Perjalanan saya dari rumah ke kampus ITB, dapat ditempuh hanya dengan satu angkot, pakai angkot yang warna pink. Saya lupa apa nama jurusannya, klo ga salah simpang dago-bumi panyileukan. Rutenya dari Sukamiskin-Cicaheum-Suci-Pasar suci-Gasibu-Dago. Ongkosnya sekitar 3000-3500 sekali jalan, ditempuh sekitar 30-40 menit klo tidak banyak ngetem. Biasanya saya pun pakai angkot itu klo ke kampus..
Akan tetapi jumat ini saya tidak menggunakan angkot pink, tapi angkot putih kuning yang nama jurusannya Panghegar-Dipatiukur. Warna-warna angkot yg saya sebutkan tadi tidak ada hubungannya dengan partai politik..hehe. Kenapa saya pakai angkot putih-kuning?
Di sekitar masjid pusdai klo hari jumat tuh biasanya ada pasar jumat yang bisa membuat macet jalan menuju ke pusdai itu. Gara-gara itu, saya jadinya make angkot yang rutenya agak muter dulu. Memang cukup sekali saja dari Cicaheum-ahmad yani-sukabumi-riau-masjid istiqamah-belakang gedung sate-diponegoro-taman sari-sampai ke jalan ganesha. Lumayan agak jauh dan lebih lama. Tapi klo jumat, akan lebih cepat jika pake angkot putih-kuning, sekitar 45 menit.
Tapi jumat ini, ada yang beda. Saya naik angkot putih-kuning ini 3 kali. Saya ganti dua kali angkot ini di jalan jakarta, dan deket masjid istiqamah. Padahal angkotnya sama. Pada pergantian yang pertama, saya diturunkan oleh sopir angkotnya karena tidak ada penumpang lagi kecuali saya. Saya pun membayar Rp 2000. Sepertinya dia mau langsung muter kembali ke ahmad yani dan tidak melanjutkan seperti rute sebenarnya.
Pas pergantian yang kedua, sopirnya kembali menurunkan saya dan satu penumpang lagi karena akan di-charter oleh anak-anak SMP yang butuh dua angkot ke Cimbeuluit (terdengar dari percakapan sopir dan anak2 SMP itu). Akhirnya saya harus rela turun untuk mengalah kepada anak-anak SMP itu. Tapi yang menarik saya tidak perlu bayar alias gratis. Terima kasih Pak sopir ya…
Akhirnya saya naik angkot putih-kuning untuk yang ketiga kalinya. Alhamdulillah untungnya saya tidak diturunkan lagi di suatu tempat lagi sampai akhirnya saya samapi di kampus.
Apa yang menarik dari pergantian angkot tadi ?
Saya melihat para sopir angkot itu telah memikirkan peluang untuk mendapatkan pendapatan lebih dengan tidak harus selalu patuh dengan rute dari ujung ke ujung.
Pada pergantian pertama, sopir tadi telah memilih untuk memutar balik angkotnya daripada harus melanjutkannya. Dengan kembali ke daerah Cicaheum, dia akan bisa mendapatkan penumpang lebih banyak ketimbang lewat jalan Riau. Karena memang masih cukup pagi saat itu sekitar jam 8.30. Jam segitu masih cukup banyak orang yang belanja ke pasar baik di Cicaheum maupun di ahmad yani.
Beda lagi pada pergantian yang kedua, dia melihat peluang emas bahwa mobilnya di-charter. Jelas ini sangat menguntungkan dan akan sangat rugi jika peluang ini dibuang percuma. Saya sempat mendengar sopir ini menawar Rp 75000 sampai ke Cimbuleuit. Jika dibagi 14 orang, berarti sekitar Rp5300-an per orang. Waw…bagi saya agak cukup mahal dari Masjid Istiqamah ke Cimbuleuit seharga itu. Tapi saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
Saya melihat dari dua pergantian tadi, para sopir angkot benar-benar berusaha untuk mendapatkan pemasukan yang banyak dan mencari strategi bagaimana pengeluaran untuk bensi dapat benar-benar dimanfaatkan untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya. Hal ini juga menandakan bahwa sebetulnya pemasukan mereka pas-pas an per harinya untuk membayar bensin dan setoran per harinya.
Oleh karena itu insya Allah saya rela jika jumat itu saya diturunkan dua kali. Saya menganggapnya sebuah hal yang wajar. Hal ini seharusnya juga dapat mengetuk hati saya bahwa saya harus berusaha mengerti keadaan mereka. Para sopir angkot harus terus berjuang untuk mendapat pemasukan. Memang agak membuat kita kesel dan menjadi tidak sabaran klo angkot yang kita naikin ini ngetem.
Ya,memang seperti itu keadannya. Saya harus dapat lebih mengerti dan bersabar..

