Feeds:
Posts
Comments

Setelah menunggu berdesak-desakan selama 20 menit di Halte Harmoni yang memang terkenal sebagai halte dengan penumpang terbanyak, akhirnya syukur alhamduliilah saya mendapat giliran untuk merasakan AC busway. Jujur, baru pertama kali saya melihat dan merasakannya sendiri mengantri di halte tersebut menuju jurusan Kali Deres, begitu dahsyatnya,  Seperti akan mengantri sembako atau menonton konser music.

Jika ingin digambarkan lebih detail lagi, posisi saya dan orang-orang sudah sangat berdempetan, bahkan tak bisa dipungkiri saling bersentuhan dengan sampirng kiri-kanan, atau depan-belakang. Saya sendiri membawa tas ransel dengan posisi menghadap ke depan sehingga dapat selalu terawasi . Sebetulnya saya baru menyadarinya ketika orang-orang di sekitar saya membawanya seperti itu. “ O ya, betul juga y…saya harus hati-hati,” pikir saya dalam hati.

Saya juga melihat keadaan saat itu begitu membuat petugas busway cukup kerepotan. Beberapa kali dia mengingatkan kita untuk tidak saling dorong. Dorongan dari belakang memang lebih terasa. Sekali dorong ke depan, efeknya seperti domini, jadi yang kasian yang udah hampiri di depan. Di depan masih agak tertahan karena tidak mungkn masuk busway buru-buru, langkahnya kudu hati-hati. Sementara di belakang udah tidak sabaran untuk merangsek ke depan. Yang terjadi adalah beberapa orang terhimpit. Saya melihat sendiri seorang bapak yang cukup terhimpit badannya sehingga posisinya sampai miring.

Belum lagi, saya melihat anak kecil yang terhimpit di pojokan jalur yang menyempit untuk masuk ke dalam busway itu. Anak itu memang tidak kelihatan awalnya, tetapi dia begitu ketakutan saat sudah melewatinya dan mencari ibunya. Orang-orang di sekitar situ sampai berkata, “Eh, itu anak-anak, jangan sampai digituin juga, “. Wah, seperti inilah keadaan di sore hari, bagaimana orang begitu merindukan busway di halte Harmoni ini. Memang seperti namanya Harmoni yang berarti harmonis. Orang memang selalu mengharapakan dan merindukan suatu kehidupan yang harmonis.. Sehingga orang-orang berbondong menghampirinya.

Siapa yang tidak merindukan suatu keharmonisan dalam kehidupan ? Siapa yang tidak menginginkan keharmonisan dalam berumah tangga, bermasyarakat, bebangasa, dan bernegara ? Saya yakin semua orang inign suatu kehidupan yang harmonis.

Jadi, mungkin ada hubungannya juga antara nama halte harmoni dengan suatu keharmonisan yang diharapkan oleh orang banyak. Berdesak-desakannya memang tidak menunjukkan suatu keharmonisan, tetapi bagaimana kerinduan akan keharmonisan itu ditunjukkan dengan berbondong-bondongnya orang mengantri di halte Harmoni.

Saat ini memang sepertinya bangsa ini kekurangan kerhamonisannya. Kurangnya rasa persatuan dan kesatuan semakin terasa, sebagaian orang lebih mementingkan dirinya sendiri, atau lebih mengutamakan kepentingan golongannya. Keharmonisan dalam kehidupan berbangsa kurang terlihat. Para pemegang kekuasaan dengan sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan kelompoknya. Orang kecil sulit untuk banyak “bicara” dalam negeri yang katanya menganut system demokrasi.

Ah,tapi itu hanya sementara. Saya yakin masih banyak orang-orang di negeri ini yang mendambakan keharmonisan itu dan berusaha dengan seluruh jiwanya untuk mencapai keharmonisan itu. Tidak hanya keharmonisan bagi dirinya sendiri, tetapi dia merangkul orang-orang di sekitarnya untuk berbagi kebahagiaan sehingga keharmonisan itu menjadi suatu ikatan yang kuat.

Maukah kita untuk membangun keharmonisan itu?

Semoga bangsa ini menjadi bangsa yang harmonis dalam menerusi perjuangan para pahlawan dahulu , sehingga keharmonisan itu dapat dirasakan oleh jiwa-jiwa dari setiap lintas generasi.

Perjalanan Latpimku…

Alhamdulillah..saya bersyukur kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.. Saya bersyukur sekali karena telah dapat menyelesaikan latihan Kepemimpinan Mahasiswa angkatan ke-IV tahun 2009 yang merupakan kerjasama ITB dan Kodam III Siliwangi.. Acaranya berlangsung dari tanggal 8 Juni-13 Juni 2009.

Subhanallah,,,luar biasa fantastis… Selama 5 hari dari Senin sampai sabtu, saya mendapat berbagai macam pengetahuan, hikmah, pelajaran, dan pengalaman yang sangat mantap. Dua hari awal, yaitu senin dan selasa, diisi dengan pemberian materi dengan metode ceramah. Banyak inspirasi yang menggugah saya pribadi dan teman2 saya yang lainnya. Materi yang juga menumbuhkan motivasi tersendiri dalam diri saya.

