Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2009

Beberapa waktu yang lalu, saat saya berada di sebuah toko buku di salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta, AulaTimursaya dikejutkan oleh seorang perempuan. Saat itu saya sedang melihat-lihat buku teknik sipil.

“Buku -buku arsitektur di mana ya?”, Tanya seorang perempuan mengagetkan saya.

“Oh, kayaknya di rak ini juga.”,langsung saya jawab.

Ternyata perempuan itu pernah saya lihat sebelumnya juga tengah berbicara dengan orang lain yang sepertinya baru ia kenal. Sekarang dia berbicara dengan saya yang juga belum pernah kenalan sebelumnya. Lalu kami mengobrol dan saya mengetahui kalau dia itu mahasiswi universitas Sahid di Jakarta jurusan komunikasi dan sedang mengambil tugas akhir dengan tema komunikasi pemasaran.

Saat saya mengatakan kalau saya sedang kuliah di ITB, dia terlihat kaget.

“Ow..ITB ya.”, dia mengucapkannya dengan ekspresi yang berbeda. Apakah itu menandakan kagum dengan ITB, atau segan dengan ITB, atau seperti apakah itu, yang jelas ketika saya menyebutkan kata ITB, ekspresi yang dia tunjukkan, tidak seperti biasanya.

Memangnya kenapa dengan ITB ?, pikir saya.

Lalu saya juga diceritakan oleh teman saya yang sedang mengikuti seleksi beasiswa di salah satu kontraktor BUMN yang terkenal. Saat itu kejadiannya adalah sedang para calon penerima beasiswa sedang dipanggil untuk diabsen satu-persatu. Jumlah yang ikut seleksi beasiswa itu ada 37 orang dari berbagai universitas, termasuk dari ITB, tetapi hanya tiga orang berasal dari ITB, sisanya kebanyakan dari universitas di daerah Jawa Tengah dan Timur.

Beberapa peserta beasiswa mulai dipanggil untuk diabsen dan diminta untuk mengacungkan tangannya. Sejak awal, peserta yang diabsen kebanyakan dari universitas yang terletak di jawa timur tersebut dan respon yang terjadi saat itu seperti biasa saja. Akan tetapi saat disebut nama teman saya yang berasal dari ITB, serentak mayoritas yang berada di ruang itu, menengok ke arah teman saya yang mengacung itu. Hal ini berbeda dengan sebelumnya yang biasa saja.

Memangnya ada apa dengan ITB ?, lagi-lagi saya bertanya dalam hati.

ITB, apa yang diketahui oleh orang-orang saat mendengar kata ITB ini ? Emm, ya, dari yang pernah saya dengar dari mereka-mereka itu adalah, bahwa mahasiswa-mahasiswi ITB itu pinter-pinter banget. Selain itu, ITB itu harapan beberapa masyarakat untuk kemudian hari, para lulusannya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat. Oya, ITB juga katanya Perguruan TInggi Terbaik di Indonesia.

Apakah benar yang mereka ucapkan itu ?

Bukannya saya ingin sombong atau memamerkannya, tetapi memang seperti kenyataannya. ITB memang diisi oleh orang-orang yang telah lolos seleksi dengan nilai tertinggi, untuk bidang teknik tentunya. ITB juga menjadi harapan masyarakat sekitar untuk membawa perubahan bangsa ini menjadi lebih baik. Ya, dalam catatan, ITB juga menempati sebagai Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia.

Lalu kalau sudah seperti itu faktanya, lantas bagaimana ?

Saya merasa ada suatu tanggung jawab lebih yang dibebankan di pundak saya. Saya harus bisa melakukan yang terbaik yang saya bisa sehingga bisa menjadi lulusan yang dapat bermanfaat bagi bangsa ini. Saya juga merasa seperti saya tidak boleh hanya memikirkan diri saya sendiri, tetapi lebih untuk melihat dengan lebih luas keadaan di sekitar saya. Keberadaan saya di ITB ini pun juga tak lepas dari subsidi yang diberikan pemerintah yang notabene juga berasal dari pajak rakyat, walaupun saat ini subsidi dari pemerintah telah semakin berkurang.

