Akhlak. Suatu kata yang sangat luar biasa. Kata yang dapat mencerminkan kepribadian diri kita. Suatu kata yang dapat menjelaskan bagaimana perilaku sehari-hari kita. Kumpulan 5 huruf yang dapat menggambarkan karakteristik diri kita. Seperti apakah kita ini ? Bagaimana kita bersikap terhadap sesuatu ? Bagaimana kita berperilaku dengan teman-teman kita baik sesama muslim maupun dengan teman yang lain ?
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali-Imran : 133-134)
Apa itu akhlak ? Seperti apa akhlak itu ? Akhlak itu dapat diartikan sebagai suatu sikap atau perilaku seseorang dalam menjalani kehidupan ini. Artinya, bagaimana kita bersikap terhadap apa pun, bagaimana kita berperilaku dalam keseharian kita. Sikap apa yang kita tunjukkan kepada teman-teman kita ?
Kita pasti mengharapkan bisa memiliki akhlak yang baik. Kita juga yakin bahwa semua orang ingin punya akhlak yang baik. Ga ada di dunia ini orang yang ingin jadi orang jahat karena pada dasarnya manusia itu ingin berbuat baik. Kalau pun ia jadi orang jahat, itu pun karena dia tidak dapat menahan nafsunya, tidak dapat membentengi dari godaan syaitan..
Apa aja yang termasuk akhlak yang baik itu? Seperti apa seharusnya akhlak seorang muslim itu ? Apakah kita telah memiliki akhlak yang diridhai oleh Allah ? Banyak sekali jika ingin disebutkan akhlak seorang muslim itu. Menepati janji, jujur, berlaku adil, tidak sombong, memaafkan kesalahan orang lain, tidak saling menghina, tidak mengejek, tidak menggunjing, murah senyum, ramah, rendah hati, saling menasehati, saling menolong, lemah lembut, mengucapkan salam, mendoakan saat temannya bersin, menjenguknya saat sakit, dll.
Selain itu ada tiga lagi akhlak kepada sesama muslim yang perlu dilakukan dengan sebaik-baiknya juga, yaitu menjaga rahasia, menutup aib orang lain, serta menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.
Pertama, Bagaimana kita harus bisa menjaga rahasia saudara kita. Bagaimana rasanya jika rahasia kita, dibocorkan oleh teman kita yang mengetahui rahasia itu? Pasti kita merasa sangat ga enak. Oleh karena itu, jagalah rahasia teman kita dengan baik. Penuhilan janji kita untuk menjaga rahasia saudara kita.
“ Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya “. (Al-Isra,17:34)
Kedua, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Rasulullah pernah berkata, “Bukan golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan menyayangi yang muda dari kami “ (Hadits).
Ketiga, menjaga aib orang lain. Ada kisah yang luar biasa mengenai hal ini….
Suatu saat kondisi tempat Nabi Musa berada beserta kaumnya sangat tidak mendukung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari . Dapat dikatakan, musibah sedang menimpa Nabi Musa dan kaumnya. Musibah itu berupa kekeringan yang panjang. Musim kemarau yang berkepanjangan. Akan sangat berbahaya bila kekeringan ini terus terjadi. Kekeringan yang dapat menyebabkan orang-orang sangat sulit untuk mencari air walaupun hanya seteguk untuk minum.
Melihat keadaan seprti ini, Nabi Musa beserta kaumnya pergi ke suatu tempat. Mereka ingin memohon kepada Allah agar diberikan hujan di daerahnya itu. Lalu doa pun mereka panjatkan kepada Allah yang Maha Mendengar dan Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya yang sangat mengharapkan hujan bisa turun.
Setelah mereka berdoa, Allah berkata kepada Musa, “ Wahai Musa, sesungguhnya Aku tidak akan menurunkan hujan kepada kalian. Ketahuilah bahwa diantara kalian, ada orang yang telah berbuat dosa selama 40 tahun. Karena dosa itu pun Aku tidak menurunkan hujan kepada kalian. Orang itu harus keluar dari barisanmu jika ingin Aku turunkan hujan.”