Materi pertama setelah pembukaan yang dihadiri oleh Panglima Kodam III SIliwangi dan Rektor ITB ini, langsung menggebrak diri saya. Materi ini bertemakan Jati Diri Bangsa, yang langsung dibawakan oleh Bapak Panlgima Kodam III Siliwangi, Mayjen TNI Rasyid Qurnuen M.Sc. Materi ini meumbuhkan jiwa nasionalisme para pendengar, terutama diri saya. Bagaimana bangsa ini punya harga  dan jati diri bangsa yang harus senantiasa ditegakkan. Apalagi saat Panglima menyinggung tentang Malaysia yang sekarang masih berselisih dengan Indonesia dalam kasus Ambalat. Panglima sempat mengatakan dengan berapi-api, “ Saya sendiri yang akan pimpin langsung pasukan untuk berperang di Ambalat, jika harus perang ! “. “ Kalian harus percaya denga TNI, jangan kalian takut ! Tapi jika Seandainya TNI sudah habis, apakah Kalian akan membiarkan negeri ini diserang? Apakah kalian akan mundur ? “ Serentak, kami yang sudah terbakar oleh ucapan-ucapan beliau, menjawab dengan semangat. “ Tidak !!”

Itu salah satu penggalan kata-kata yang menumbuhkan semangat kami, saat mengikuti latpim ini. Selanjutnya berbagai materi kepemimpinan dan motivasi disuguhkan panitia. Memang ada yang kurang bagus sehingga membuat mata ini harus berjuang untuk menahan ngantuk, akan tetapi secara keseluruhan materi-materinya oke.

Ada materi yang sangat bagus, yaitu tentang bagaimana pentingnya Emotional Intelligence (Kecerdasan emosi). Disini  kami dimotivasi oleh soerang trainer yang merupakan alumni ITB dari jurusan Fisika Teknik. Kami benar2 termotivasi untuk bisa mengenal diri kami dengan baik (know your self). Memilih mau ngapain (choose your self), dan mewujudkan cita2 (give your self). Semua ini diharapkan dapat membuat diri ini menjadi lebih baik dan bermakna baik bagi diri sendiri maupuan bagi orang lain.

Selain itu juga ada meteri yang sangat baik tentang Wira Usaha, bagaimana apapun bidangnya kita bisa menjadi seorang entrepreneur. Dari materi ini saya juga baru tahu kalau Wira itu artinya pahlawan. Sehingga Wira usaha, adalah usaha yang dilakukan dengan berlandaskan nila-nilai kepahlawanan. Sangat inspiratif…

Malamnya kami juga mendapat materi dari KPK…Ini juga sangat rame. Kami baru melihat bagaimana para pejabat KPK adalah orang-orang yang memiliki integritas yang sangat tinggi. Mereka semua menjunjung tinggi moralitas. Tentu hal ini diluar kasus Pak Antasari Azhar. Bayangkan, pembicacara dari KPK ini menyetir sendirian ke Lembang dari Jakarta hanya untuk memenuhi tanggung jawab untuk memeberikan materinya. Dia juga mengaku bahwa jika panitia memberikan amplop setelah acara selesai, maka dia harus siap-siap ditangkap oleh KPK. Waw !!.. Bahkan hanya untuk sekedat plakat pun, dia harus melapor ke atasannya untuk menerima plakat dari panitia. Dari materi ini, KPK mengajak kita smeua untuk turut membantu memberantas korupsi di negeri ini, turut untuk berkontribusi dengan menjunjung tinggi moralitas, dan punya integritas yang tinggi. Dalam akhir pembicarannya dia mengutip suatu penggalan dari bukunya Renald Kasali yang sangat inspiratif untuk saya.

Satu kata terindah: maaf

Dua kata terindah : terima kasih

Tiga kata terindah : Negeriku sedang bermasalah

Empat kata terindah :Negeriku sulit berubah

Lima kata terindah : Negeriku butuh Aku untuk Berubah.

Hari ketiga, kami belajar Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan latihan upacara militer. Saya sendiri merasa dilatih kesigapan dan terus  fokus saat berlatih baris-berbaris ini. Saya harus senantiasa konsentrasi terhadapat perintah komandan upacara.

Hari keempat dan kelima, saya dan teman2 menikmati berbagai pelajaran di lapangan alias kami ber-outbond. Mulai dari pengenalan dan berlatih menembak dengan senjata. Ya.. The Real Weapon !!.. Saya berlatih menembak senjata bertipe SS1- VS1..Senjata ini asli buatan Pindad yang merupakan pabrik yang mensuplai kebutuhan TNI-Polri dalam hal persenjataan. Dengan berat sekitar 3,9 kg, dalam posisi tiarap, tangan kanan siap menarik picunya, tangan kiri menopang bagian depan senjata, pandangan diarahkan ke sasaran melalui lingkaran di tengah2 bidikannya, itu semua merupakan pengalaman yang luar biasa.