Wah, semakin berat ya… apalagi saya juga sudah mau masuk tingkat 4. Saya mencoba untuk merenungkannya. Apa yang telah saya lakukan di ITB ini? Apa yang telah saya dapat selama ini ? Apakah ini sudah cukup menjadi bekal saya untuk kehidupan di masyarakat kelak ? Bagaimana saya dapat menjadi bermanfaat bagi lingkungan saya nantinya? Apa yang bisa saya berikan sebagai solusi dari permasalahan bangsa ini ?

Sepertinya ini menjadi bahan renungan yang sangat berharga bagi saya. Tingkat 4 ini tidak boleh saya sia-siakan. Saya harus belajar dan belajar lebih giat lagi. Raih ilmu sebanyak-banyaknya, dan selami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Banyak hikmah yang harus saya petik yang akan mempertebal kebijaksanaan saya dan memperluas cakrawala kehidupan saya.

Bismillaahir rahmaanir rahiim…

Advertisements

Read Full Post »

Wah..alhamdulillah kemarin berhasil reunian SD lagi dan bagusnya kali ini lebih banyak dari yang pernah dilakukan sebelumnya. Keren-keren..

Sebetulnya wajah teman-teman semua tidak jauh beberda, hanya saja butuh beberapa saat bagi saya untuk connect. Butuh flash back dulu ke zaman SD, untuk ngeliat seperti apa muka teman2 saat itu, dan kembali lagi ke masa sekarang untuk mencocokkannya… Dan ternyata memang sama. Yang beda mungkin gaya dari masing-masing diri kita. Tapi ada juga gayanya yang tetap saja sejak dulu.. Untuk beberapa orang sih udah ga terlalu kaget  ngeliatnya, karena udah sering ketemu…

Jadi lucu, mengingat-ingat masa SD dulu. Banyak hal yang dapat membuat kita tersenyum, tertawa atau bahkan membuat kita malu. Bayangin saat SD, kita berumur kira-kira 12 tahun dan sekarang  21 tahun. Sekitar 9 tahun lamanya kita mungkin udah ga ketemu lagi. Ternyata ada yang udah mau lulus lagi, tinggal sidang, ada juga yang udah mau nikah..(selamat ya..!), mungkin ada juga yang sudah bekerja, dan ada juga yang sedang berjuang keras dengan kuliahnya, berhadapan dengan mata kuliah yang kadang membuat kita stress..

Tapi.. saya pribadi senang dan bahagia bisa kembali berkumpul dan bersilaturahmi dengan kawan-kawan semua. Tanpa saya sadari kalian semua menjadi inspirasi bagi saya, termasuk untuk cepat lulus dan menikah…haha…

Siplah..seperti yang kemarin sudah dibicarakan, kita akan membuat ikatan silaturahmi kita semakin kuat. Kita akan mencoba untuk mengumpulkan alumni SD Salman Al-Farisi angkatan 2000 ini lebih banyak lagi, bahkan kalau bisa kita kumpulkan ke-60 laskar Salman Al-Farisi yang saat ini mungkin tengah mencari jati dirinya atau mungkin sudah ada yang menemukannya.

Waktu memang tidak terasa bergulir begitu cepat,bagaikan bola yang dioper menyusur tanah oleh David Beckham.  Perasaan baru kemarin kita bermain kasti, bermain bola, mendengar pecahan kaca akibat kerasnya sepakan bola, ngantri makanan bersama, lalu mencuci piring di tempat wudlu, solat berjamaah bareng, main petak umpet, boy-boyan, terus juga mendapat teguran dan pelajaran yang luar biasa dari guru-guru kita, saling bergurau dan bercanda, bahkan jahil-jahilan dengan teman kita.. Eh ternyata sudah sembilan tahun berlalu… dan sekarang kita mungkin harus sudah mulai memikirkan masa depan kita.

