Beberapa hari yang lalu, Alhamdulillah saya sempat merasakan daratan Eropa. Salah satunya adalah kota Amsterdam, sebuah kota yang berada di negeri Belanda sekaligus yang bertindak sebagai ibukotanya. Saya sangat terkesan dengan kota Amsterdam ini yang mungkin juga mewakili keseluruhan negeri belanda.
Apa yang membuat saya terkesan ?
Yang membuat saya terkesan adalah bahwa Amsterdan merupakan kota yang berbasiskan lingkungan. Amsterdam sangat bersih kotanya. Mudah untuk menemukan tempat sampah di jalanan. Tidak ada tumpukan sampah yang mungkin dapat kita lihat di beberapa sudut jalanan di Indonesia.
Kota Amsterdam sangat asri karena cukup banyak pohon dan taman. Mungkin karena terletak di atas garis khatulistiwa, suasana Amsterdam terasa sangat sejuk. Saat saya bersama keluarga berada di sana, musimnya akan segera memasuki winter season. Artinya musim dingin sebentar lagi tiba, kira-kira 31 Okotber. Jadi, suasana dingin sudah mulai terasa dan beberapa kali hujan yang ringan disertai angin dingin turun di Amsterdam.
Satu hal lagi yang paling membuat saya terkesan yang juga berkait dengan lingkungan adalah bahwa penduduk Amsterdam banyak yang menggunakan sepeda dalam bepergian. Hampir di seluruh jalanan di Amsterdam dapat saya lihat sepeda yang diparkir di tempat-tempat yang telah disediakan khusus untuk sepeda, ataupun di pinggiran jalan di depan toko-toko. Baik orang muda maupun tua, mereka menggunakan sepeda. Baik itu laki-laki maupun perempuan.
Mereka dapat bersepeda dengan nyaman, karena untuk sepeda ada jalurnya sendiri. Lajurnya pun ada dua untuk masing-masing arah sesuai dengan jalan untuk kendaraan. Karena ada jalurnya, maka rambu-rambu dan lampu merahnya pun juga ada. Jadi sepeda merupakan bagian yang cukup penting dari system transportasi di kota Amsterdam ini.

jalur sepeda
Seperti gambar ini, jalur merah ini merupakan jalur untuk sepeda. Terkadang, karena belum terbiasa, saya diklakson oleh sepeda-sepeda yang akan melintas dari belakang saya. Tapi bunyi klaksonnya tidak seperti mobil. Bunyinya itu “krinting-krinting”. Bahkan karena tidak memperhatikan saat menyebrang, saya dan kaka saya hampir-hampir saja ”dihampiri” oleh sepeda yang melintas dengan cukup cepat.
Lebar jalur ini kira-kira 1,5 m, berada di sebelah trotoar untuk pejalan kaki. Sedangkan untuk mobil, kebanyakan hanya disediakan satu lajur mobil untuk masing-masing arah. Belum lagi, jalur mobil itu harus berbagi dengan moda transportasi lainnya, yaitu tram. Tram merupakan sejenis kereta yang hanya berjumlah sekitar tiga gerbong yang melintas di tengah-tengah jalan. Tram juga merupakan salah satu moda transportasi favorit bagi orang belanda, karena dapat menjangkau berbagai daerah di Amsterdam. Rel-relnya berada di jalur mobil. Jadi terkadang mobil berjalan di belakang tram yang juga sedang beroperasi.
Dengan demikian, orang akan mudah, nyaman, serta cukup aman untuk bepergian dengan sepeda. Baik itu untuk ke sekolah maupun untuk pergi kerja. Benar-benar dapat menghemat ongkos transportasi dan bebas dari polusi udara. Hal ini juga yang menyebabkan udara di Amsterdam sangat sejuk.
Saya juga baru mengetahui kalau ternyata Amsterdam adalah ibukota terkecil yang ada di Eropa. Memang dari peta kota Amsterdam yang saya peroleh, sepertinya tidak terlalu luas. Kita akan mudah untuk menjangkau ke tempat-tempat yang ada di Amsterdam ini. Jarang terjadi macet di sana. Pernah kami sedikit terkena macet, tapi itu pun sambil jalan dan memang karena lajurnya hanya dua, tidak benar-benar berhenti.