Berbagai games yang meningkatkan kebersamaan, kerjasama, kreativitas, imajinasi, serta nilai2 kepemimpinan..menjadi santapan berikutnya. 10 games teman2.  Malamnya sesuatu yang membuat cukup merinding adalah CARAKA MALAM.  Ini adalah suatu kegiatan dimana kita harus menyampaikan pesan kepada yang ditujunya dengan berjalan sendiri sepanjang 2 km, tanpa senter ataupun lilin. Dengan interval 2 menit setiap orang dilepas dari posisi start sampai menuju finish melewati hutan yang memiliki pohon-pohon yang tinggi serta semak2 disamping kanan dan kiri.

Hal ini benar2 membuat suasana yang cukup mencekam dan membuat perasaan saya cukup takut. Yang paling mencekam adalah dari start awal sampai ke pos satu. Di sini benar-benar saya merasa cukup takut, walaupun sebenarnya saya pun sudah berulang kali meyakinkan diri bahwa harus percaya akan Allah. Tetapi mungkin inilah perasaan alamiah manusia yang pada dasarnya memiliki perasaan takut yang bersemayam dalam dirinya. Akan tetapi seharusnya perasaan ini tidak boleh ada, karena yang berhak ditakuti hanyalah Allah yang Maha Kuasa dan Besar.

Saya merasa saat menuju pos satu ini, saya mendengar seperti ada suara kresek-kresek, tapi itu ternyata hanyalah suara dari ponco saya yang saling bergesekan.. Belum lagi dengan adanya banyangan di samping kiri saya di tebing akibat pencahayaan dari kanan, membuat saya menduga2. Tapi untungnya bayangan itu hanyalah banyangan saya yang sedang berjalan. Saya ga bias memprediksi klo ada bayangan lain ataupaun bayangan itu tidak bergerak… Wah bias lari terbirit-birit saya.. Tapi Alhamdulillah semau lancer-lancar saja, karena setelah di pos satu saya bertemu dengan teman2 sy yang lainnya, sehingga kami memutuskan untuk berjalan berbarengan..Ini membuat perasaan saya semakin tenang.

Berjalan menempuh hidup ini sendirian memang tidak enak, kita memang butuh orang lain untuk mendampingi kita dalam mengarungi kehidupan ini. Dengan begitu perasaan kita akan semakin tenang.

Besoknya kami kembali ke tempat outbond untuk melakukan personal games.. yaitu tantangan-tantangan yang membutuhkan keberanian dan kekuatan fisik kita. Kalau kemarin lebih kepada kebersamaan , sekarang tentang kemampuan diri sendiri. Ada permainan flying fox, jembatan Elvis, turun tebing, spider web, dan menyebrang dengan tali. Sayangnya saya tidak dapat mencoba jembatan Elvis dan meneybrang dengan tali, karena mepetnya waktu.

Selain itu kami juga bermain simulasi perang, dalam permainan paint ball, yaitu perang dengan menggunakan senjata yang diisi oleh peluru cat. Jika terkena tembakan maka peluruh tersebut dan pecah meninggalkan noda cat di tubuh kita. Jika dilihat, sepertinya mudah, akan tetapi dalam prakteknya ternyata sulit dan cukup melelahkan. Saya sepertinya terlalu takut untuk ditembak, sehingga saya menjadi cukup panic jika berhadapat dengan musuh, padalah musuh pun belum tentu benar nembaknya..

Saya jadi teringat dengan lagunya “Soe Hok Gie” yang berjudul “ Gie”..dalam liriknya :

Berbagi waktu dengan alam,

Kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya

Hakikat manusia

Tak pernah Berhenti Berjuang

Ketika berada di alam, manyatu dengan hutan dengan pohon-pohonnya dan tanah asli pegunungan, saya baru menyadari siapa diri saya yang sebenarnya.. Ternyata saya seorang yang memiliki rasa takut, terlihat dalam Caraka Malam. Ternyata saya juga orang yang kurang sabar, terlihat dalam simulasi perang paint ball dan games2 lain. Tapi dibalik itu semua, terdapat suatu perasaan yang ingin menghilangkan semua itu, yaitu perjuangan untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih berani dan menjadi lebih sabar dan tenang. Dan ini yang mungkin disebut sebagai hakikat manusia. Selalu punya keinginan untuk lebih baik.

Malamnya ada solo camp, yaitu kita ditinggal sendirian di hutan sambil mengerjakan tugas yang telah ditentukan dalam waktu sekitar 30 menit, lalu dijemput kembali oleh pelatih. Setelah itu kami refreshing sebagai bentuk apresiasi dari apa yang telah dilakukan selama 5 hari penuh yang selanjutnya ditutup dengan renungan malam.