Yup,,,mari kita kumpulkan teman-teman kita kembali…kita reunian, berbagi cerita dan bahagia bersama-sama teman-teman tercinta… Hal-hal seperti ini merupakan suatu suasana yang indah dan akan menjadi kenangan yang sangat berkesan…

Oke Fuad,eh maksudnya kita semua, mari kita reunian kembali dengan squad tim yang lebih besar lagi..!

Read Full Post »

MU ngasih opsi untuk mengundang Indonesia bermain di Kuala Lumpur… Eh Nurdih Halid menolaknya…8_4615_mu_tour_asia_indonesia

Ketika saya mendengar ada opsi bahwa Indonesia masih bisa bertanding dengan MU di Kuala Lumpur, jujur saya merasa senang. Tapi saat mendengar PSSI menolaknya, saya langsung kecewa.

Udah untung MU masih berbaik hati memikirkan indonesia agar dapat mengobati kekecewaan para fans. Eh, kesannya indonesia malah jadi sombong ya…seperti Indonesia adalah sebuah tim besar saja. Yang penting kan Boza Salossa dkk, bisa mendapat pelajaran berharga dr pertandingan lawan MU itu, bisa melihat permainan para pemain bintangnya dan menguji langsung mental dan teknik para pemain Indonesia.

Kita menolak undangan tersebut karena ini bukan sekadar pertandingan persahabatan. Selain untuk memuaskan pencinta sepakbola tanah air juga untuk meningkatkan citra Indonesia di mata dunia,” kata Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid di kantor PSSI, Senayan, Jakarta.

Eits..justru dengan adanya penolakan Nurdin seperti ini malah para pecinta sepakbola tanah air semakin tidak bisa melihat Indonesia All-Star bertanding dengan MU. Walaupun di Kuala Lumpur, TVone pasti tetap akan meyiarkannya, karena pertandingan Malaysia Vs MU saja disiarkan TVone.

Mengenai citra Indonesia, justru hal ini akan menimbulkan anggapan dari klub MU tersebut, bahwa Indonesia tidak percaya kepada mereka dan ini akan kurang baik terhadap kepercayaan mereka kepada Indonesia kedepannya. Buktinya, MU telah percaya kepada Indonesia akan keamanan di Jakarta, terutama di hotel yang akan diinapnya, Ritz Carlton, sehingga MU bersedia datang ke Jakarta. Eh, sekarang giliran diminta kepercayaannya, PSSI malah ga mau percaya dengan undangan MU itu.

Kalau sekarang udah menolak seperti ini, memang untungnya seperti apa ? Sudah tidak jadi main, panitia rugi sekitar 30 Milyar. (sumber: detiksport.com). Apakah mau berharap tahun depan MU mau berkunjung lagi ? emm..sepertinya mereka akan berpikir ulang lebih banyak.. Mereka juga akan takut untuk datang lagi karena kita belum bisa memberikan jaminan keamanan di Indonesia., seperti sekarang ini.

Saya dan mungkin seluruh penggemar sepakbola di tanah air kecewa dengan batalnya kedatangan klub sebesar MU di Indonesia. Tapi, saya pribadi juga kecewa dengan Nurdin Halid yang menolak undangan dari MU. Kapan lagi MU mengundang Indonesia ? Saya pikir justru ini suatu kehormatan mendapat undangan dari tim sebesar MU.

Ya, mudah-mudahan kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang sangat berharga dari kejadian ini. Mari kita berdoa supaya Indonesia tetap menjadi Negara yang aman, tertib, dan damai.

Read Full Post »

Setelah menunggu berdesak-desakan selama 20 menit di Halte Harmoni yang memang terkenal sebagai halte dengan penumpang terbanyak, akhirnya syukur alhamduliilah saya mendapat giliran untuk merasakan AC busway. Jujur, baru pertama kali saya melihat dan merasakannya sendiri mengantri di halte tersebut menuju jurusan Kali Deres, begitu dahsyatnya,  Seperti akan mengantri sembako atau menonton konser music.

