Kapan terakhir Anda menggunakan delman sebagai moda transportasi ? menggunakan transportasi bukan untuk
rekreasi ? Wah,,emang masih ada ya di jaman modern seperti ini ? Di kota Bandung yang padat ini, masih ada gitu ?
Ternyata masih ada, teman-teman. Saya baru saja menggunakannya kemarin selasa (2 Juni 2009). Bukan untuk berekreasi dengan keluarga, ataupun mutar2 di jalan ganesha, tetapi sebagai alat transportasi. Moda ini masih ada di daerah Gunung Batu.. Jelas ini masih di kota Bandung.
Kemarin saya harus ke poltekkes di Gunung Batu untuk mengisi pelatihan Auto Cad di sana. Untuk sampai ke depan kampus itu, harus menggunakan ojeg atau delman. Angkot tidak sampai ke daerah sana. Pada perginya saya menggunakan ojeg, karena khawatir terlambat waktu di sana. Saya harus ada di tempat pukul 16.00. Apalagi saya belum pernah ke sana sebelumnya, jadi saya ga mau untuk mengambil resiko. Dengan ojeg saya harus membayar Rp. 4000. Menurut saya, ya wajar, krn cukup jauh juga.
Ketika di sana, saya diberi tahu, klo menggunakan delman, Cuma bayar Rp. 1000 !!!. Wah, murah banget pikir saya. Lalu saya berjanji, ketika pulangnya saya harus menggunakan delman. Selain hemat, saya juga sudah lama tidak memakai delman. Tidak ingat kapan terakhir saya menggunakannya. Jadi, kenapa ga dicoba saja…
Saat jam 18.30, selepas maghrib, saya balik dari kampus itu. Lalu menunggu sebentar dan akhirnya ada delman yang lewat. Lalu tanpa ragu saya menaikinya. Wah, agak sempit..Sepertinya satu delman hanya muat untuk 4 orang dewasa, termasuk kusirnya. Di delman itu saya bertiga, udah sama kusirnya. Duduk saya harus dimiringin, ga kayak di angkot lurus juga bisa. Belum lagi tas saya yang agak besar, membuat duduknya harus benar-benar disesuaikan..
Selama di jalan, koq saya agak kasihan dengan kudanya ya. Berjuang menyusuri jalan yang berlobang-lobang, menerima pecutan dari kusir, terus berlari, kadang juga harus menanjak.. Saya merasa jadi ga tega.. Beban yang cukup besar, harus diangkut oleh seekor kuda..
Tapi, mungkin memang sunnatullahnya seperti itu.. Terkadang saya mungkin terlalu kasihan kali ya…
Sekitar 10 menit saya naik delman.. Penumpang lain membayarnya 1000 rupiah.. Dalam hati saya, koq agak kurang pas klo 1000 rupiah, padahal kan cukup jauh juga. Apa karena ga pake bbm, jadinya murah ? Apa karena rumput, bisa didapat gratis ? Tapi saya merasa tidak sepadan. Akhirnya saya membayar 2000 rupiah. Mudah2 cukup adil, untuk kebutuhan Kusir tersebut.
Walaupun harus sempit-sempitan, saya cukup menikmati berada di atas delman itu. Benar-benar merakyat. Hembusan angin yang menerpa wajah, goncangan akibat jalanan yang berlubang, bunyi “sepatu” kuda, itu semua memadukan menjadi suatu bentuk keindahan tersendiri. Sudah lama tidak merasakan naik delman seperti ini. Seperti di desa yang sunyi, memandang pemandangan nan indah. Memang saat itu telah malam, tapi tetap saja saya merasakan sesuatu yang lain.
Sempat terlintas dalam pikiran saya, sepertinya malu-maluin naek delman seperti ini. Tapi kenapa harus malu ?


naek delman sebagai sarana transportasi??
wah masih ada yah di bandung??
saya pikir delman sekarang cuma sebagai sarana rekreasi aja..
:)