Sekali lagi saya bersyukur kepada Allah atas semua yang telah diberikan kepada saya. Pokoknya rame lah.. Kami semua puas terhadap semua yang kami peroleh. Kedisiplinan, kebersamaan, kerja sama, kesigapan, fokus, kepemimpinan, keberanian, serta kesabaran, menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami semua.

Yang terpenting dari ini semua adalah aplikasi dalam keseharian saya. Saya harus berubah menjadi lebih baik. Saya harus bisa memimpin diri saya dahulu sebelum memimpin orang lain. Saya harus bisa mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk saya dengan kebiasaan-kebiasaan yang lebih positif. Oleh karena ini dibutuhkan suatu konsistensi dan komitmen yang kuat untuk mewujudkannya.

Ya Allah. berikan kami kekuatan untuk dapat mewujudkannya dalam rangka ibadah kami kepada-Mu, ya Allah, Wahai Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Naek Delman euy…

Kapan terakhir Anda menggunakan delman sebagai moda transportasi ? menggunakan transportasi bukan untuk Delmanrekreasi ? Wah,,emang masih ada ya di jaman modern seperti ini ? Di kota Bandung yang padat ini, masih ada gitu ?

Ternyata masih ada, teman-teman. Saya baru saja menggunakannya kemarin selasa (2 Juni 2009). Bukan untuk berekreasi dengan keluarga, ataupun mutar2 di jalan ganesha, tetapi sebagai alat transportasi. Moda ini masih ada di daerah Gunung Batu.. Jelas ini masih di kota Bandung.

Kemarin saya harus ke poltekkes di Gunung Batu untuk mengisi pelatihan Auto Cad di sana. Untuk sampai ke depan kampus itu, harus menggunakan ojeg atau delman. Angkot tidak sampai ke daerah sana. Pada perginya saya menggunakan ojeg, karena khawatir terlambat waktu di sana. Saya harus ada di tempat pukul 16.00. Apalagi saya belum pernah ke sana sebelumnya, jadi saya ga mau untuk mengambil resiko. Dengan ojeg saya harus membayar Rp. 4000. Menurut saya,  ya wajar, krn cukup jauh juga.

Ketika di sana, saya diberi tahu, klo menggunakan delman, Cuma bayar Rp. 1000 !!!. Wah, murah banget pikir saya. Lalu saya berjanji, ketika pulangnya saya harus menggunakan delman. Selain hemat, saya juga sudah lama tidak memakai delman. Tidak ingat kapan terakhir saya menggunakannya. Jadi, kenapa ga dicoba saja…

Saat jam 18.30, selepas maghrib,  saya balik dari kampus itu. Lalu menunggu sebentar dan akhirnya ada delman yang lewat. Lalu tanpa ragu saya menaikinya. Wah, agak sempit..Sepertinya satu delman hanya muat untuk 4 orang dewasa, termasuk kusirnya. Di delman itu saya bertiga, udah sama kusirnya. Duduk saya harus dimiringin, ga kayak di angkot lurus juga bisa. Belum lagi tas saya yang agak besar, membuat duduknya harus benar-benar disesuaikan..

Selama di jalan, koq saya agak kasihan dengan kudanya ya. Berjuang menyusuri jalan yang berlobang-lobang, menerima pecutan dari kusir, terus berlari, kadang juga harus menanjak.. Saya merasa jadi ga tega.. Beban yang cukup besar, harus diangkut oleh seekor kuda..

Tapi, mungkin memang sunnatullahnya seperti itu.. Terkadang saya mungkin terlalu kasihan kali ya…

Sekitar 10 menit saya naik delman.. Penumpang lain membayarnya 1000 rupiah.. Dalam hati saya, koq agak kurang pas klo 1000 rupiah, padahal kan cukup jauh juga. Apa karena ga pake bbm, jadinya murah ? Apa karena  rumput, bisa didapat gratis ? Tapi saya merasa tidak sepadan. Akhirnya saya membayar 2000 rupiah. Mudah2 cukup adil, untuk kebutuhan Kusir tersebut.

Walaupun harus sempit-sempitan, saya cukup menikmati berada di atas delman itu. Benar-benar merakyat. Hembusan angin yang menerpa wajah, goncangan akibat jalanan yang berlubang, bunyi “sepatu” kuda, itu semua memadukan menjadi suatu bentuk keindahan tersendiri. Sudah lama tidak merasakan naik delman seperti ini. Seperti di desa yang sunyi, memandang pemandangan nan indah. Memang saat itu telah malam, tapi tetap saja saya merasakan sesuatu yang lain.

Sempat terlintas dalam pikiran saya, sepertinya malu-maluin naek delman seperti ini. Tapi kenapa harus malu ?

Integritasku Diuji

Kepercayaan akan tumbuh apabila saya dapat membuktikannya bahwa saya memiliki integritas. Saya merasa ingin dapat membayar kepercayaan teman-teman saya terhadap apa pun itu dengan usaha dan perjuangan yang saya lakukan. Memang berat untuk membuktikannya. Begitu banyak godaan dan ajakan untuk bersantai-santai. Akan tetapi hal tersebut insya Allah akan dapat diatasi dengan baik..