Jika ingin digambarkan lebih detail lagi, posisi saya dan orang-orang sudah sangat berdempetan, bahkan tak bisa dipungkiri saling bersentuhan dengan sampirng kiri-kanan, atau depan-belakang. Saya sendiri membawa tas ransel dengan posisi menghadap ke depan sehingga dapat selalu terawasi . Sebetulnya saya baru menyadarinya ketika orang-orang di sekitar saya membawanya seperti itu. “ O ya, betul juga y…saya harus hati-hati,” pikir saya dalam hati.

Saya juga melihat keadaan saat itu begitu membuat petugas busway cukup kerepotan. Beberapa kali dia mengingatkan kita untuk tidak saling dorong. Dorongan dari belakang memang lebih terasa. Sekali dorong ke depan, efeknya seperti domini, jadi yang kasian yang udah hampiri di depan. Di depan masih agak tertahan karena tidak mungkn masuk busway buru-buru, langkahnya kudu hati-hati. Sementara di belakang udah tidak sabaran untuk merangsek ke depan. Yang terjadi adalah beberapa orang terhimpit. Saya melihat sendiri seorang bapak yang cukup terhimpit badannya sehingga posisinya sampai miring.

Belum lagi, saya melihat anak kecil yang terhimpit di pojokan jalur yang menyempit untuk masuk ke dalam busway itu. Anak itu memang tidak kelihatan awalnya, tetapi dia begitu ketakutan saat sudah melewatinya dan mencari ibunya. Orang-orang di sekitar situ sampai berkata, “Eh, itu anak-anak, jangan sampai digituin juga, “. Wah, seperti inilah keadaan di sore hari, bagaimana orang begitu merindukan busway di halte Harmoni ini. Memang seperti namanya Harmoni yang berarti harmonis. Orang memang selalu mengharapakan dan merindukan suatu kehidupan yang harmonis.. Sehingga orang-orang berbondong menghampirinya.

Siapa yang tidak merindukan suatu keharmonisan dalam kehidupan ? Siapa yang tidak menginginkan keharmonisan dalam berumah tangga, bermasyarakat, bebangasa, dan bernegara ? Saya yakin semua orang inign suatu kehidupan yang harmonis.

Jadi, mungkin ada hubungannya juga antara nama halte harmoni dengan suatu keharmonisan yang diharapkan oleh orang banyak. Berdesak-desakannya memang tidak menunjukkan suatu keharmonisan, tetapi bagaimana kerinduan akan keharmonisan itu ditunjukkan dengan berbondong-bondongnya orang mengantri di halte Harmoni.

Saat ini memang sepertinya bangsa ini kekurangan kerhamonisannya. Kurangnya rasa persatuan dan kesatuan semakin terasa, sebagaian orang lebih mementingkan dirinya sendiri, atau lebih mengutamakan kepentingan golongannya. Keharmonisan dalam kehidupan berbangsa kurang terlihat. Para pemegang kekuasaan dengan sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan kelompoknya. Orang kecil sulit untuk banyak “bicara” dalam negeri yang katanya menganut system demokrasi.

Ah,tapi itu hanya sementara. Saya yakin masih banyak orang-orang di negeri ini yang mendambakan keharmonisan itu dan berusaha dengan seluruh jiwanya untuk mencapai keharmonisan itu. Tidak hanya keharmonisan bagi dirinya sendiri, tetapi dia merangkul orang-orang di sekitarnya untuk berbagi kebahagiaan sehingga keharmonisan itu menjadi suatu ikatan yang kuat.

Maukah kita untuk membangun keharmonisan itu?

Semoga bangsa ini menjadi bangsa yang harmonis dalam menerusi perjuangan para pahlawan dahulu , sehingga keharmonisan itu dapat dirasakan oleh jiwa-jiwa dari setiap lintas generasi.

Read Full Post »