggarnya juga melanggar aturan itu sendiri. Kita bisa beranggapan “Polisi saja juga melanggar ko.” Dan ini membuat kita menjadi tidak disiplin juga.

Saya juga pernah melihat orang yang dibonceng oleh polisi dengan menggunakan sepeda motor, juga tidak menggunakan helm. Padahal polisi selalu siap siaga menindak jika ada yang tidak memakai helm saat mengendarai motor.

Mudah-mudahan mereka itu hanyalah oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya percaya bahwa masih banyak polisi yang baik dan disiplin. Tetapi saya juga tidak memungkiri jika masih banyak juga polisi yang tidak menjadi teladan yang baik bagi masyarakat.

Aturan ini dibuat untuk meningkatkan ketertiban dan kelancaran dalam berlalu lintas. Akan tetapi jika implementasinya tidak baik, tetap saja tidak dapat mewujudkan tujuan dibuatnya aturan ini. Baik polisi maupun masyarakat harus bisa disiplin dalam menegakkan aturan ini. Polisi harus bisa mencontoh yang baik. Polisi tidak hanya menindak orang yang melanggar, tetapi dia pun harus bertindak untuk turut taat terhadap aturan itu. Selain itu sosialisasi tentang aturan ini harus digencarkan lagi.

Sedangkan bagi masyarakat, kita harus proaktif dalam mencari info terkait aturan ini sekaligus segera menerapkan dalam berlalu lintas di jalan. Jika kedua peran ini dipenuhi, maka kelancaran dan ketertiban dalam berlalu lintas dapat tercipta.

Read Full Post »

Suatu pagi, saat saya sedang mengendarai mobil dari rumah, di daerah Cicaheum saya melihat di depan mobil saya, seorang bapak yang sudah

Bapak Tua Mendorong Becaknya

 sangat tua dengan topinya terlihat sedang mendorong becaknya. Bapak tua tadi ternyata masih mencari penghasilan dengan becaknya. Persis saat itu jalanan agak naik dan bapak tua itu mendorong becak itu dengan susah payah. Saya sendiri melihatnya. Saya persis di belakangnya. Jalanan memang agak macet dan mobil melaju dengan pelan ,sehingga saya dapat mengamati bapak itu dengan seksama.

Kemudian saya mulai menyusul bapak tua yang sedang mendorong becak  itu. Saya dapat melihat bagaimana begitu kerasnya bapak tua itu berjuang dalam mendorong becaknya. Apalgi jalanan nanjak, sehingga dibutuhkan tenaga lebih untuk bisa mendorongnya. Mobil dan motor berseliweran di samping kanan  menyusul satu per satu becak itu, termasuk diri saya, seolah-olah tida melihat bapak tua dengan becaknya.

Lalu apa yang saya lakukan? Saya hanya dapat melihat bapak itu, tetapi saya sempat mengambil handphone saya untuk mendokumentasi  kejadian ini. Saya foto bapak itu dan becaknya pada saat saya telah sedikit berada di depannya. Muka bapak itu tidak terlihat dengan jelas, tetapi sangat terlihat bahwa bapak tua itu sedang berusaha keras mendorong becaknya.

Mengapa saya foto bapak tua tadi? Mungkin sikap saya ini kurang baik, tetapi saya ingin berbagi kepada teman-teman bahwa seorang bapak tua masih terus dan terus bekerja untuk mencari penghasilan yang sudah pasti untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dia tidak berdiam diri menikmati masa tua tanpa melakukan apapun. Dia tidak mau menyusahkan orang lain, sehingga dia terus mencari uang demi memenuhi kebutuhannya.

Jujur, hati saya terketuk saat melihat itu. Saya merasa malu, karena saya merasa belum berusaha maksimal dalam melakukan apa yang sedang saya kejar, sedangkan bapak tua tadi sedang berjuang keras mencari penghasilan. Saya belum berikhtiar secara maksimal terhadap apa yang sedang saya lakukan, sedangkan bapak itu mendorong becaknya sendirian dalam keadaan jalanan yang naik.

Melihat bapak tadi, saya yang jauh lebih muda, dan insya Allah stamina yang lebih kuat, badan yang lebih segar, jika saya tidak bekerja keras dalam kehidupan ini, maka saya adalah seorang yang lemah. Jika saya tidak bekerja lebih giat, maka saya adalah pemalas. Jika saya lebih banyak bersantai-santai, padahal di luar sana, banyak orang yang keadaannya tidak lebih baik dari saya, seperti bapak tua itu, maka saya telah menyianyiakan waktu saya.

Melihat hal ini, saya kembali melihat ke dalam diri saya, menerawang dan mamastikan bagaimana selama ini saya berusaha dalam meraih cita-cita saya. Melihat bapak tua tadi, kepedulian saya terhadap sesama kembali tumbuh. Masih banyak yang belum dapat merasakan seperti yang mungkin telah saya rasakan saat ini.

Semoga hal ini bisa menjadi refleksi bagi diri kita semua untuk terus berusaha, berikhtiar dalam kehidupan ini untuk meraih sesuatu yang sangat berarti dan bermakna baik bagi diri kita maupun bagi orang lain. Dan jadilah kita, orang-orang yang peka dan peduli dengan keadaan sekitar. Alangkah indahnya jika kita adalah seorang yang memiliki kerendahan hati dalam hidup ini dengan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada di sekitar kita.

Read Full Post »

Subhanallah. Inilah kata yang sangat tepat dan sangat pantas kuucapkan saat melihat pemandangan langit, sore ini. Kutatap tak sengaja langit itu. Walaupun tak sengaja, tetapi membuatku terpana. Sore itu menunjukkan kurang lebih pukul 18.10. Persis di depanku. Aku terus memandang ke arah langit itu yang terbentang luas di angkasa. Kaca mobil tak menghalangi ku untuk menikmati indahnya langit saat itu.

Oranye. Memancarkan cahaya maghrib yang menentramkan hati. Saat itu ku benar-benar merasa takjub dan luar biasa. Belum pernah ku melihatnya dengan sejernih ini. Oranye berpadu dengan sedikit kemerahan. Menjadikan langit itu begitu indah nan syahdu.

Saat kucoba menangkap dengan kameraku, ternyata kamera yang hanya buatan manusia itu tak mampu menangkap warna itu dengan baik. Malah mengaburkan warna oranye tadi. Kembali ku melihat dari sisi yang lain, oranye itu benar-benar memenuhi satu pandanganku. Begitu mempesona diriku. Subhanallah.

Inilah ciptaan-Nya yang Maha Kuasa. Membuatku menyadari bahwa luar biasa panorama yang dilukis-Nya. Membuatku semakin menyadari bahwa Dialah Zat Yang Maha Agung. Dia ciptakan alam ini beserta isinya dengan sempurna. Tidak ada cacat sedikipun.

Keindahan tadi seolah ingin mengembalikan semangatku untuk terus berusaha menikmati hidup ini. Ketentraman yang ku dapat sore itu, akan menjadi sebuah inspirasi bagiku untuk terus berkarya. Ketentraman itu, menjadikan hatiku tenang. Tenang menatap hari esok, karena ku yakin Allah bersama kita selalu, setiap saat.

Read Full Post »

Older Posts »