Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2010

Saya terkejut ketika membaca berita ada seorang siswa yang tewas karena bunuh diri setelah membaca isi dari sebuah surat yang diperolehnya. Dia meninggal setelah meminum racun dan tidak sempat tertolong. Begitu juga dengan seorang siswa lainnya yang membaca surat yang serupa. Dia pun meminum racun, akan tetapi dia sempat diselamatkan.

Apa yang terjadi dengan kedua siswa tersebut ? Surat apa yang mereka baca sehingga mereka nekat untuk bunuh diri ?

Ternyata itu adalah salah satu dari berbagai respon yang mungkin ada dari seluruh siswa SMA dan SMK kelas 3 setelah mengetahui pengumuman tentang kelulusan mereka dalam Ujian Nasional (UN) tahun 2010 ini. Variasi respon muncul dari masing-masing siswa setelah mereka membaca surat yang diterima itu.

Bagi mereka yang lulus, rasa kegembiraan jelas tergambar dari diri mereka. Mereka tersenyum lepas, berteriak senang. Mereka berpelukan, saling mengucapkan selamat. Ada yang segera mendapat pelukan dari ibunya. Ada yang menangis terharu karena bahagia. Tapi ada juga yang segera mencorat-coret bajunya dengan spidol maupun piloks. Sebagian yang lain konvoi di jalanan dengan sepeda motor.

Ya, itulah perasaan gembira bagi mereka yang lulus. Gembiranya mereka pun diungkapkan dengan berbagai cara tersebut. Bisa positif bisa juga negatif.

Tapi, bagaimana dengan mereka yang belum lulus ?

Kejadian yang menimpa dua siswa yang saya sebutkan di awal tadi, adalah salah satunya. Sangat tragis dan memilukan. Respon lain yang saya lihat di berita adalah mereka marah dan diungkapkan dengan berteriak dan memprotes. Bahkan ada yang melempar sekolahnya dengan batu-batu sehingga merusak sekolah mereka sendiri. Bagi yang perempuan, menangis adalah respon yang sangat wajar.  Mereka kecewa dengan hasil yang diperoleh dan diungkapkan dengan menangis. Selain itu ada juga yang duduk termenung dengan terus menunduk.

Begitulah respon bagi mereka yang mendapat pengumuman bahwa mereka belum lulus ujian nasional.

Saya sendiri pun pernah merasakan Ujian Nasional seperti yang mereka semua lakukan pada tahun ini. Alhamdulillah saya lulus pada saat itu. Tapi saya juga melihat bagaimana teman saya yang belum lulus saat itu. Saya tidak melihatnya secara langsung saat itu, tetapi pada saat perpisahan SMA, dia datang dengan wajah yang ceria.

Berbagai respon itu lahir dari dua kalimat yang berbeda. Lulus atau belum lulus. Dua kalimat itu bisa melahirkan berbagai respon yang sangat bertolak belakang. Gembira atau sedih. Senang atau kecewa. Bersyukur atau mencerca. Bersabar atau marah. Senyum atau cemberut. Positif atau negatif. Kita sendiri yang memilih untuk bersikap seperti apa dan ingin mengekspresikannya dalam bentuk apa. Kita lah yang memberikan perintah kepada anggota tubuh kita untuk bersikap. Kitalah yang menberi makna terhadap apa yang terjadi pada diri kita.

Ya, terlepas dari pro kontra tentang ujian nasional ini, saya ingin memberikan semangat kepada adik-adik yang belum mendapat kelulusan saat ini. Masih ada ujian ulangan untuk mata pelajaran yang belum lulus dan  masih berkesempatan masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN). Tetaplah untuk optimis dan berharap yang terbaik. Berikan yang terbaik dari usaha adik-adik dalam ujian susulan nanti dan buktikan bahwa adik-adik bisa lulus. Berusahalah dengan sungguh-sungguh. Berlatihlah soal sebanyak mungkin. Dan jangan lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Insya Allah adik-adik akan mendapatkan hasil yang terbaik berupa kelulusan.