Saya ingin mencoba menyelesaikan hal-hal kecil yang mungkin dikira sepele, tetapi itu sangat mempengaruhi yang namanya kepercayaan tadi. Sekali saja saya meremehkannya, maka akan cukup sulit untuk mengembalikannya. Mungkin hal ini tidak terlalu dirasa saat saya masih kuliah, walaupun saya mungkin mulai merasakannya. Apalagi jika hal tersebut terjadi di dunia luar sana, setelah kuliah. Bertemu dengan berbagai macam orang dengan latar belakang yang jauh lebih berbeda. Sedikit saja kita melakukan suatu hal yang merugikan orang lain, maka integritas kita akan turun.

Saat di kuliah ini, integritas kita mungkin tidak terlalu diuji, karena masih dipengaruhi oleh pertemanan. Sebuah keakraban atau pertemanan terkadang membuat saya menjadi tidak punya integritas. Muncul sebuah anggapan, “ Ah, santai saja, dia pasti ngerti kok. Dia kan teman saya. Gak apa apa klo saya tidak mengerjakannya. Pasti dia memaklumkannya. “

Tapi sebenarnya hal tersebut sangat mempengaruhi diri saya. Apa yang saya pikirkan, mungkin tidak dipikirkan oleh orang lain. Anggapan saya tentang itu, mungkin ditanggapi yang berbeda oleh teman saya. Mungkin dia tidak mengekspresikannya dalam tindakan dan sikapnya, tetapi hatinya mungkin tidak bisa dibohongi. Dia tidak mau memperlihatkannya kepada saya, karena pertemanan yang telah terjalin.

Jadi, saya berusaha untuk dapat melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Memang saya harus bisa menempatkan dengan baik dan bijak antara pertemanan dan pekerjaan yang harus diselesaikan. Hal ini melatih diri saya, agar jangan sekali-kali saya meremehkan hal-hal kecil. Karena hal-hal besar dibangun dari hal-hal yang kecil.

Rasanya ingin..

Perasaan ingin dihargai, perasaan ingin diakui oleh orang lain, dan perasaan bahwa kita telah melakukan sesuatu bagi orang lain adalah suatu perasaan yang mungkin pernah dirasakan oleh setiap manusia, termasuk diri saya ini.

Manusia, pada dasarnya memiliki egonya masing-masing yang menginginkan dirinya diakui oleh lingkungannya, termasuk saya. Segala usaha yang telah kita lakukan, rasanya ingin ada orang yang menghargainya. Segala pengorbanan yang telah kita keluarkan, rasanya ingin ada seseorang yang membicarakannya.

Tapi, untuk apa semua itu kawan ?

Setelah kita mendapatkannya itu semua, apa yang akan kita lakukan ? merasa senangkah ? merasa banggakah ? merasa diri ini melayang-layang ? Apakah dengan itu semua membuat kita semakin ingin diakui terus menerus ?

Rasanya tidak kawan. Saya seharusnya berpikir kembali, bahwa apa yang didapat pada diri saya ini, apa yang saya peroleh selama ini, segala kesuksesan, segala kebaikan, adalah dari Allah. Adalah nikmat yang Allah berikan kepada saya. Adalah anugrah yang sudah sepatutnya saya mensyukurinya. Bukan seolah-seolah itu milik saya. Bukan seolah-seolah hasil yang diperoleh itu hanya merupakan jeri payah diri saya. Tetapi ada yang memberinya. Allah lah, Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia lah yang memberikannya kepada saya.

Sehingga, segala apresiasi ataupun pujian yang diberikan, sudah sepantasnya kita kembalikan kepada Yang Maha Terpuji, kepada Yang Maha Agung, kepada Sang Khaliq, yaitu Allah SWT. Seringkanlah diri ini untuk melantunkan bacaan hamdalah :

“ Alhamdulillaahi Rabbil Aa’lamiin ”

(segala puji baga Allah, Tuhan semesta alam)

Tak hanya hamdalah, tetapi mohon ampunlah kepada-Nya. Karena sebetulnya segala pujian itu mungkin hanya sebatas penutup aib diri kita yang dilumuri oleh dosa. Oleh karenanya, marilah kita ucapkan selalu istighfar  :

“Astagfirullahal adziim “

(Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung)

Tak usahlah diri saya ini memikirkan apa yang akan diberikan oleh orang lain, tak usahlah berharap sesuatu dari orang lain, tetapi pikirkanlah apa yang bisa saya berikan bagi orang lain, dan yang terpenting adalah saya harus membuat hari-hari saya penuh dengan makna, menjalaninya dengan ikhlas kepada-Nya serta, mengisinya dengan memberikan cinta kepada sesama.

“ Karena cinta adalah saat kita dapat memberikan kebaikan, kebahagiaan, dan senyuman dengan tulus kepada orang lain.”

