“ Kredibilitas mahasiswa melalui SNMPTN lebih jelek daripada USM. Jadi kenapa harus dinaikkan. Sementara mereka yang lolos USM (Ujian Saringan Masuk), berarti mampu mencapai passing grade yang ditetapkan oleh ITB dan setiap tahun dinaikkan. Untuk menaikkan kuota USM, kita lihat nanti gimana. “ (Rektor ITB, Djoko Santoso, PR, “Pemerintah tak Batasi Mahasiswa Jalur Khusus”. Selasa, 10 Maret 2009)
Inilah pernyataan dari Bapak Rektor ITB saat ini mengenai seleksi mahasiswa baru. Saat saya membaca tulisan ini di koran, jujur saya sangat kecewa dengan ucapannya. Dengan mudahnya, Pak Djoko mengatakan kredibilitas mahasiswa yang masuk melalui SNMPTN atau dahulu disebut UMPTN atau SPMB ini, lebih jelek dari yang USM.
Pa Djoko melihat bahwa jika melalui SNMPTN, dari 20 kursi yang disediakan, maka 20 orang tertinggi nilainya yang masuk. Sedangkan pada USM, standar ditentukan oleh ITB. Jadi jika hanya 3 orang yang sesuai standar, maka hanya 3 orang itu yang akan diterima. Hal ini berbeda dengan SNMPTN. Apakah benar begitu ?
Menurut saya belum tentu. Berapa banyak yang ikut melalui SNMPTN ? Saya yakin pasti lebih banyak peminatnya dari pada yang USM. Anggaplah suatu jurusan menampung 100 orang dengan porsi, misalkan 50 SNMPTN dan 50 USM. 50 orang yang lulus melalui SNMPTN itu merupakan yang terbaik dari begitu banyak peminat di jurusan itu. Karena banyak, pasti 50 orang itu memilki nilai yang sangat tinggi pula. Jadi apa dasarnya kalau ikut SNMPTN itu kurang kredibel. Saya belum melihat dasar yang kuat yang diucapkan oleh Bapak Rektor kita.
Kembali ke pernyataan yang dimuat di koran “Pikiran Rakyat“ itu. Apa yang dimaksud dengan kredibilitasnya lebih jelek ?
Saya melihat arti kredibilitas di kamus dan saya menemukan disitu bahwa kredibilitas adalah suatu perihal dapat dipercaya. Artinya, dalam pandangan saya apa yang disampaikan oleh Pak Djoko, mahasiswa yang masuk melalui jalur “rakyat” ini kurang dapat dipercaya kualitasnya dibandingkan dengan yang masuk melalui jalur khusus.
Apa buktinya ? Sebutkanlah jika memang seperti ini ! Jelaskanlah kriteria-kriteria seorang mahasiswa yang berkualitas !. Bagaimana indeks prestasinya. Prestasi apa saja yang telah diraihnya ? Coba bandingkan, kalau mau dibanding-bandingkan. Apakah kualitas seorang mahasiswa hanya dilihat dari standar nilai akademik ?
Sekali lagi, menurut saya pernyataan Pa Djoko ini, kurang pantas untuk diucapkan, untuk mengatakannya tidak pantas. Sebetulnya saya tidak mau untuk membanding bandingkan, tetapi karena sudah terlanjur dibandingkan, ya saya coba untuk melihat kembali apakah benar yang diucapkannya itu. Karena saya tidak punya datanya, maka saya mencoba untuk meninjaunya dari sisi yang lain.
Apakah mental seorang mahasiswa penting untuk ditinjau sebagai salah satu kualitas? Sangat perlu menurut saya. Saat mahasiswa yang lulus melalui SNMPTN, dia telah teruji kepercayaan dirinya. Dia dengan berani mengambil resiko bahwa bisa saja dia tidak lulus SNMPTN dan harus mengulangnya tahun depan, jika tidak memiliki cadangan. Dia bertarung dengan begitu banyak calon mahasiswa lainnya dari seluruh penjuru Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Apakah masih diragukan keseriusan dia untuk masuk ke ITB ini?
Mengapa milih SNMPTN? Ya, karena jalur ini terjangkau oleh masyarakat. Oleh karena itu banyak yang menyebutnya sebagai jalur “rakyat”, karena memang lebih dekat dengan rakyat. Bagaimana mereka harus mengeluarkan sejumlah uang yang mencapai puluhan juta itu ? Dari mana uang sebanyak itu ?
Pada tahun 2008, jumlah peserta SNMPTN mencapai 378.054 siswa. Yang lulus sekitar 83.490 orang yang diterima di 57 PTN di Indonesia (snmptn.or.id). Dari jumlah itu, sekitar 41.145 lulus melalui jalur IPA dan 1160 diantaranya pada akhirnya diterima di ITB. Berapa banyak pesaing yang telah dikalahkan oleh 1160 lulusan itu ? Hal ini menandakan bahwa persaingan dalam SNMPTN sangat ketat dan membutuhkan kekuatan mental yang baik. Jika sejak awal dia tidak percaya diri, maka akan sulit untuk bersaing dengan ribuan siswa lainnya. Ini jelas membuktikan bahwa mereka yang masuk ke ITB itu adalah para pemenang dengan segala perjuangannya dalam meraihnya, termasuk dengan resikonya bila gagal.