Read Full Post »

Setelah malam, akan datang pagi.

Setelah gelap akan muncul terang.

Setelah kesulitan akan datang kemudahan.

Setelah kebingungan akan datang inspirasi.

Setelah kemurungan akan datang keceriaan.

Setelah pesimis akan datang optimis.

Setelah masa lalu akan datang masa depan.

Habis Gelap Terbitlah Terang


Bagaimanapun kondisi kita saat ini.

Bagaimanapun keadaan hati kita sekarang ini.

Bagaimanapun tertekannya diri kita.

Bagaimanapun itu semua,


Masih ada harapan akan perbaikan.

Masih ada harapan untuk  peningkatan kualitas.

Masih ada rasa optimis yang terhampar di depan.

Masih ada cita-cita yang dapat diperjuangkan.

Dan masih ada Rahmat-Nya yang terbentang luas.


Janganlah kita berputus asa dari Rahmat-Nya.

Kasih sayang-Nya serta Ampunan-Nya akan senantiasa diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang mendekat kepada-Nya.

Read Full Post »

Di dalam Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, No. 22 Tahun 2009, berbagai aturan berlalu lintas bagi para

Mobil ini Melewati Garis Batas

pengguna jalan mulai diterapkan. Beberapa sosialisasi pun sudah mulai terlihat. Saya pernah membaca koran yang berita utamanya tentang UU ini. Kemudian di perempatan dan beberapa ruas jalan, semacam spanduk atau banner dari kepolisian terkait sosialisasi undang-undang pun sudah mulai terlihat.

Aturan yang berlaku saat ini pun sebetulnya memiliki sanksi yang cukup tegas bagi pelanggarnya. Sanksi tersebut bisa berupa kurungan penjara ataupun denda yang jumlahnya tidak kecil. Dapat dikatakan aturan ini baik. Akan tetapi bagaimana penerapannya di lapangan ?

Ternyata aturan ini masih sulit untuk diterapkan dengan baik.

Pernah saya mengendarai mobil di perempatan Jembatan Cikapayang dari arah Jalan Surapati. Saat itu lampu lalu lintas menunjukkan warna merah yang berarti berhenti. Aturan yang berlaku adalah, bahwa setiap kendaraan mesti berhenti di belakang garis putih. Jika melewati garis tersebut, maka hal ini adalah pelanggaran dan dapat dikenaik sanksi.

Tetapi yang terjadi adalah bahwa masih banyak kendaraan, khususnya motor yang melewati batas itu. Sebetulnya banner tentang aturan ini pernah dipasang di persimpangan ini, akan tetapi sekarang sudah tidak ada lagi di ruas jalan ini. Motor-motor itu jelas melaju saja tanpa mengindahkan garis yang jelas ada di jalan tersebut. Mungkin mereka memang tidak tahu aturan yang baru ini dan  hal in iadalah wajar.

Akan tetapi ternyata, pada saat itu ada kendaraan berupa mobil, mirip mobil tahanan  yang juga melebihi garis itu, bahkan kalau boleh saya bilang, agak keterlaluan lebihnya. Hal ini dilakukan bersama kendaraan lainnya. Dan ternyata, dalam plat mobil itu terdapat sebuah lambang yang bagi saya sudah tidak asing lagi. Tahukan teman-teman lambang apa itu? Ternyata lambang itu milik kepolisian. Ya benar sekali, lambang itu milik institusi yang membuat aturan ini dan juga yang menindak terhadap pelanggaran lalu lintas itu sendiri.

Lalu, yang saya lakukan adalah segera mengambil hp dan mendokumentasikan momen itu. Gambar ini menunjukkan bahwa mobil itu telah melewati garis batas, akan tetapi lambang institusi itu tidak terlihat karena terhalang motor.

