Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘buang sampah’

Naik angkot Panghegar-Dipatiukur memang memiliki pengalaman tersendiri.

Suatu siang naiklah seorang perempuan remaja di  perempatan BIP. Saat itu saya sedang sendirian di angkot dan seperti biasa duduk di pojok

jangan buang sampah di angkot

 belakang bagian kanan. Perempuan tadi duduk persis di belakang Pak Sopir dan terlihatlah sebuah komik “Detektif Conan” sedang ia pegang. Sepertinya baru ia beli karena masih terbungkus rapi. Lalu ia membuka plastiknya dan segera membacanya.

Tapi ternyata yang menjadi perhatian saya bukan tentang isi komik itu, bukan tentang bagaimana si Conan bisa membongkar kasus-kasus kelas dunia, tetapi mata saya tertuju pada plastik bungkus komik itu. Perempuan itu membuang sembarangan plastiknya di angkot itu. Dia melakukannya seakan telah biasa.

Saat itu, saya merasa gundah, seperti ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk hati saya. Ini sesuatu yang tidak benar. Saya ingin menegurnya, tapi saya belum berani. Saya takut respon dia yang mungkin bisa saja memarahi saya. Mungkin berlebihan juga, tapi saya sudah terlanjur takut. Padahal ini mungkin kesempatan emas saya untuk mengingatkannya. Selama kurang lebih 5 menit saya memikirkannya.

Lalu saya teringat cerita ibu saya yang pernah menegur seorang pemuda yang membuang sampah sembarangan dari mobilnya persis di sebelah mobil ibu saya. Dan ibu saya berani menegur dan pemuda tadi kembali memungut sampah yang telah sempat dibuangnya itu. Saat itu saya kembali sadar dan mencoba mengumpulkan keberanian. Sedikit menarik nafas..

Lalu saya mengambil keputusan untuk mau menegurnya, padahal dia sudah buang sampah beberapa waktu yang lalu. Takutnya juga dia sudah lupa kalau dia pernah buang sembarangan. Saya segera memantapkan hati bahwa saya akan menegurnya, siapapun yang turun duluan. Jika dia duluan, maka sebelum dia turun saya akan menegurnya. Kalau saya duluan, sebelum turun,  saya juga yang akan menegurnya.

Ternyata dia hendak turun di TBI di jalan Riau. Deg-degan. Ya, tiba-tiba perasaan takut kembali muncul. Tapi tetap saya redam. “Kiri Pak!”, akhirnya dia turun. Saya sedikit mendekat. Persis sebelum dia turun, “Mba!” sekali lagi,”Mba!”. Dia menengok ke arah saya, karena dia pikir tidak ada lagi perempuan di angkot selain dirinya. Tanpa basa-basi, “Mba, sampahnya bisa tolong diambil! Jangan buang sembarangan ya!”

Segera dengan senyum yang agak dipaksakan, dia mengambil plastik tadi dan membawanya. “Makasih ya Mba”, segera saya berterimakasih atas kesediannya.

Perasaan lega tiba-tiba menghampiri saya.

Dua hari kemudian, hari senin, setelah saya ujian Pendidikan Anti Korupsi. Saya menaiki angkot Panghegar lagi. Lagi-lagi saya duduk di pojok belakang kanan. Kali ini telah ada tiga penumpang bersama saya. Tiba-tiba naik seorang anak SMA. Perempuan. Ya, perempuan. Dengan bungkusan gorengan beserta air mineral gelas berada ditangannya, dia duduk di pojok belakang juga yang berarti persis di depan saya.

Terlihat dia menyantap gorengannya. Kemudian karena haus dia segera membuka plastik sedotan dan segera minimum air mineral itu. Lagi-lagi yang menjadi perhatian saya bukan bagaimana ia minum dan berapa banyak yang diminum, tetapi dia membuang sampah plastik kecil itu ke bawah jok. Ya,sangat kecil, hanya sebuah plastik sedotan.

Persis di depan saya. Langsung perasaan saya ga enak lagi. Tapi tanpa berpikir panjang seperti waktu itu, karena sudah latihan dua hari sebelumnya, sekitar satu menit kemudian, saya menegurnya. Kali ini karena jelas memakai seragam SMA, maka saya memanggilnya dengan Dik. “Dik, sampahnya jangan dibuang sembarangan ya”. Segera ia mengambil plastik kecil tadi dan mengantunginya di saku seragamnya. Tentu saya kembali berterimakasih, “Makasih ya Dik.”

Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, yang jelas dia tetap memakan gorengannya. Kemudian karena mungkin telah habis gorengannya dan tinggal bungkusnya,  dia segera memasukkan bungkusnya ke dalam tas-nya. Alhamdulillah, dalam hati saya. Ia tidak membuang sembarangan lagi. Begitu juga dengan gelas air mineral dan tisunya, dia pegang dulu walaupun telah habis.

Hingga kemudian, “Kiri-kiri!”. Perempuan itu turun di jalan Riau depan salah satu FO yang cukup besar itu. Sebelum dia turun. “Makasih ya.” ia tersenyum. Saya pun tersenyum,” Makasih juga ya!”. Hal ini sudah tentu cukup mengejutkan saya.

Dua perempuan dalam rentang dua hari, turun di jalan yang sama, dengan jurusan angkot yang sama, dan kejadian yang sama, membuat saya tersenyum sekaligus bahagia. Kejadian ini benar-benar menguji idealis saya. Apakah saya punya keberanian untuk mengajak orang menjaga kebersihan bersama-sama. Saya bahagia karena saya punya kepedulian dan keberanian itu. Terlebih ternyata hasilnya pun , Alhamdulillah positif.

Read Full Post »