Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2010

Naik angkot Panghegar-Dipatiukur memang memiliki pengalaman tersendiri.

Suatu siang naiklah seorang perempuan remaja di  perempatan BIP. Saat itu saya sedang sendirian di angkot dan seperti biasa duduk di pojok

jangan buang sampah di angkot

 belakang bagian kanan. Perempuan tadi duduk persis di belakang Pak Sopir dan terlihatlah sebuah komik “Detektif Conan” sedang ia pegang. Sepertinya baru ia beli karena masih terbungkus rapi. Lalu ia membuka plastiknya dan segera membacanya.

Tapi ternyata yang menjadi perhatian saya bukan tentang isi komik itu, bukan tentang bagaimana si Conan bisa membongkar kasus-kasus kelas dunia, tetapi mata saya tertuju pada plastik bungkus komik itu. Perempuan itu membuang sembarangan plastiknya di angkot itu. Dia melakukannya seakan telah biasa.

Saat itu, saya merasa gundah, seperti ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk hati saya. Ini sesuatu yang tidak benar. Saya ingin menegurnya, tapi saya belum berani. Saya takut respon dia yang mungkin bisa saja memarahi saya. Mungkin berlebihan juga, tapi saya sudah terlanjur takut. Padahal ini mungkin kesempatan emas saya untuk mengingatkannya. Selama kurang lebih 5 menit saya memikirkannya.

Lalu saya teringat cerita ibu saya yang pernah menegur seorang pemuda yang membuang sampah sembarangan dari mobilnya persis di sebelah mobil ibu saya. Dan ibu saya berani menegur dan pemuda tadi kembali memungut sampah yang telah sempat dibuangnya itu. Saat itu saya kembali sadar dan mencoba mengumpulkan keberanian. Sedikit menarik nafas..

Lalu saya mengambil keputusan untuk mau menegurnya, padahal dia sudah buang sampah beberapa waktu yang lalu. Takutnya juga dia sudah lupa kalau dia pernah buang sembarangan. Saya segera memantapkan hati bahwa saya akan menegurnya, siapapun yang turun duluan. Jika dia duluan, maka sebelum dia turun saya akan menegurnya. Kalau saya duluan, sebelum turun,  saya juga yang akan menegurnya.

Ternyata dia hendak turun di TBI di jalan Riau. Deg-degan. Ya, tiba-tiba perasaan takut kembali muncul. Tapi tetap saya redam. “Kiri Pak!”, akhirnya dia turun. Saya sedikit mendekat. Persis sebelum dia turun, “Mba!” sekali lagi,”Mba!”. Dia menengok ke arah saya, karena dia pikir tidak ada lagi perempuan di angkot selain dirinya. Tanpa basa-basi, “Mba, sampahnya bisa tolong diambil! Jangan buang sembarangan ya!”

Segera dengan senyum yang agak dipaksakan, dia mengambil plastik tadi dan membawanya. “Makasih ya Mba”, segera saya berterimakasih atas kesediannya.

Perasaan lega tiba-tiba menghampiri saya.

Dua hari kemudian, hari senin, setelah saya ujian Pendidikan Anti Korupsi. Saya menaiki angkot Panghegar lagi. Lagi-lagi saya duduk di pojok belakang kanan. Kali ini telah ada tiga penumpang bersama saya. Tiba-tiba naik seorang anak SMA. Perempuan. Ya, perempuan. Dengan bungkusan gorengan beserta air mineral gelas berada ditangannya, dia duduk di pojok belakang juga yang berarti persis di depan saya.

Terlihat dia menyantap gorengannya. Kemudian karena haus dia segera membuka plastik sedotan dan segera minimum air mineral itu. Lagi-lagi yang menjadi perhatian saya bukan bagaimana ia minum dan berapa banyak yang diminum, tetapi dia membuang sampah plastik kecil itu ke bawah jok. Ya,sangat kecil, hanya sebuah plastik sedotan.

Persis di depan saya. Langsung perasaan saya ga enak lagi. Tapi tanpa berpikir panjang seperti waktu itu, karena sudah latihan dua hari sebelumnya, sekitar satu menit kemudian, saya menegurnya. Kali ini karena jelas memakai seragam SMA, maka saya memanggilnya dengan Dik. “Dik, sampahnya jangan dibuang sembarangan ya”. Segera ia mengambil plastik kecil tadi dan mengantunginya di saku seragamnya. Tentu saya kembali berterimakasih, “Makasih ya Dik.”

Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, yang jelas dia tetap memakan gorengannya. Kemudian karena mungkin telah habis gorengannya dan tinggal bungkusnya,  dia segera memasukkan bungkusnya ke dalam tas-nya. Alhamdulillah, dalam hati saya. Ia tidak membuang sembarangan lagi. Begitu juga dengan gelas air mineral dan tisunya, dia pegang dulu walaupun telah habis.

Hingga kemudian, “Kiri-kiri!”. Perempuan itu turun di jalan Riau depan salah satu FO yang cukup besar itu. Sebelum dia turun. “Makasih ya.” ia tersenyum. Saya pun tersenyum,” Makasih juga ya!”. Hal ini sudah tentu cukup mengejutkan saya.

Dua perempuan dalam rentang dua hari, turun di jalan yang sama, dengan jurusan angkot yang sama, dan kejadian yang sama, membuat saya tersenyum sekaligus bahagia. Kejadian ini benar-benar menguji idealis saya. Apakah saya punya keberanian untuk mengajak orang menjaga kebersihan bersama-sama. Saya bahagia karena saya punya kepedulian dan keberanian itu. Terlebih ternyata hasilnya pun , Alhamdulillah positif.

Read Full Post »

Waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali. Tidak terasa ternyata diri kita telah berdiri hari ini dengan keadaan yang ada saat ini. Inilah diri kita yang sekarang. Tidak terasa ternyata selama ini semua yang terjadi telah membentuk diri kita menjadi seperti saat ini. Apakah saat ini kita bahagia dengan kondisi kita saat ini ? Ataukah kita merasa menderita?

Banyak sekali episode-episode kehidupan yang telah kita jalani. Begitu banyak pilihan dalam hidup ini yang telah kita ambil. Begitu banyak tindakan yang telah kita lakukan. Begitu banyak hal-hal yang telah kita lihat, dengar, rasakan, dan kita ucapkan dalam hidup ini. Dan kesemuanya telah membentuk diri kita saat ini. Diri kita yang sekarang ini adalah hasil dari proses yang telah kita jalani di masa lalu.

Secara sadar atau tidak, kita telah banyak bertemu dengan orang-orang. Kita telah berkomunikasi dengan beragam tipe orang. Kita telah sering berinteraksi dengan mereka dalam berbagai macam lingkungan. Orang-orang tersebut dan lingkungannya pun turut memberikan kontribusinya dalam membentuk diri kita.

Dari semuanya itu, bagaimanakah sebenarnya diri kita sekarang ini? Bagaimanakah segala macam kejadian itu telah membentuk kepribadian kita? Bagaimanakah setiap tindakan yang kita lakukan telah mewujudkan cita-cita kita? Bagaimanakah keputusan-keputusan yang kita ambil itu, berpengaruh terhadap kehidupan kita masa kini?

Apakah kita bahagia dan merasa diri kita telah berkembang dengan baik selama ini? Ataukah perjalanan yang telah kita tempuh justru membuat diri kita belum berkembang, bahkan seakan jalan di tempat? Adakah sifat atau karakter kita yang muncul dan tenggelam selama pengarungan hidup ini? Bagaimanakah kebermanfaatan diri ini dalam lingkungan kita?

Dari mulai kita kecil, saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar kita belajar dan bermain bersama teman-teman kecil kita dan itu membentuk diri kita. Kemudian beranjak ke SMP dan kita semakin senang bergaul dan berinteraksi dengan kawan-kawan kita. Kita telah mengenal berbagai macam hal-hal baru saat itu. Tak terasa tiga tahun kemudian, kita memasuki dunia SMA yang penuh dengan warna-warni dunia remaja. Semakin banyak pengetahuan serta pengalaman yang kita peroleh. Dan perjalanan ini pun membentuk diri kita.

Jam pun terus berdetak, menandakan waktu itu sangat dinamis. Sifatnya absolut dan mutlak. Bergerak dan terus bergerak. Perlahan tapi pasti. Bisa juga cepat dan sangat pasti. Kita pun masuk ke dunia perkuliahan. Kita memasuki sebuah dunia dimana pembentukan jati diri seseorang semakin jelas. Kita membuka pintu dimana di dalamnya terdapat berbagai macam pilihan. Di sini kita semakin menelusuri mau kemana diri ktia. Sangat banyak hal baru di sini. Dan sekali lagi itu semua membentuk diri kita saat ini. Persis diri kita yang ada pada detik ini.