Entah apakah sang pengendara ini memang tidak mengetahui aturan ini atau memang tidak sadar? Tetapi bagi saya adalah bahwa hal ini telah membenarkan bahwa bagaimana masyarakat dapat disiplin mematuhi aturan, tetapi kalau yang berwenang membuat aturan dan menindak setiap pelanggarnya juga melanggar aturan itu sendiri. Kita bisa beranggapan “Polisi saja juga melanggar ko.” Dan ini membuat kita menjadi tidak disiplin juga.

Saya juga pernah melihat orang yang dibonceng oleh polisi dengan menggunakan sepeda motor, juga tidak menggunakan helm. Padahal polisi selalu siap siaga menindak jika ada yang tidak memakai helm saat mengendarai motor.

Mudah-mudahan mereka itu hanyalah oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya percaya bahwa masih banyak polisi yang baik dan disiplin. Tetapi saya juga tidak memungkiri jika masih banyak juga polisi yang tidak menjadi teladan yang baik bagi masyarakat.

Aturan ini dibuat untuk meningkatkan ketertiban dan kelancaran dalam berlalu lintas. Akan tetapi jika implementasinya tidak baik, tetap saja tidak dapat mewujudkan tujuan dibuatnya aturan ini. Baik polisi maupun masyarakat harus bisa disiplin dalam menegakkan aturan ini. Polisi harus bisa mencontoh yang baik. Polisi tidak hanya menindak orang yang melanggar, tetapi dia pun harus bertindak untuk turut taat terhadap aturan itu. Selain itu sosialisasi tentang aturan ini harus digencarkan lagi.

Sedangkan bagi masyarakat, kita harus proaktif dalam mencari info terkait aturan ini sekaligus segera menerapkan dalam berlalu lintas di jalan. Jika kedua peran ini dipenuhi, maka kelancaran dan ketertiban dalam berlalu lintas dapat tercipta.

Read Full Post »

Suatu pagi, saat saya sedang mengendarai mobil dari rumah, di daerah Cicaheum saya melihat di depan mobil saya, seorang bapak yang sudah

Bapak Tua Mendorong Becaknya

 sangat tua dengan topinya terlihat sedang mendorong becaknya. Bapak tua tadi ternyata masih mencari penghasilan dengan becaknya. Persis saat itu jalanan agak naik dan bapak tua itu mendorong becak itu dengan susah payah. Saya sendiri melihatnya. Saya persis di belakangnya. Jalanan memang agak macet dan mobil melaju dengan pelan ,sehingga saya dapat mengamati bapak itu dengan seksama.

Kemudian saya mulai menyusul bapak tua yang sedang mendorong becak  itu. Saya dapat melihat bagaimana begitu kerasnya bapak tua itu berjuang dalam mendorong becaknya. Apalgi jalanan nanjak, sehingga dibutuhkan tenaga lebih untuk bisa mendorongnya. Mobil dan motor berseliweran di samping kanan  menyusul satu per satu becak itu, termasuk diri saya, seolah-olah tida melihat bapak tua dengan becaknya.

Lalu apa yang saya lakukan? Saya hanya dapat melihat bapak itu, tetapi saya sempat mengambil handphone saya untuk mendokumentasi  kejadian ini. Saya foto bapak itu dan becaknya pada saat saya telah sedikit berada di depannya. Muka bapak itu tidak terlihat dengan jelas, tetapi sangat terlihat bahwa bapak tua itu sedang berusaha keras mendorong becaknya.

Mengapa saya foto bapak tua tadi? Mungkin sikap saya ini kurang baik, tetapi saya ingin berbagi kepada teman-teman bahwa seorang bapak tua masih terus dan terus bekerja untuk mencari penghasilan yang sudah pasti untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dia tidak berdiam diri menikmati masa tua tanpa melakukan apapun. Dia tidak mau menyusahkan orang lain, sehingga dia terus mencari uang demi memenuhi kebutuhannya.