Perjalanan saya dari rumah ke kampus ITB, dapat ditempuh hanya dengan satu angkot, pakai angkot yang warna pink. Saya lupa apa nama jurusannya, klo ga salah simpang dago-bumi panyileukan. Rutenya dari Sukamiskin-Cicaheum-Suci-Pasar suci-Gasibu-Dago. Ongkosnya sekitar 3000-3500 sekali jalan, ditempuh sekitar 30-40 menit klo tidak banyak ngetem. Biasanya saya pun pakai angkot itu klo ke kampus..

Akan tetapi jumat ini saya tidak menggunakan angkot pink, tapi angkot putih kuning yang nama jurusannya Panghegar-Dipatiukur. Warna-warna angkot yg saya sebutkan tadi tidak ada hubungannya dengan partai politik..hehe. Kenapa saya pakai angkot putih-kuning?

Di sekitar masjid pusdai klo hari jumat tuh biasanya ada pasar jumat yang bisa membuat macet jalan menuju ke pusdai itu. Gara-gara itu, saya jadinya make angkot yang rutenya agak muter dulu. Memang cukup sekali saja dari Cicaheum-ahmad yani-sukabumi-riau-masjid istiqamah-belakang gedung sate-diponegoro-taman sari-sampai ke jalan ganesha. Lumayan agak jauh dan lebih lama. Tapi klo jumat, akan lebih cepat jika pake angkot putih-kuning, sekitar 45 menit.

Tapi jumat ini, ada yang beda. Saya naik angkot putih-kuning ini 3 kali. Saya ganti dua kali angkot ini di jalan jakarta, dan deket masjid istiqamah. Padahal angkotnya sama. Pada pergantian yang pertama, saya diturunkan oleh sopir angkotnya karena tidak ada penumpang lagi kecuali saya. Saya pun membayar Rp 2000. Sepertinya dia mau langsung muter kembali ke ahmad yani dan tidak melanjutkan seperti rute sebenarnya.

Pas pergantian yang kedua, sopirnya kembali menurunkan saya dan satu penumpang lagi karena akan di-charter oleh anak-anak SMP yang butuh dua angkot ke Cimbeuluit (terdengar dari percakapan sopir dan anak2 SMP itu). Akhirnya saya harus rela turun untuk mengalah kepada anak-anak SMP itu. Tapi yang menarik saya tidak perlu bayar alias gratis. Terima kasih Pak sopir ya…

Akhirnya saya naik angkot putih-kuning untuk yang ketiga kalinya. Alhamdulillah untungnya saya tidak diturunkan lagi di suatu tempat lagi sampai akhirnya saya samapi di kampus.

Apa yang menarik dari pergantian angkot tadi ?

Saya melihat para sopir angkot itu telah memikirkan peluang untuk mendapatkan pendapatan lebih dengan tidak harus selalu patuh dengan rute dari ujung ke ujung.

Pada pergantian pertama, sopir tadi telah memilih untuk memutar balik angkotnya daripada harus melanjutkannya. Dengan kembali ke daerah Cicaheum, dia akan bisa mendapatkan penumpang lebih banyak ketimbang lewat jalan Riau. Karena memang masih cukup pagi saat itu sekitar jam 8.30. Jam segitu masih cukup banyak orang yang belanja ke pasar baik di Cicaheum maupun di ahmad yani.

Beda lagi pada pergantian yang kedua, dia melihat peluang emas bahwa mobilnya di-charter. Jelas ini sangat menguntungkan dan akan sangat rugi jika peluang ini dibuang percuma. Saya sempat mendengar sopir ini menawar Rp 75000 sampai ke Cimbuleuit. Jika dibagi 14 orang, berarti sekitar Rp5300-an per orang. Waw…bagi saya agak cukup mahal dari Masjid Istiqamah ke Cimbuleuit seharga itu. Tapi saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

Saya melihat dari dua pergantian tadi, para sopir angkot benar-benar berusaha untuk mendapatkan pemasukan yang banyak dan mencari strategi bagaimana pengeluaran untuk bensi dapat benar-benar dimanfaatkan untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya. Hal ini juga menandakan bahwa sebetulnya pemasukan mereka pas-pas an per harinya untuk membayar bensin dan setoran per harinya.

Oleh karena itu insya Allah saya rela jika jumat itu saya diturunkan dua kali. Saya menganggapnya sebuah hal yang wajar. Hal ini seharusnya juga dapat mengetuk hati saya bahwa saya harus berusaha mengerti keadaan mereka. Para sopir angkot harus terus berjuang untuk mendapat pemasukan. Memang agak membuat kita kesel dan menjadi tidak sabaran klo angkot yang kita naikin ini ngetem.

Ya,memang seperti itu keadannya. Saya harus dapat lebih mengerti dan bersabar..

