Perasaan ingin dihargai, perasaan ingin diakui oleh orang lain, dan perasaan bahwa kita telah melakukan sesuatu bagi orang lain adalah suatu perasaan yang mungkin pernah dirasakan oleh setiap manusia, termasuk diri saya ini.
Manusia, pada dasarnya memiliki egonya masing-masing yang menginginkan dirinya diakui oleh lingkungannya, termasuk saya. Segala usaha yang telah kita lakukan, rasanya ingin ada orang yang menghargainya. Segala pengorbanan yang telah kita keluarkan, rasanya ingin ada seseorang yang membicarakannya.
Tapi, untuk apa semua itu kawan ?
Setelah kita mendapatkannya itu semua, apa yang akan kita lakukan ? merasa senangkah ? merasa banggakah ? merasa diri ini melayang-layang ? Apakah dengan itu semua membuat kita semakin ingin diakui terus menerus ?
Rasanya tidak kawan. Saya seharusnya berpikir kembali, bahwa apa yang didapat pada diri saya ini, apa yang saya peroleh selama ini, segala kesuksesan, segala kebaikan, adalah dari Allah. Adalah nikmat yang Allah berikan kepada saya. Adalah anugrah yang sudah sepatutnya saya mensyukurinya. Bukan seolah-seolah itu milik saya. Bukan seolah-seolah hasil yang diperoleh itu hanya merupakan jeri payah diri saya. Tetapi ada yang memberinya. Allah lah, Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia lah yang memberikannya kepada saya.
Sehingga, segala apresiasi ataupun pujian yang diberikan, sudah sepantasnya kita kembalikan kepada Yang Maha Terpuji, kepada Yang Maha Agung, kepada Sang Khaliq, yaitu Allah SWT. Seringkanlah diri ini untuk melantunkan bacaan hamdalah :
“ Alhamdulillaahi Rabbil Aa’lamiin ”
(segala puji baga Allah, Tuhan semesta alam)
Tak hanya hamdalah, tetapi mohon ampunlah kepada-Nya. Karena sebetulnya segala pujian itu mungkin hanya sebatas penutup aib diri kita yang dilumuri oleh dosa. Oleh karenanya, marilah kita ucapkan selalu istighfar :
“Astagfirullahal adziim “
(Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung)
Tak usahlah diri saya ini memikirkan apa yang akan diberikan oleh orang lain, tak usahlah berharap sesuatu dari orang lain, tetapi pikirkanlah apa yang bisa saya berikan bagi orang lain, dan yang terpenting adalah saya harus membuat hari-hari saya penuh dengan makna, menjalaninya dengan ikhlas kepada-Nya serta, mengisinya dengan memberikan cinta kepada sesama.
“ Karena cinta adalah saat kita dapat memberikan kebaikan, kebahagiaan, dan senyuman dengan tulus kepada orang lain.”


wah, susah nih yum. kadang saya ngerasa saya melakukan sesuatu agar saya diapresiasi sama orang. suatu bentuk ketidakikhlsan bukan ya?
saya jadi mikir, gimana mekanisme Tuhan dalam mencatat amalan kita. rentan banget gak sih? bisa aja kan kita berbuat baik, pas udahnya, ternyata sia-sia gitu aja karena kita terlanjur terbelenggu ama perasaan ingin di apresiasi,
ingin diapresiasi = ikhlas?
Subhanallah.. emang yum, keikhlasan yang bakal nentuin catatan amal kita kelak.. tetep ikhlas ya, ma!!
kunjungi blog urang nya!!