Jujur, hati saya terketuk saat melihat itu. Saya merasa malu, karena saya merasa belum berusaha maksimal dalam melakukan apa yang sedang saya kejar, sedangkan bapak tua tadi sedang berjuang keras mencari penghasilan. Saya belum berikhtiar secara maksimal terhadap apa yang sedang saya lakukan, sedangkan bapak itu mendorong becaknya sendirian dalam keadaan jalanan yang naik.

Melihat bapak tadi, saya yang jauh lebih muda, dan insya Allah stamina yang lebih kuat, badan yang lebih segar, jika saya tidak bekerja keras dalam kehidupan ini, maka saya adalah seorang yang lemah. Jika saya tidak bekerja lebih giat, maka saya adalah pemalas. Jika saya lebih banyak bersantai-santai, padahal di luar sana, banyak orang yang keadaannya tidak lebih baik dari saya, seperti bapak tua itu, maka saya telah menyianyiakan waktu saya.

Melihat hal ini, saya kembali melihat ke dalam diri saya, menerawang dan mamastikan bagaimana selama ini saya berusaha dalam meraih cita-cita saya. Melihat bapak tua tadi, kepedulian saya terhadap sesama kembali tumbuh. Masih banyak yang belum dapat merasakan seperti yang mungkin telah saya rasakan saat ini.

Semoga hal ini bisa menjadi refleksi bagi diri kita semua untuk terus berusaha, berikhtiar dalam kehidupan ini untuk meraih sesuatu yang sangat berarti dan bermakna baik bagi diri kita maupun bagi orang lain. Dan jadilah kita, orang-orang yang peka dan peduli dengan keadaan sekitar. Alangkah indahnya jika kita adalah seorang yang memiliki kerendahan hati dalam hidup ini dengan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada di sekitar kita.

Read Full Post »

Ustadz Athian Ali mengisi khutbah jumat pada tanggal 9 April 2010 di Masjid Salman. Apa yang dibawakan oleh Pa Athian Ali begitu dalam dan

Masjid Salman ITB

 menyentuh. Beliau menyampaikan khutbah tentang dosa yang kita lakukan. Berikut intisari khutbah yang disampaikannya :

Setiap mukmin meyakini bahwa Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia yang memiliki Kekuatan. Kita sebagai mukmin tidak memiliki daya apapun, karena semua yang kita lakukan dan usahakan melalui potensi kita adalah pemberian-Nya. Manusia hanya bisa berusaha dan berikhtiar, akan tetapi Allah yang menentukan segalanya. Dia yang mempunyai wewengan untuk memberikan hasilnya kepada kita. Semua terjadi karena Allah Menghendakinya.

Kun fayakun”.(Jadilah, maka terjadilah).

Selain berikhtiar, manusia juga berdoa agar usahanya itu dapat menghasilkan sesuatu seperti yag diharapkannya. Manusia berdoa kepada Allah agar dikabulkan doanya dan mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tetapi kenapa, ada doa yang tidak dikabulkan oleh Allah. Mungkin ada yang bertanya, bukankah Allah telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-hambanya?

Berdoalah kepadaku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” Al-Mu’min, 40:60.

Allah tidak akan pernah ingkar kepada hamba-Nya. Setiap mukmin harus meyakini hal ini bahwa Allah tidak akan pernah lupa terhadap janji-Nya. Hanya, Allah memiliki wewenang terhadap hal ini. Pak Athian Ali mengatakan, ada tiga hal yang menyebabkan doa tidak dikabulkan, yaitu :

1.  Allah memang belum mengabulkan doa kita dan menundanya

Allah masih ingin menguji hamba-Nya apakah lebih mencintai Allah atau sesuatu yang dimintai dalam doanya. Allah masih ingin membuktikan keimanan hamba-Nya, sehingga menunda untuk mengabulkan doa kita.