Biarlah…

Hari ini, siang ini, terasa begitu panas. Jam 11-an menuju matahari berada persis di atas kepala, terik mataharinya sangat menyengat, sehingga keringat keluar dari leher saya. Panasnya akan semakin panas karena adanya debu-debu yang bertebaran di udara disertai asap-asap kendaraan bermotor yang kurang sehat. Beginilah keadaan Bandung pada hari ini. Sepertinya efek pemanasan global benar-benar terasa di Bandung ini. Global warming in Bandung. Udara di kota ini sudah tidak lagi sesejuk dahulu.

Selain panas, ternyata perjalanan saya menuju ke rumah diwarnai kemacetan di jalanan. Penuh dengan mobil dan motor yang ingin menikmati hari sabtu ini. Macet yang membuat saya begitu lelah dan tidak nyaman, karena memang saya agak cukup letih hari ini, karena malamnya ada acara training yang membuat saya hanya tidur 2 jam.

Dua kondisi yang saya rasakan siang itu, panas dan macet.

Akan tetapi saya berharap, semoga keadaan hati saya saat ini tidak sedang panas, melainkan tetap menyejukkan baik bagi diri saya sendiri maupun bagi orang lain. Biarlah udara kota ini begitu panas, akan tetapi hati tetap sejuk. Biarlah sinar mentari begitu teriknya , tetapi hati tetap memberikan kenyamanan bagi diri saya.

Semoga juga jalan pikiran saya tidak macet, melainkan tetap lancar dan dapat berpikir dengan jernih. Biarlah kondisi jalanan macet, tetapi pikiran saya tetap lancar. Biarlah mobil dan motor memenuhi jalanan, akan tetapi saya tidak akan biarkan pikiran-pikiran negatif memenuhi pikiran saya.

Jadikanlah hidup ini penuh dengan kemuliaan dengan memiliki hati yang sejuk dan pikiran yang jernih..

Dahulu saya kesel banget kalau juventus kalah. Rasanya kecewa kalau “Si Nyonya Tua” mainnya ga bener dan membuatnya kalah. Apalagi kalau gagal menjuarai liga italia, serie A. Tapi sekarang, rasanya jadi biasa-biasa saja klo juventus kalah. Ya sudahlah, namanya juga permainan sepak bola.forza-juve

Saya adalah penggemar berat juventus sejak SD , bahkan sejak zaman Gianluca Vialli dan Fabrizio Ravanelli masih main di juventus. Hampir setiap pertandingan juventus, saya tonton, klo disiarkan. Jam berapau juventus main, saya usahakan nonton. Sampai sekarang pun seperti itu, saya tetap seorang juventini, tapi kadar fanatisme saya agak berkurang.

Melihat kondisi permainan juventus yang agak menurun belakangan ini, sempet membuat saya kecewa. Performa Gianluigi Buffon dan para bek-bek juventus, memang tidak menampilkan penampilan terbaiknya. Awalnya sudah peringkat dua, terpaut 3 angka dari inter milan, dan jauh unggul dari peringkat tiga Ac Milan, eh sekarang justru mulai kalahan dan susah banget meraih kemenangan. Bahkan dua pekan lalu udah kesusul Ac Milan. Kemarin aja lawan Reggina (tim terancam degredasi), seri 2-2.

Ada apa dengan juventus ?

Tapi saya menganggapnya biasa-biasa aja. Ga mungkin tim kesayangan saya menang terus.

Saya hanya ingin mengomentari juventus yang masih banyak dihuni oleh para seniornya saat ini. Bukannya ingin mendepak mereka, tapi sudah saatnya juventus benar-benar memaksimalkan para pemain mudanya. Dari 11 pemain inti, hanya Chiellini, Molinaro dan Marchisio, yang benar-benar muda. Yang lainnya berusia di atas 28 tahunan. Giovinco yang disebut-sebut sebagai pengganti Del-Piero, juga lebih sering sebagai cadangan dan baru dimasukkan pas babak kedua.

Saya juga agak heran dengan manajemen juventus yang “doyannya” mendapatkan pemain yang sudah tua. Mengambil pemain yang sudah bebas terikat kontrak, seperti Olof Mellberg, tapi dia itu udah 30-an. Belum lagi terdengar klo juve mau ngambil Fabio Cannavaro dari Real Madrid. Dia bisa didapet dengan gratis, karena kontraknya udah habis dengan El-Real. Tapi dia itu sudah 35 tahun. Apalgi bagi seorang bek, dibutuhkan pemain-pemain yang masih punya konsentrasi tingkat tinggi dan masih memiliki kecepatan. Nah, kayaknya klo yang udah diatas 30an, itu sudah menurun kecepatannya.

Memang julukan juve itu kan “SI NYONYA TUA”…mungkin harus mulai diganti jadi “SI NONA MUDA”…biar juve belinya yang “hot prospect for the future” (kayak di game Championhip Manager”

Saya sih, mengharapkan musim depan ,juve beli pemain-pemain muda, kayak arsenal. Ya,,klo mau beli yang agak terkenal, jangan yang sudah di atas 30an.

Forza Juventus….Bravo Juventus..!

Anak Kecil MEROKOK…!!