Mendengar jawaban dari Allah, Nabi Musa lalu berkata kepada kaumnya dan menceritakan mengapa Allah belum memberikan hujan. Tidak seperti biasanya yang apabila Nabi Musa memanjatkan doa mengharapkan hujan, Allah akan segera menganugrahkan hujan kepada Nabi Musa dan kaumnya.
“Wahai kaumku, diantara kalian ada orang yang telah membuat Allah tidak menurunkan hujan kepada kita. Orang itu telah berbuat maksiat selama 40 tahun dan ia harus keluar dari barisan ini, agar Allah dapat memberikan karunia-Nya berupa hujan kepada kita semua.”
Lalu salah seorang diantara rombongan itu langsung melihat ke kanan dan ke kiri dengan rasa takut. Orang inilah yang berbuat dosa itu. Ia berharap ada orang lain yang keluar dari barisan ini, sehingga ia bisa selamat. Berharap ada orang lain yang juga telah melakukan maksiat selama 40 tahun. Akan tetapi tidak ada orang yang keluar dari rombongannya dan hal ini semakin membuat ia gentar. Perasaannya sangat bersalah. Ia akan merasa sangat malu jika ia keluar dari rombongan ini. Semua orang akan mengetahui kalau dia yang telah membuat Allah tidak menurunkan hujan. Karena dia, saudara-saudaranya mengalami kesulitan. Dosa selama 40 tahun yang ia perbuat akan diketahui oleh orang-orang dan tentu saja juga diketahui oleh Nabi Musa, sehingga ia akan merasa sangat terhina.
Akan tetapi, semua perasaannya, bayangan yang akan terjadi bila ia keluar dari rombongan, membuatnya sadar. Lalu, ia berdoa kepada Allah. Ia bertobat kepada yang Maha Kuasa, kepada yang Maha Penerima taubat. Dengan sungguh-sungguh ia melakukan taubatan nasuha.Dia menyesal dengan apa yang telah ia lakukan selama ini.
Lalu seketika juga, hujan turun. Allahu Akbar…..Allah memperlihatkan Kebesarannya.
Tentu saja ini mengagetkan Nabi Musa dan kaumnya.. Pada saat mereka menunggu siapa orang yang akan keluar dari rombongan ini, Allah dengan Keagungannya menurunkan hujan kepada mereka.
Lalu berkata Nabi Musa kepada Allah, “ Ya Allah, apa yang menyebabkan tiba-tiba Engkau menurunkan hujan padahal tidak ada orang yang keluar dari rombongan ini ?”
Allah menjawab “ Orang itu telah taubat, wahai Musa. Karena itu Aku menurunkan hujan kepada kalian.”
“ Siapa orang itu ya Allah ? Kami ingin mengetahuinya. Karena dia hujan tidak turun, dan karena ia pula akhirnya hujan turun? “, tanya Musa kepada Allah. Lalu Allah berkata kepada Musa, “ Wahai Musa, Aku telah menutup aibnya selama 40 tahun. Aku telah menutup segala maksiatnya selama ini. Tidak mungkin setelah 40 tahun itu, lalu hanya dengan satu hari ini setelah ia bertaubat, Aku bukakan aibnya.” ‘
Subhanallah… Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Allah saja memaafkan dan menutup aib hamba-Nya, masa kita rela membuka aib saudara kita dengan menceritakan kejelekannya.
“ Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? “ (Al-Hujurat,49 :12)
Saudaraku, dengan akhlak yang baik, hari-hari kita akan jauh lebih baik dan bermakna, kita akan merasa lebih menikmati hidup ini. Hidup kita akan sangat indah jika kita laluinya dengan akhlak yang mulia, sebagaimana akhlak yang di
Marilah kita tingkatkan kualitas hati kita. Karena hati inilah yang mendorong munculnya sikap kita. Saat hati kita bersih, maka akhlaknya pun akan baik. Oleh karena itu perbaikilah segala sikap kita yang kurang baik, dan sikapilah apa yang terjadi pada hari ini dengan sikap terbaik kita.