2.  Allah telah mengabulkan doanya dengan memberi sesuatu yang lebih baik

Allah mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Apa yang menurut kita baik, belum tentu menurut Allah baik dan apa yang menurut kita tidak baik, juga belum tentu itu tidak baik di sisi Allah.

 Allah lebih Mengetahui apa yang sebaiknya ditetapkan bagi hamba-Nya. Allah tidak mengabulkan keinginannya, karena bisa jadi jika mengabulkannya akan membuat dia semakin jauh dari-Nya, seperti kisah Karun yang terdapat surat Al-Qasas,28 : 76-81. Karun mendapatkan harta dan kekayaan dari Allah, tapi itu justru membuatnya ingkar kepada-Nya, sehingga Allah akhirnya membenamkan Karun beserta seluruh hartanya ke dalam bumi.

 Pasti ada hikmah lain yang akan menjadi kebaikan bagi diri kita, karena doa kita yang tidak dikabulkan. Mungkin doa kita belum baik, ataupun niat kita belum sempurna.

 3. Yang berdoa tidak baik dan tidak dalam keadaan suci kepada Allah

Jika orang yang buang angin saja tidak boleh shalat sebelum dia berwudlu kembali. Jika orang yang buang air kecil atau besar juga harus berwudlu sebelum melakukan shalat. Jika perempuan yang haid saja, diharamkan untuk shalat dan puasa sebelum perempuan itu suci dari haid, padahal haid itu adalah fitrah dari Allah. Jika pasangan suami istri yang berhubungan badan, juga tidak boleh shalat sebelum mandi junub.

Dan karena jika-jika yang tadi, maka orang yang berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah, dia juga tidak boleh mendekat kepada-Nya, sebelum dia suci atau baik. Rasulullah pernah berkata bahwa Allah itu baik dan suci, maka Allah tidak menerima sesuatu kecuali sesuatu itu baik dan suci pula. Jadi kita harus suci dan bersih dari segala hal terlebih dahulu dari yang dilarang-Nya jika doa-doa kita ingin dikabulkan oleh Allah.

Lebih lanjut Pak Athian Ali menyampaikan bahwa dosa itu terbagi menjadi dua, yaitu dosa yang hubungannya antara diri kita dengan Allah dan dosa yang menyangkut orang lain. Untuk yang pertama, urusannya hanya dengan Allah. Kita bertaubat langsung kepada Allah atas segala dosa-dosa kita. Misalkan kita tidak shalat, maka urusannya langsung dengan Allah dan kita bertaubat langsung kepada-Nya.

Akan tetapi untuk dosa yang berhubungan dengan orang lain, maka urusannya tidak hanya kepada Allah, tetapi juga kepada orang yang kita zalimi itu. Kita selesaikan urusan kita dengannya, baru kita bisa bertaubat kepada Allah. Islam sangat menghargai hak-hak orang yang dizalimi. Jika kita meyakiti orang lain, maka mohon maaf dulu kepada yang orang itu, sebelum kita bertaubat kepada Allah.

Pa Athian Ali, juga menyinggung tentang para koruptor. Dosa yang dilakukan oleh para koruptor adalah terkait dengan banyak orang, karena mencuri uang negara. Dosa ini menyangkut kepada orang banyak. Jika ingin bertaubat, maka para koruptor harus menyelesaikan masalahnya dengan rakyat yang telah dikorup. Bagaimana caranya ? Bisa saja koruptor tampil di televisi melakukan jumpa pers atau membuat pernyataan di media cetak dengan mengatakan bahwa dia memohon maaf karena telah melakukan korupsi dan bersedia untuk mengembalikan seluruh uang yang dikorupsinya serta akan menyerahkan diri untuk diperiksa sesuai hukum yang berlaku.

 Jika tidak demikian, maka para koruptor akan semakin banyak. Orang tinggal pergi umrah dan menangis di Multazam untuk bertaubat, tapi setelah itu melakukan korupsi lagi dan menikmati hasil korupsinya itu.