Jumlah total mahasiswa yang diterima ITB adalah 2975 mahasiswa ada tahun 2008, dengan 1160 orang lulus melalui SNMPTN, 1535 melalui USM dan sisanya lewat jalur kemitraan. Bila kita ingin membandingkan porsinya berarti, 39 % SNMPTN, 51,6 % USM dan 9,4 % kemitraan.. Setiap tahunnya, porsi SNMPTN semakin berkurang. Kenapa ?
Salah satu faktornya adalah, mungkin semakin berkurangnya subsidi yang diberikan pemerintah kepada ITB. Pengesahan UU BHP pun bisa turut mempengaruhi. Selain itu kebutuhan akan peningkatan kualitas dan fasilitas juga ikut mempengaruhinya.
Terlepas dari hal itu, yang ingin saya soroti adalah bisa jadi ITB ini semakin jauh dari rakyat. Kenapa ? Jika yang masuk lebih banyak orang yang “berpunya”, maka gaya hidup orang yang berpenghasilan kemungkinan akan semakin terasa di kampus ini. Kendaraan pribadi pun mulai berdatangan setiap tahunnya. Dikhawatirkan kepekaan akan kondisi masyarakat semakin jauh. Karena sudah terbiasa dengan kondisi nyaman dan dapat dengan mudah memenuhi kebutuhannya, maka seorang mahasiswa akan semakin sulit untuk mengasah kepeduliannya terhadap realitas masyarakat Indonesia saat ini.
Sebetulnya saya yakin semua orang berharap supaya hal ini jangan sampai terjadi. Jangan sampai budaya konsumtif semakin menyebar di kampus ini, di saat masih banyak masyarakat yang kesulitan ekonomi, sulit meraih pendidikan, susah mendapat pekerjaan. Kita semua yakin kampus ini masih menjadi kampus yang dilihat dan dipandang dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Apa yang terjadi dengan ITB, apa yang dilakukan oleh ITB, dapat menjadi perhatian di masyarakat.
Jika ITB semakin jauh dari rakyat, bagaimana kedepannya ITB akan dipercaya oleh masyarakat Indonesia yang sangat berharap lulusannya dapat berkontribusi bagi bangsa ini ? bagaimana ITB dapat menyentuh hati rakyat jika kepekaan dan kepeduliannya semakin berkurang ?
Oleh karena itu, jadikanlah kampus ini menjadi teladan bagi kampus lain dan juga bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya melalui inovasi-inovasi teknologinya, tetapi yang lebih penting adalah teladan dalam karakter, teladan dalam moral, baik dari para mahasiswanya, dosen-dosennya, serta segala pihak-pihak yang ada di dalam ITB ini. Sehingga ITB dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang dapat berkontribusi dan memajukan bangsa Indonesia untuk dapat menjadi bangsa yang mandiri, memiliki harga diri, serta berbudi pekerti.
Di akhir tulisan ini, ingin saya sampaikan bahwa mahasiswa yang lulus melalui SNMPTN merupakan lulusan yang telah teruji dan tidak kalah dengan mahasiswa yang masuk ke ITB ini lewat USM.
“ Berdiam diri melihat kesalahan dan keruntuhan masyarakat atau negara berarti menghianati pada dasar kemanusiaan yang seharusnya menjadi pedoman bagi kaum intelegensia pada umumnya. “ – Muhammad Hatta –


liat knyataan di itb skrg…
mhsiswa lulusan USM GAK PASTI LEBIH BAIK drpd lulusan SNMPTN…
(SPMB aja ah,,kpnjangan kl SNMPTN)
jstru mahasiswa yg dulu lulus SPMB tu skrg kerja kerasnya pol bgt, krn telah melewati seleksi yg ketat yg disebut SPMB itu…
lagian,,kalo byk anak2 hasil USM,,brarti byk yg berduit kan?byk yg punya kendaraan?trus kl pada bawa ke ITB,ntar ditaro dimana???????
parkiran sipil?SR?blakang?salman?depan ITB?mana cukup???????
liat aja skrg parkiran mobil dan motor di tiap parkiran…
-pendapat pribadi-
setuju saya, yum. menurut saya (baca: mahasiswa lulusan USM) pernyataan tersebut cuma sebuah justifikasi yang mengada-ngada. memang betul mahasiswa lulusan USM melewati banyak poin penilaian dibandingkan mahasiswa SNMPTN (terutama dalam psikotes dan tes skolastik; karena kan kalau jebolah SNMPTN baru psikotes setelah dinyatakan diterima di ITB), namun kalau itu dijadikan sebagai tolak ukur kredibilitas, kok terdengar sangat picik sekali ya. Toh nyatanya banyak faktor yang menentukan kesuksesan perkuliahan seseorang, bukan hanya ‘bibit’ awal yang dibaca dari hasil ujian saringan masuk.
masalahnya adalah dUit, klo memang sistem penjaringan mahasiswa yang dipake USM ternyata terbukti lebih baik, ya udah genti aja sistem penjaringan yang dipake di SNMPTN dengan yang dipake di USM, beres kan? Jadi mahasiswa yang berkredibilitas tinggi, yg disampaikan pa Djoko di atas, didapatkan oleh ITB, dan semua golongan masyarakat terutama masyarakat kurang mampu pun dapat melanjutkan pendidikannya di ITB. SETUJU GAK????