Tata kotanya pun cukup teratur dengan memusat ke tengah dan diapit oleh sungai-sungai. Kota Amsterdam memang termasuk kota tua, karena bangunannya adalah bangunan-bangunan tua. Sedangkan jika kita kita ingin melihat kota modern, kita harus pergi ke Rotterdam. Nah, disana kita dapat melihat gedung-gedung yang memang sesuai dengan zaman sekarang ini.
Saya jadi membayangkan kapan ya Bandung bisa mempunyai jalur untuk sepeda ? Kalau sekarang mungkin yang harus diperhatikan adalah jalur untuk motor, karena motor di Bandung sudah sangat banyak, bahkan kalau boleh saya bilang, sudah over loaded. Wah, kalau di Amsterdam, paling saya hanya melihat satu sampai dua motor saja yang melintas. Kalau di Bandung, hampir setiap saat dan setiap arah di jalanan, kita dapat menemukan motor.
Saya tidak ingin menyalahkan para pengendara motor, tetapi bagaimana ya agar transportasi di Bandung ini bisa lebih tertata rapi dan teratur, sehingga macet dapat dihindari dan polusi dapat dikurangi. Gimana ya ?
Wah, ini menjadi PR kita bersama, terutama bagi para ahli transport dan pemerintah nih untuk menemukan sebuah system ataupun kebijakan yang benar-benar efektif dan efisien untuk memperbaiki system transportasi di kota Bandung yang juga disebut sebagai kota kembang.
Kalau Bandung itu kota kembang, seharusnya bandung ini terasa asri ya, tapi apakah sekarang kita masih bisa merasakan keasriannya di seluruh kota Bandung ?


Kapan ke amsterdam ma?
negeri orang cepet berkembang ya, seneng kalo di Indonesia kebanyakan orang pergi beraktivitas pake sepeda, bisa saling berinteraksi..
yuma, saya link blog mu ya . . ;)
tertarik ngomen, karena sekarang sedang berusaha kembali bike to campus, hehehe.
Sepakat kalo Bandung udah overloaded dengan kendaraan,,tapi kalo solusinya pelebaran jalan, atau penambahan jalur baru, rasanya susah..
Karena lahan di bandung terbatas, dan akan makan waktu lama untuk urusan tetek bengek pembebasan lahan. Belum lagi, kebanyakan lahan di pinggir jalan sekarang kan jalur hijau, mau dibabat lagi ?
Saya rasa sih ada dua pendekatan yang bisa dilakukan, pendekatan input dengan pembatasan usia kendaraan melalui uji emisi, atau pembuatan mass rapid transportation
serta pendekatan output dengan kebijakan tata ruang yang memprioritaskan jalur hijau atau kebijakan car free day di hari-hari tertentu.
Tapi, rasanya agak susah kebijakan bersepeda ini populer, secara bandung kan gunung gitu ;) Kosan cisitu ke kampus aja kayaknya udah pada males, hehehe.
Tinggal pinter-pinternya sosialisasi aja gimana, pleus keteladanan dari pemerintahnya, juga aparat terkait.
Jadi, saya kira harus paralel antara kesiapan infrastrukturnya dengan kebijakan yang dikeluarkan. Jangan cuma jadi macan ompong.
Dan tentu, perubahan itu dimulai dari kita yang muda-muda ;)
wah, inspiratif yum tentang transportasinya.. hmm.. sempet kepikir juga tentang pembuatan jalur khusus itu, disamping untuk ketertiban, juga untuk menghindari kecelakaan.. tapi kalo kita lihat dari kuantitas, udah terlalu berlebihan walaupun disediakan jalur khusus..
setuju sama isu penggalakkan transportasi umum.. itu solusi yang terbilang cukup aman, mudah, dan murah.. cuma terkendala sama kebijakan.. yang paling jadi masalah adalah gimana caranya meyakinkan si pembuat kebijakan bahwa menciptakan sistem transportasi yang aman, nyaman, efisien adalah lebih penting dibandingkan mencari keuntungan dari transportasi itu sendiri..