 Selain itu kepada orang tua, kita juga harus terbebas dari dosa dengan kedua orang tua kita. Jangan sampai orang tua tidak membebaskan kesalahan-kesalahan kita, sehingga berkah Allah tidak dibukakan kepada kita. Ridho Allah tergantung kepada ridho kedua orang tua kita dan murka Allah tergantung kepada murka kedua orang tua kita.

Begitulah isi khutbah Pa Athian Ali. Ini menjadi renungan untuk kita semua. Apakah kita telah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam berikhtiar ? Jika sudah, apakah kita menyertai dengan doa? Sudahkah kita yakin kepada Allah, bahwa Dia tidak akan pernah ingkar akan janji-Nya?

Jika doa kita belum dikabulkan, apakah kita menyadari bahwa bisa jadi Allah sebenarnya akan lebih menguji akan keimanan kita kepada-Nya? Apakah kita sadar bahwa bisa jadi Allah telah memberikan yang lain dan itu menjadi yang terbaik bagi kita? Dan apakah kita sadar, bisa jadi doa kita belum dikabulkan karena masih banyak maksiat yang dilakukan?

Semoga, kita termasuk orang yang senantiasa membersihkan diri kita sehingga bisa semakin dekat dengan-Nya.

Read Full Post »

Tuntaskan langkah-langkah kecil. Inilah yang menjadi target saya saat ini. Ketika saya telah memiliki mimpi atau cita-cita, maka selanjutnya adalah memulai dengan langkah yang pertama. Saya harus siap untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menuju ke sana. Langkah keseribu selalu dimulai dengan langkah pertama. Langkah besar selalui beranjak dari langkah kecil. Kesuksesan besar merupakan akumulasi dari kesuksesan kecil.

Saya harus bersabar dalam menempuh perjalanan ini. Yang diperlukan adalah ketekunan serta kedisiplinan. Cita-cita itu adalah perjalanan yang membutuhkan perjuangan dan perngorbanan. Saya harus siap mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, dan uang untuk bisa bergerak maju menuju ke titik cita-cita itu.

Tapi benarkah saya telah memiliki cita-cita itu? Ada berapa cita-cita saya? Adakah yang dijadikan prioritas? Atau bisakah keduanya dilakukan secara bersamaan? Saya tidak terlalu memikirkan cita-cita mana yang akan tercapai duluan, tetapi saya berpikir bagaimana setiap tindakan saya saat ini adalah yang dibutuhkan untuk menuju ke sana. Setiap pekerjaan, harus dapat saya tuntaskan. Setiap tugas atau tanggung jawab harus dapat saya tunaikan. Sekecil apapun itu, selama itu mengarah kepada tujuan saya itu, maka harus saya lakukan dan selesaikan.

Keberhasilan kecil tadi, saya harapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri saya. Juga akan semakin menumbuhkan keberanian dalam diri saya untuk terus melangkah dan bergerak maju, bahkan untuk semakin berlari kencang, meraih impian saya itu.

Semua itu butuh komitmen tingkat tinggi. Saya akui ini. Tidak akan mudah untuk menjalankan apa yang telah saya rencanakan ini. Tulisan ini pun merupakan bagian dari rencana saya. Dan untuk mengaplikasikan tulisan ini pun perlu kemauan dan tekad baja. Sesaat setelah saya merencanakan, sesaat setelah saya menulis target dan rencana saya, maka pada saat itu saya harus segera take action. Jangan menunda. Saya tidak boleh malas.

Tapi saya sadar semua itu tidak dapat diforsir secara terus menerus. Harus ada refreshing bagi diri saya. Apa itu? Saya melakukan hobi saya. Saya menikmati kesukaan saya. Apa hobi saya? Membaca, menulis, dan bermain atau nonton bola. Ini semua yang akan kembali menyemangati saya. Kembali menetralisir jika ada ketegangan dalam berproses menuju ke sana.