Apakah kita telah menjadi orang yang lebih baik ? Apakah kita sedang berkembang untuk terus maju? Ataukah justru kualitas diri kita semakin menurun?  Apakah kita menjadi orang semakin bernilai, bermakna, dan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain? Ataukah diri kita masih menjadi orang yang biasa-biasa saja?

Hari ini, saat ini,,kita telah melihat “lukisan” kehidupan kita sendiri. Warna-warni telah kita berikan pada kanvas kehidupan ini. Banyak goresan lurus dan melengkung yang telah kita buat. Banyak bentuk lainnya yang juga telah kita selipkan dalam ruang-ruang kanvas itu.  Kita telah melihat gambaran semuanya tentang diri kita. Dan inilah karya kita.

Pertanyaannya sekarang adalah…

Indahkah gambar lukisan kita ?

Indahkah karya kita ini yang telah kita buat selama ini?

Seindah Inikah Lukisan kita?

Read Full Post »

Tidak bisa dipungkiri bahwa suatu keterampilan atau kesuksesan dalam suatu bidang tidak lepas dari sebuah kesabaran. Ya, dengan kita terus bersabar menikmati proses yang ada, terus mencoba berusaha mencintai apa yang kita lakukan, maka semua akan terasa indah. Pada saat kita tenggelam dalam asiknya suatu pekerjaan, maka secara tidak sadar, suasana hati kita akan turut terkondisikan dengan baik sesuai dengan perasaan kita.

Tentu untuk membuat kita menikmati apa yang sedang kita lakukan memang tidaklah mudah. Saya sendiri merasakan perjuangan untuk bisa menikmati apa yang sedang concern saya kerjakan saat ini. Secara alamiah saya tidak terlalu menikmatinya, tetapi saya perlu untuk mencoba menjadikannya sebagai suatu kenikmatan. Tidak mudah memang, bahkan dibutuhkan suatu paksaan supaya kita meraih kondisi yang baik itu.

Bukankah mesin solar baru akan panas setelah melewati kurun waktu tertentu. Bukankah para atlet angkat besi perlu mengeluarkan tenaga lebih saat mengangkat bebannya. Bukankah padi di sawah tumbuh setelah melewati tenggat waktu yang tidak cepat. Dan bukankah menuju pucak gunung, perlu melewati jalur yang berliku, berbatu, dan mendaki.

Semua butuh kesabaran dalam menjalaninya.  Pada saat memulai itulah dimana kesabaran perlu kita tanam dalam diri. Ketika kita dalam keadaan terpaksa, pada saat itulah kesabaran memegang perannya, hingga pada suatu waktu, secara tidak sadar kita telah tenggelam dalam pekerjaan kita. Secara tidak sadar, kita telah melewati beberapa waktu dalam pekerjaan itu dan mulai terasa mengalir mengikuti iramanya.

Mulailah dengan 5 menit pertama. Inilah tips yang dapat kita coba. Ya mulai saja dulu selama 5 menit apa yang akan kita lakukan. Tanpa terasa kita telah melewati 5 menit, 15 menit, 30 menit hingga 1 jam kita telah mengerjakan sesuatu yang pada mulanya kita agak malas. Tapi dengan suatu paksaan ini, maka insya Allah rasa keikhlasan akan muncul dengan sendirinya. Bukankah untuk melatih keikhlasan dalam bersedekah, kita perlu berlatih bersedekah terus menerus. Mungkin pada awalnya belum rela 100 %, tetapi setelah berulang kali, maka kita tidak keberatan untuk bersedekah di kemudian hari.

Tidak ada yang salah dengan keterpaksaan, karena kita tidak akan bisa memulainya jika tidak dipaksa. Akan sulit untuk memulai kalau kita harus menunggu dan menunggu hingga kita sudah merasa enak. Kita memaksa diri kita demi kebaikan diri kita, untuk perbaikan kualitas diri, serta untuk memberikan makna pada setiap apa yang kita lakukan. Memaksa di awal, untuk menuai kebermaknaan serta kesuksesan di masa depan. Insya Allah.

Read Full Post »