Iya saya setuju.mungkin tingkat kepandaian siswa lewat SNMPTN kurang daripada siswa USM(USM terseleksi lewat tes IQ).tp jebolan SNMPTN mempunyai daya softskill yg tinggi yg justru dbutuhkn ddunia kerja.beda lewat jebolan USM yg kerjaannya hura-hura,main games(orang pintar kerjaannya gt).jd jangan dkurangi quota SNMPTN.kalo mslh biaya tinggal naikan Sumbangan SDPA.
salam.
terima kasih sudah menulis artikel ini. kebetulan adik saya lulus SNMPTN ITB dan diterima di fakultas STEI. sejak dia menginjak bangku kelas 3, saya memang sudah menyemangati dia untuk fokus pada SNMPTN. Mengapa? Karena jalur inilah yang memberikan pilihan kemungkinan pengeluaran biaya yang lebih murah dan sesuai dengan kemampuan finansial kami. selain itu, kami berpendapat, di jalur SNMPTN ini perjuangannya justru lebih keras dan persaingannya ketat. dengan kata lain, ada kebanggaan tersendiri jika dia berhasil menembus jalur ini.
alhamdulillah, setelah melewati bulan-bulan penuh latihan soal-soal, ditambah tekanan rasa was-was karena rumitnya informasi tentang biaya kuliah, akhirnya dia berhasil menembus fakultas yang dia inginkan.
namun demikian, ada yang mengherankan dari SNMPTN ITB ini. beberapa hari sebelum hasil SNMPTN diumumkan, adik saya menerima surat dari ITB yang isinya meminta kesediaan untuk menyumbang dana awal (uang pangkal) sesuai dengan kemampuan. pilihannya mulai dari 0, 5, 10, 25, hingga lebih dari 55 juta rupiah.
kamipun jadi was-was apakah sumbangan ini akan mempengaruhi proses seleksi masuk ITB. padahal sepengetahuan kami, calon mahasiswa yang mendaftar melalui SNMPTN akan diterima menjadi mahasiswa apabila nilainya mencapai standar yang ditetapkan. dengan kata lain, proses seleksi tidak mencakup faktor berapa jumlah uang yang harus kita bayarkan.
untungnya kepanikan ini tidak mewujud menjadi semacam aksi “pasang taruhan”. kamipun akhirnya menyumbang semampu yang kami bisa dengan pemikiran bahwa uang sumbangan ini toh nantinya akan digunakan untuk kepentingan adik saya, maupun untuk biaya subsidi silang bagi mahasiswa yang kurang mampu.
setelah menghitung kemampuan finansial yang ada, kami memutuskan untuk menyumbang 5 juta rupiah. salah seorang teman adik saya bahkan berani memilih menyumbang 0 rupiah. alhamdulillah, baik adik saya maupun temannya itu ternyata sama-sama diterima di ITB.
ada juga cerita seorang Ibu yang sudah dua kali mencoba mendaftarkan anaknya ke ITB melalui jalur USM yang memang diadakan dua kali, yakni USM pusat dan USM daerah. di dua jalur itu sang Ibu menyatakan kesediaan untuk menyumbang dana 100 juta rupiah. akan tetapi, karena hasil tes USM pusat dan daerah yang diikuti sang anak tidak sesuai standar ITB, maka anak tersebut tetap tidak lolos.
kami tidak tahu bagaimana sebetulnya proses seleksi yang berlangsung di ITB. tapi kami sangat berharap proses penerimaan mahasiswa ini sama sekali tidak berhubungan dengan jumlah uang yang disumbangkan.
menurut saya, rumitnya sistem pembiayaan kuliah dan adanya surat permintaan kesediaan menyumbang itu memberi kesan adanya komersialisasi pendidikan.
terlepas dari perdebatan yang ada, kami berharap di masa yang akan datang, ITB maupun PTN lainnya dapat menghilangkan stigma ini dan benar-benar mewujudkan pendidikan yang menjangkau semua kalangan.
sekarang adik saya sudah diterima di fakultas yang dia inginkan. kami hanya berharap dia bisa menempa diri dengan baik di sana dan meraih masa depan yang cerah. di samping itu, kami juga berharap, proses seleksi penerimaan mahasiswa akan lebih baik lagi di masa yang akan datang.