Dan, satu hal lagi yang paling penting, yaitu kedekatan kepada-Nya. Tentu, ini adalah kekuatan terbesar dalam kehidupan ini. Jika saya percaya akan kekuatan-Nya, dan saya memohon untuk juga diberikan kekuatan-Nya, maka insya Allah saya akan lebih termotivasi kembali dan menikmati setiap gerak-gerik saya. Kekuatan spiritualitas harus tetap menyertai kemanapun saya berada. Bahkan saat saya sedang melakukan hobi pun, pemaknaan spiritualitas perlu ditumbuhi.

Sehingga semuanya akan semakin bermakna. Semua akan berjalan dengan kenikmatan, bagaimanapun kondisinya. Tekanan sperti apapun serta kondisi yang membuat diri saya semakin terhimpit, dapat diatasi dengan tetap percaya kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yakin kepada pertolongan-Nya, dan selalu percaya bahwa Allah Yang memberikan segala kenikmatan itu, insya Allah tidak membuat saya gelisan dan khawatir. Karena Allah selalu bersama dalam setiap kehidupan saya.

Read Full Post »

Ihsan adalah puncak dari iman dan islam. Inilah kesimpulan dalam khutbah jumat yang disampaikan oleh KH. Miftah Faridl di Masjid Salman ITB, hari Jumat, 2 April 2010.

Dalam dialog antara Nabi Muhammad Saw dengan malaikat Jibril yang menampakkan dirinya sebagai seorang pria dengan pakaian serba putih, tersebut tiga hal yang menjadi inti ajaran dari agama Islam, yaitu tentang rukun iman yang enam, rukun islam yang lima, dan ihsan.

Kita sudah cukup mendengar tentang rukun islam dan iman, akan tetapi jarang mendengar tentang ihsan. Dan pada khutbah kali ini, KH Miftah Faridl membahas apa itu Ihsan.

Ihsan bermakna dua hal. Pertama, kita beribadah seolah-olah kita bisa melihat Allah. Ibadah yang kita lakukan tidak hanya sekedar suatu rutinitas harian tanpa ada pemaknaan di dalamnya. Saat kita melakukan shalat, kita merasakan bahwa kita bisa melihat-Nya dan merasa begitu dekat dengan-Nya. Dan kedekatan ini bisa dicapai melalui cinta kepada-Nya. Inilah Ihsan.

Dalam pemaknaan ini, kita menyadari bahwa seluruh ibadah yang dilakukan merupakan suatu panggilan dari-Nya, dan kita menyambutnya dengan suasan hati yang gembira. Kita pun memahami dengan ibadah kepada-Nya, akan menjadi syifa (obat) bagi diri kita. Ibadah menjadi obat dari kegelisahan, kegalauan, kesedihan, ataupun penderitaan yang kita alami selama ini. Ibadah akan membuat hati kita tenang, karena kita yakin bahwa ibadah itu adalah perwujudan dari mengingat Allah. “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”- Ar-Ra’du, 13:28

Seperti dalam doa iftitah dalam shalat kita, “Inna shalati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati, lillahi rabbil ‘alamin.” (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk-Mu, Tuhan semesta alam.) Inilah bukti kecintaan diri kita kepada Allah. Seluruh Ibadah kita, diperuntukkan hanya untuk-Nya. Inilah makna pertama dari ihsan.

Makna kedua, bahwa ihsan itu berarti kita merasa dalam kehidupan ini ada yang selalu mengawasi diri kita setiap detiknya. Setiap gerak-gerik kita, apa yang kita lakukan, di manapun, kapanpun, selalu ada yang melihat, yaitu Allah yang Maha Melihat, Al-Bashir. Ada Allah Yang Mahateliti, Al-Latief dan Allah Yang Mahahalus, Al-khabir. Allah selalu mengetahui apa yang kita tampakkan dan yang kita sembunyikan. Dan Allah Maha Mendengar, Sami’. Allah mendengar setiap ucapan kita maupun yang ada dalam hati kita.

