Ini adalah isi khutbah jum’at di masjid Junudurrahman (masjid TNI di jalan Aceh) oleh Ustad Muhtar, pada tanggal 25 Juli 2008 yang menurut saya bahasannya sangat menarik..
Salah satu bulan yang dimuliakan Allah adalah bulan Rajab. Pada bulan ini terjadi suatu peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad saw, yaitu Isra Mi’raj. Dalam peristiwa ini, Beliau melakukan perjalanan dari masjidil haram ke masjidil Aqsa, lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha yang kita tidak mengetahui ada di mana tempat itu. Nabi Muhammad bertemu dengan Allah di Sidratul Muntaha, lalu berdialog dengan Allah yang isinya selalu kita baca pada saat tahhiyat dalam shalat kita.
“Attahiyyatul mubaarakaatus shalawaatuth thayyibaatu lillaah. Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘alaa ‘ibaadillahish shaalihin. Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah…..”
yang artinya:
Nabi Muhammad : Segala kehormatan, keberkahan, dan kebaikan adalah milik Allah
Allah : Semoga keselamatan bagi engkau, wahai Muhammad, beserta rahmat dan keberkahan Allah.
Nabi Muhammad : Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita sekalian dan hamba-hamba Allah uang shaleh.
Para malaikat : Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan-Nya.. (HR. Muslim dan Ash-habus Sunan dari Ibnu Abbas)
Di sana Beliau mendapat perintah shalat 5 waktu bagi kaum muslim yang sampai saat ini Insya Allah kita tetap melaksanakannya dengan penuh keikhlasan. Di dalam gerak sholat terdapat inti sari yang bisa kita aplikasikan, yaitu perbuatan Hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan Hablum minannas(hubungan dengan manusia).
Hablum minallah dijelaskan dalam Takbiratul ihram yang kita lakukan dalam awal shalat. Di sini, kita mengucapkan Allahu akbar (Allah Mahabesar) yang berarti kita adalah sangat kecil dihadapan-Nya. Sedangkan Hablum minannas dijelaskan dalam salam kita pada akhir sholat. Dengan salam, kita berdoa kepada saudara muslim kita agar diberikan keselamatan dan rahmat dari Allah. Sesama muslim kita dianjurkan untuk mengucapkan salam ketika bertemu.Ini merupakan bentuk hubungan antar sesama manusia yang sangat baik.
Dalam menjalani hidup ini, kita harus melakukan kedua hubungan itu dengan sungguh-sungguh. Allah tidak akan memuliakan orang yang hanya berhubungan dengan Allah saja, tetapi dengan sesama manusianya di tidak memiliki ubungan yang baik. Allah pun juga tidak akan ridho kepada orang yang tidak mau berhubungan dengan Allah, walaupun dia berhubungan dengan baik dengan sesama manusia.
Jadi seimbangkan antara Hablum minallah dan Hablum minannas…
Wallahu a’lam..


terima kasih sharing info/ilmunya…
saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
silakan berkunjung ke:
http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html
salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/
Hubungan manusia dengan Tuhannya, merupakan suatu kemestian, karena manusia selalu menghajatkan sesuatu yang maha segalanya di luar dirinya, atas ketidak berdayaannya dan kekurangan yang ada pada dirinya.
Banyaknya bencana alam yang menimpa kita, mungkin saja karena kita hanya mengetahui adanya hubungan dengan Allah (Hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Hablum minannas). Tapi kita lupa bahwa selain itu juga, Allah telah menciptakan alam semesta, yang seharusnya kita sebagai manusia juga menjalin hubungan dengan Alam (HABLUM MINANLAM). Ini mungkin yang selalu terlupakan.
Kalau kita cinta Alam, kita bisa memperlakukan alam dengan arif, bijaksana tentu alam juga akan memperlakukan kita manusia dengan baik. Mudahan menjadi bahan perenunan.
@Bima : Terima kasih atas tanggapannya.. Betul sekali, kita harus bersahabat dengan alam. Akan benar-benar sempurna dan menjadi suatu keharmonisan yang luar biasa perpaduan antara hablum minallah, minannas, dan minanlam…