Tadi saya melihat anak kecil sedang duduk di sebuah kursi plastik. Saya melihatnya saat sedang membeli bubur kacang ijo di depan parkiran sipil. Ada apa dengan anak itu ? anak itu kira-kira berumum 10-12 tahunan. Apa yang membuat saya sampai menulisnya dalam tulisan ini ? Apa yang membuat saya menaruh perhatian khusus kepada anak ini ?

Ternyata anak kecil ini….MEROKOK !!!

Ya…dengan santainya sambil duduk, memegang puntung rokok, lalu menghisapnya , kemudian mengeluarkan asap dari mulutnya. Terlihat menikmati sekali…

Aneh tidak ? pantas tidak ?

Menurut saya sangat tidak wajar. Ssangat prihatin melihatnya.

Seorang Generasi penerus bangsa Indonesia, yang masih kecil, sudah merokok ? kok bisa ? dapet darimana ? siapa yang ngasih ? apakah orang tuanya mengetahuinya ?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiran saya kala itu…

Sangat tidak bertanggung jawab sekali orang yang menawarinya rokok. Sangat tidak manusiawinya, orang yang dengan bangga memberikan rokok itu kepada anak kecil itu. Saya yakin tidak mungkin anak kecil itu akan merokok, klo ada orang yang melarangnya untuk menggunakannya.

Saya berdoa semoga anak tadi segera berhenti merokok…

Bagaimana sih moral atau akhlak bangsa Indonesia saat ini ? Udah baguskah ? atau masih jelek ? Apakah lebih banyak yang sudah berakhlak baik atau yang belum bermoral dengan baik ? Karena moral baik atau akhlakul karimah inilah yang menurut saya sangat penting untuk dimiliki oleh setiap diri manusia Indonesia. Ini juga yang dapat menentukan kemajuan bangsa ini..

Pendidilan moral atau akhlak memang harus dilakukan sejak dini. Paling awal, pendidikan memang harus dilakukan dari lingkungan keluarga, karena di dalam keluargalah, orang-orang terdekat berada bersama kita dan senantiasa berinteraksi sejak kecil.

Seiring berjalannya waktu, dimana anak sudah mulai dewasa, dimana mungkin interaksi yang dilakukan lebih banyak di lingkungan luar, seperti sekolah atau kampus, atau lingkungan kerja, sehingga orang tua tidak bisa mengontrol terus menerus, pendidikan akan akhlak itu bagaimanapun harus dapat berjalan. Dan dari mana kita bisa mendapat pendidikan moral itu ? Kita yang harus mau mencarinya dan kita juga harus mau memulainya dan menerapkannya..

Saat kita sudah tidak peduli dengan akhlak kita, saat kita sudah tidak memikirkan lagi bagaimana kita bersikap sehari-hari dalam kehidupan kita, maka tinggal tunggulah kebobrokan bangsa ini. Saat kita sudah rela untuk melanggar etika dan norma-norma yang berlaku, bahkan kita mengaggap pelanggatan itu adalah suatu hal yang wajar, maka kita harus berhati-hati, bahwa cita-cita bangsa ini untuk menjadi bangsa yang maju dan mempunyai harga diri, akan menjadi mimpi-mimpi belaka.

Kita yang harus mulai sadar akan pentingnya akhlak yang baik ini. Hal-hal mengenai kejujuran, toleransi terhadap perbedaan, saling menghormati, mampu mengendalikan emosi, dan profesionalitas sudah sepatutnya kita menaruh perhatian yang lebih. Bukan saja hanya memberikan perhatian, tetapi kita pun harus mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sepertinya masalah apapun dalam bangsa ini, akan terselesaikan jika semua warganya mempunyai akhlakul karimah. Orang pintar, tapi curang, akan banyak menipu orang. Orang ahli ekonomi tanpa sikap jujur, dengan mudah mengeruk kekayaan negara dan tanpa rasa bersalah melakukan korupsi. Seorang pejabat atau politikus tanpa kerendahan hati akan senantiasa bernafsu meraih kekuasaan dan semakin lupa akan dirinya. Seorang engineer yang tak memiliki moral yang baik, akan mencari-cari cara agar bisa meraih keuntungan dengan merekayasa perhitungannya sehingga melanggar aturan dan merugikan orang lain.

Untuk melakukan suatu perubahan bangsa ini untuk mejadi lebih baik dan bermartabat, tak ada cara lain selain kita semua bersedia merubah keadaan yang ada diri dengan memperbaiki akhlak kita menjadi lebih baik dan meningkatkan kualitas pribadi kita.

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan diri mereka sendiri. “ (Ar-Ra’du : 11)

Insya Allah..negeri ini akan menjadi negeri yang makmur, sejahtera, dan diberkahi oleh Allah.. menjadi negeri yang baik (baldatun tayyibatun). Sehingga para pahlawan bangsa dahulu yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini bisa tetap tersenyum melihat negeri ini tetap merdeka. Merdeka dari berbagai kejahatan, merdeka dari kebobrokan moral dan merdeka dari kezhaliman..

Older Posts »