Kesadaran inilah yang menjadi penghalang diri kita untuk melakukan yang tidak disukai-Nya. Kita akan merasa tidak sampai hati untuk berbuat maksiat dihadapan-Nya. Kita memiliki rasa malu dalam diri kita. Kita malu kepada Zat Yang Mahaagung. Kita malu untuk berbuat maksiat kepada-Nya. Kita malu karena kita percaya dan yakin Allah selalu mengawasi kita, walaupun orang lain tidak tahu.

Perasaan malu inilah yang sepertinya sudah mulai terkikis dalam diri manusia Indonesia. Mayoritas penduduk di Indonesia adalah muslim. Jemaah haji setiap tahunnya adalah yang terbanyak dari seluruh negara yang mengirim jemaah hajinya. Akan tetapi keadaan saat ini, bangsa ini masih belum merasakan efek dari keislamannya ini. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Mungkin budaya malu dalam berbuat keburukan atau kejahatan sudah mulai hilang dalam diri kita.

Tidak lagi kita merasa malu saat berlaku tidak jujur. Kita tidak malu lagi saat kita mengambil uang yang bukan milik kita. Imam Ghazali dalam kitabnya, “Ihya Ulumuddin”, mengisahkan sebuah cerita klasik yang menggambarkan seperti apa budaya malu itu. Cerita ini begitu indah maknanya.

Suatu hari khalifah Umar bin Khaththab, bepergian dan bertemu dengan seorang penggembala kambing yang miskin, buta, dan tidak memiliki pendidikan yang cukup.  Penggembala kambing ini bertugas menjaga kambing-kambing yang jumlahnya sangat banyak milik majikannya. Pada saat itu Umar ingin membeli salah satu dari kambingnya dan berkata, “Aku akan membeli kambing ini”. Akan tetapi penggembala kambing ini tidak mau menjualnya karena kambing-kambing ini bukan miliknya dan tidak berhak untuk menjualnya tanpa seizin majikannya. Lalu Umar berkata, “Bukankah majikannmu tidak tahu, jika kamu menjual satu dari begitu banyak kambing ini.”

Seketika sang penggembala kambing mengucapkan sesuatu yang menggetarkan hati Umar, “Lalu dimanakah Allah?” Kalimat ini membuat Umar langsung tersungkur sujud, bersyukur kepada Allah. Umat menangis, lalu berkata, “Ya Allah, walaupun rakyatku miskin, rakyatku tidak berpendidikan, tetapi rakyatku  jujur seperti dia.”

Subhanallah. Seorang yang buta, miskin, dan tidak berpendidikan, berperilaku begitu mulia dengan kejujurannya dan menyadari akan adanya pengawasan Allah terhadap seluruh tindakannya. Mungkin dia tahu bahwa majikannya tidak mengetahui, jika kambingnya dijual satu dari seluruh kambingnya. Bisa saja dia mengatakan ke majikannya bahwa kambingnya telah mati satu dan majikannya percaya. Bisa saja dia bisa menikmati uang yang didapat dari penjualannya itu dengan alasan yang dibuatnya.

Tetapi,,, dia tidak seperti itu. Dia tahu mana yang harus dikedepankan. Apakah uang semata ataukah nilai kejujuran? Dia tahu ada yang selalu melihat dalam setiap tindakannya, sehingga dia lebih memilih untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah daripada hanya mendapat uang dari Umar.

Bagaimana dengan negara kita, Indonesia? Dengan kasus yang kita dengar dalam berita di televisi, radio, atau media cetak, apakah kita sudah mengedepankan nilai kejujuran itu dan memiliki rasa malu kepada Sang Pencipta ?

Read Full Post »